Tuesday, April 14, 2020

Tikus-Tikus Rumah, dan WFH

April 14, 2020 1 Comments
Picture from Pinterest

                Kalau ditanya tips unik apa yang bisa dilakukan selama masa karantina ini, saya punya dan mungkin bisa teman-teman coba.
                Jadi ceritanya  kemarin , ketika rebahan sambil share tugas sekolah anak-anak yang satu bulan terakhir ini dirumahkan. Saya mendengar teriakan orang rumah yang ketika dihampiri masing-masing sudah siap dengan alat tempurnya mulai dari sapu, sapu lidi hingga pel an. Eitsssss…. Alat-alat itu justru tidak digunakan untuk membersihkan rumah dan semua sudutnya.
                “Lah….. terus buat apa?”
                “Untuk berburu tikus rumah”
                Mungkin tidak semua orang merasa bermasalah dengan kehadiran mereka . Tapi sebagian besar orang termasuk saya merasa sangat bermasalah dengan gangguan yang ditimbulkan dari kehadiran para tikus rumah.
                Bau tidah enak, barang – barang yang tiba tiba hilang  karena di seret ke semua sudut rumah yang tidak terjamah manusia. Seperti kolong meja atau tempat tidur, di belakang mesin lemari pendingin hingga di bawah mesin cuci. Juga pakaian yang rusak karena digerogoti mulut tajamnya. Tidak hanya itu, kepanikanakan muncul ketika si tikut melintas begitu saja dihadapan kami membuat kehebohan tak terelakan.
                Didasari itu, Kemarin pagi kami mengisi masa WFH dengan sesuatu yang berbeda dari biasanya, yaitu berburu tikus –tikus rumah. Di awali dengan ketidak yakinan akan hal itu kami memberanikan  diri memberi reaksi atas kejengahan yang dirasa sudah cukup lama ini.
                Jengah??, ya….. sudah berbagai cara dilakukan untuk mengusir para tikus termasuk menyebar jebakan-jebakan agar meminimalisir kehadiran mereka. Hasilnya nol besar, hingga puncaknya adalah kemarin setelah beberapa hari lalu seisi rumah di bersihkan dan menciptakan suasana lebih nyaman. Tiba-tiba sang tikus rumah yang tidak  ditemukan sebelumnya justru dengan terang-terangan melintas dihadapan kami dan seolah mencari tempat untuk dijadikan sarang baru bagi mereka.
                Alhasil, kami memutuskan untuk menutup semua akses keluar masuknya para tikus tersebut. Mulai dari menutup semua  lubang yang mereka ciptakan di banyak sudut ruangan, menutup beberapa plafon yang juga sudah terlanjur berlubang. Dan yang terakhir memburu para tikus rumah yang masih berkeliaran dan membunuhnya.
                Agak mengerikan memang mendenga kata membunuh itu. Tapi dari apa yang pernah saya dengar serta beberapa literatur yang pernah di baca. Mengingat tikus merupakan hewan perusak yang merugikan, maka kita di perbolehkan untuk membunuhnya namun tetap memperhatikan cara  membunuhnya.
                Jadilah Work From Home hari kemarin diisi dengan berburu tikus rumah. Dengan senjata alat kebersihan seadanya kami mengeksekusi para tikus di tengah ketakutan semua orang rumah. Jelas saja, diantara kami tidak ada yang berani memegang tikus, bahkan sekedar tidak sengaja mengenai tubuhnya ketika tikus melintas, kami akan heboh luar biasa.
                Dan hari kemarin, di tengah ketakutan itu kami memperoleh keseruan setelah hampir satu bulan menjalani seluruh aktivitas #dirumahaja. Apa yang membuat ketakutan menjadi keseruan?, yaitu proses perburuan yang diwarnai gelak tawa karena tingkah masig-masing dari kami yang berusaha tetap melindungi diri dari kontak langsung dengan para tikus rumah.
                Mungkin teman-teman mau mencoba menghibur diri sekaligus meminimalisir keberadaan tikus yang sangat merugikan di dalam rumah. Ini patut di coba J.

Friday, April 10, 2020

Kekuatan Kalimat Mama

April 10, 2020 3 Comments
Arsip Pribadi 


              Bagi kita yang tidak terlahir dari keluarga dengan kemampuan menjamin serta memfasilitasi segala jenis kebutuhan mulai dari primer, sekunder hingga tersier, tentu untuk memenuhi apa yang kita inginkan menjadi sesuatu yang tidak cukup mudah. Dengan kata lain kita perlu usaha lebih keras dari mereka yang telah terjamin segala bentuk kebutuhan tersebut.

            Seperti hal nya dalam hak memperoleh pendidikan setingi-tingginya.  Jika mereka terlahir dari keluarga yang  dikatakan kaya, mungkin akan lebih mudah  untuk mewujudkan keinginan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Bagi yang tidak seberuntung itu, dengan kata lain terlahir dari keluarga kurang mampu tentu kita harus lebih keras memutar otak bagaimana agar terpenuhi keinginan tersebut. Contoh nya mencari beasiswa atau justru dengan berat hati harus menunda.

              Saya tidak sedang membahas siapa yang beruntung atau tidak dalam hal ini. Justru  saya akan berusaha mengenyampingkan fakta tersebut, karena hakikatnya terlahir dari keluarga seperti apapun semua berkesempatan memperoleh pendidikan hingga jenjang yang paling tinggi sekali pun.

                “Tapi kan sekolah butuh biayabesar?”

                “Beasiswa?, emang gampang dapet beasiswa?”

               Fakta itu juga benar adanya, biaya pendidikan yang terbilang mahal serta tidak mudahnya seseorang memperoleh beasiswa tentu menjadi tantangan tersendiri. Tidak hanya itu, fakta ini juga membangun ketakutan individu untuk bermimpi dan berharap meraih apa yang dicita-citakan.

            Terlepas dari itu semua, dari apa yang pernah terjadi dan saya alami dalam proses menempuh perjalanan memperoleh pendidikan. Saya berfikir bahwa kita hanya perlu memiliki lingkungan yang tepat, positif serta penuh optimisme.

          Sejak pengumuman kelulusan SMA, yang saya fikirkan adalah tentang bagaimana menjalani kehidupan setelahnya. Setelah tahu bahwa saya tidak lulus SNMPTN, belum berkesempatan memperoleh beasiswa untuk melanjutkan sekolah ke jenjang berikutnya. Dan sudah pasti dengan berat hati menunda keinginan untuk kuliah di tahun tersebut.

               Mama yang kala itu sudah hampir 6 tahun menjalani hidup sebagai orang  tua tunggal bagi ke lima putrinya. Sudah sejak awal bahkan jauh sebelum saya lulus SMA, dia selalu mengatakan bahwa tidak akan menanggung biaya kuliah dan akan sepenuhnya menyerahkan tanggung jawab tersebut pada saya secara pribadi. Dan hal itu selalu ia ungkapkan kepada seluruh anak-anaknya, tidak hanya saya.

             Kami amat sangat mengerti dan tidak satu pun merasa tersakiti dengan pernyataan mama terkait ketidak mampuannya menyekolahkan kami ke jenjang yang lebih tinggi. Mengapa demikian?, itu karena mama hidup sebagai pribadi yang positif dan penuh optimisme, selalu yakin bahwa anak-anaknya mampu mengenyam pendidikan layaknya mereka yang secara finansial mampu melakukan itu. Dan beruntungnya kami, sikap positif dan optimisme tersebut mampu ia tularkan dengan caranya sendiri.

         Menghujani kami dengan kalimat-kalimat positif, membangun optimisme yang menyelamatkan kami dari kelemahan berfikir yang beresiko menjatuhkan kepercayaan diri dalam meraih mimpi.

              Benar, jika secara finansial mama tidak menjamin pendidikan kami.  Tapi mama berhasil membangun lingungan yang baik dalam keluarga, membangun sikap positif dan optimis bahwa kami mampu membiayai pendidikan secara mandiri hingga sampai pada titik yang menjadi harapan terbesar mama terhadap kami ke liman putrinya.

             Kekuatan  dukungan moril berupa kalimat – kalimat positif yang membangun memang terdengar sepele, bahkan mungkin bagi sebagian individu hal tersebut tidak memberi begitu banyak pengaruh signifikan bagi kehidupa seseorang. Tapi mama melakukanny dan membuktikan bahwa hal sekecil itu mampu membawa anak-anaknya pada sebuah kepercayaan diri meraih apa yang menjadi mimpi besar kami.

            Bahkan hingga hari ini, setelah beliau tiada sekitar 3 tahun yang lalu, saya masih selalu ingat seperti apa kalimat-kalimat positif yang sering ia ucapkan. Sebesar apa kalimat itu memberi pengaruh positif hingga saya dan kakak-kakak menyelesaikan pendidikan kami. Dan itu pula yang kemudian menjadi kekuatan terbesar saya untuk bisa kembali berjuang melanjutkan pendidikan  pada jenjang berikutnya.

 Doakan, saya masih memiliki harapan serta mimpi  besar untuk melanjutkan S2, berbekal kalimat-kalimat positif dari mama yang selalu terngiang semoga saya bisa mewujudkannya. Aamin….

 


Thursday, April 9, 2020

Hati-Hati Mengubah Kuota Edukasi ke Flash!!

April 09, 2020 2 Comments


Pic from lamgalleryla.com
Pic Froml : lamgalleryla.com

Sudah dapat kuota edukasi 30 Gb bagi kamu pengguna Indosat?. Saya dapat dan alhasil tidak bisa digunakan selain untuk membuka aplikasi belajar online seperti ruang guru dan kawan-kawannya. “Yah, sayang sekali punya kuota 30 Gb tapi nggak bisa digunakan untuk mengakses aplikasi di luar aplikasi belajar online”.

          Nah….. baru-baru ini banyak artikel dan video tutorial untuk mengubah kuota edukasi menjadi kuota reguler agar dapat digunakan untuk mengakses Google, Facebook, Youtube dan sosial media lainnya. Lalu tiba-tiba jiwa missquaya saya meronta mendengar kabar tersebut, mengingat saya juga punya kuota edukasi 30 Gb dari indosat.

            Jadi, ceritanya tadi sore saya praktekin tuh tutorial mengubah kuota edukasi menjadi kuota reguler. Dari proses yang dilalaui saya cukup teryakinkan bahwa cara itu akan berhasil membuat kuota edukasi nggak jadi mubazir.

          Setelah restart android akhirnya saya bisa akses semua sosial media padahal kuota utama sudah habis. Seneng donk…..dalam hati “Wah… aman nih, nggak perlu beli kuota”, secara buat aku 30Gb itu terbilang banyak dan menjamin kebebasan berselancar di dunia maya selama satu bulan ke depan.

        Setelah berinternet ria selama hampir 20 menit, tiba-tiba saya merasa perlu cek aplikasi MyIm3 untuk tahu apakah kuota edukasi berkurang setelah dalam 20 menit sebelumnya saya gunakan. Ternyata eh ternyata kuota edukasi masih tetap di angka 30 Gb tanpa berkurang sedikit pun.

          Sampai sini saya mulai curiga, “Kok bisa nggak berkurang?”. Bukanya proses yang sebelumnya saya lakukan hanya mengubah jenis kuota, dengan begitu jumlah kuota akan tetap berkurang jika digunakan. “Lah, bahaya nih, dari mana kuotanya kalau bukan dari kouta edukasi tadi?’’. Akhirnya saya coba search tentang apa yang baru saja di lakukan, termasuk tentang aplikasi bernama psiphon pro yang digunakan, manfaat serta keamanannya.

         Ternyata aplikasi tersebut merupan Aplikasi VPN (Virtual Private Network) dimana dia berfungsi salah satunya sebagai koneksi untuk mengakses situs yang di blokir oleh pemerintah,  seperti saat pemilu 2019 lalu saat pemerintah membatasi penggunaan beberapa sosial media, dengan VPN ini beberapa orang tetap bisa mengaksesnya.

           Fungsi yang lain dari PVN bisa juga untuk memperoleh koneksi internet gratis yang saya sendiri sebagai orang awam nggak tau dari mana asal koneksi internet tersebut. Yang jelas setelah saya mencoba menggunakan aplikasi Psiphon pro kuota 30Gb yang dimaksud tidak berkurang jumlahnya meskipun telah digunakan selama sekitar 20 menit lamanya.

         Sampai disini saya merasa ada  yang nggak beres, kita tidak tau dari mana sumber koneksi internet tersebut. Sudah jelas bukan dari 30Gb kuota edukasi yang coba di rubah menjadi kuota reguler, karena faktanya kuota tetap tidak berkurang setelah beberapa lama di gunakan.

Lalu dari mana?, entahlah. Namun secara harfiayah menggunakan koneksi internet gratis dalam konteks ini berarti kita telah mengambil tanpa izin pihak penyelenggara, itu artinya secara tidak langsung kita telah mencurinya, haram dan dosa. Disamping itu masih banyak bahaya-bahaya dari tidak selektifnya memilih VPN gratis yang kemudian diinstal ke perangkat kita.

         Sampai di akhir saya menulis artikel ini, beberapa saat saya kembali membuka situs yang membahas terkait “Mengubah kuota edukasi menjadi kuota reguler”. Yang menarik, pada sebuah situs di jelaskan bahwa tindakan merubah kuota edukasi ke flash atau reguler bisa di jerat pasal 362 juncto 30, 32 Undang-Undang (UU) Nomor 11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE).

          Jadi sampai sini jelaskan?, bahwa cukup beresiko mengubah kuota edukasi keflash atau reguler. disamping itu berat pula pertanggung jawabannya kelak.

 


Wednesday, April 8, 2020

Kenapa Aku Disalahkan?

April 08, 2020 3 Comments


“Mas, dengar aku dulu!”. Sambil berlalu dan membanting pintu, mas Rama tidak mengindahkan perkataanku.
                Perdebatan kami menyisakan isak yang sudah tak mampu lagi ku tahan. Mengapa suamiku tak ada bedanya dengan mereka yang selalu berfikir bahwa aku adalah sebuah ancaman.
                Hatiku semakin begejolak, dalam lelah yang belum sempat ku suguhi kelegaan bernafas. Setibanya aku di tempat yang seharusnya memberi ketenangan, yang ku dapati adalah fakta sebaliknya. Bahkan ketika aku masih berjalan kaki selepas naik angkutan umum.
                Memasuki gerbang perkampungan di pinggir kota Jakarta, seperti biasa aku berjalan tanpa lupa menyapa para tentangga yang berpapasan denganku. Hari ini memang tampak lebih sepi dari biasanya, tapi aku masih mendapati orang-orang yang tetap beraktifitas setelah anjuran di rumah aja mulai diberlakukan satu minggu belakangan.
                Melewati sekitar 3 rumah dari gerbang perkampungan yang tampak lebih rapi ini, seketika degup jantungku terasa berhenti sejenak begitu pun langkahku. Terkejut dengan suara yang samar-samar ku dengar. Seorang wanita paruh baya yang semula sibuk dengan aktifitas menjemur pakaian, seketika bergegas masuk rumah dan berkata “Duh…… ada virus”.
                Tak terasa mataku sudah digenangi linangan air mata, aku  bergegas menuju rumah orang tua suami yang hampir 2 tahun terakhir kami tempati. Sesampainya di depan rumah, ku dapati pak Rt keluar dengan pandangan penuh stigma. Sempat menyapa dan melempar senyum satirenya Pak RT di temani salah satu warga bergegas meninggalkan rumah kami.
                Tanpa fikir panjang aku segera masuk dengan harapan dapat segera melepas lelah setelah hampir 3 hari  tidak pulang. Maklum pandemic Covid-19 yang kian hari kian merebak mebuat aku dan teman-teman di rumah sakit harus bekerja ekstra keras, bahkan beberapa tenaga medis nyaris tumbang karena terlalu lelah bekerja dengan jumlah waktu istirahat yang amat sanangat terbatas.
                Tapi apa yang kemudian ku dapati?.
                “Assalamualaikum, mas”, menghampiri suamiku yang tertunduk di sofa ruang tamu.
                “Waalaikumsalam, Apa-apaan kamu Rin?, jangan dulu menghampiriku”, denga langkah sigap dia menghindari ku, bahkan dia tidakmengindahkan saat aku mengulurkan tangan hendak menyalaminya. “Kamu belum mandi Rin, belum mencuci seluruh pakaianmu dan  benar-benar menjamin kalau kamu nggak bawa virus ke rumah ini”, tambahnya.
                “Tapi mas, aku sudah mencuci tangan sebelum pulang dan aku sempat menggunakan hand sanitizer sebelum masuk ke dalam rumah”.
                “Tatap saja aku nggak mau ambil resiko Rin”.
                “Tapi Mas……”, belum sempat aku melanjutkan perkataan mas Rama memotongnya dengan nada yang sedikit meninggi. “Sudah jangan membantah, aku sudah di buat pusing dengan kedatangan pak RT dan sindiran orang-orang kampung yang bilang kalau kamu bawa virus dari rumah sakit, jangan tambah kepusinganku dengan ngeyel seperti itu, cepat masuk dan bersihkan badanmu”.
                Aku tidak lantas menuruti mas Rama, apa-apaan ini?. Ternyata benar yang aku dengar tadi, seorang ibu mengatakan “Ada Virus” setelah ia melihatku.
                “Mas, Lalu apa mau mereka?
                “Ya, mereka mau kamu jangan pulang ke kampung ini dulu sampai kondisi benar-benar kondusif”.
                “Mas, aku sehat,aku tidak sama sekali  menunjukkan bahwa aku teridikasi covid-19.”
                “Orang-orang mana mau tau Rin!,bagi mereka keberadaan kamu disini seperti sebuah ancaman.”
                “Apa mas juga berfikir begitu”
                “Iya……. Aku khawatir kamu benar-benar membawa virus itu”
                “Kamu nggak percaya sama aku Mas?’’
                “Maaf Rin,”. Mas Rama berlalu meninggalkanku.
                Deras air mataku menjatuhkan butir-butir kesakitan atas kesalahan yang tidak aku lakukan. Ya…..karena ini bukan kesalahan, lalu kenapa aku disalahkan?.
               

                 

Monday, April 6, 2020

Seberapa Penting Komunitas Untuk Pengembangan Minat dan Bakat?

April 06, 2020 1 Comments
Pic From Pinterest


                Komunitas adalah sebuah wadah untuk mengalurkan dan mengembangkan minat serta bakat seseorang terhadap sesuatu. Melalui komunitas, kita akan menemukan orang-orang dengan bakat  juga visi misi yang sama terhadap sesuatu yang kita minati. Lalu seberapa penting sih sebuah komunitas?.
                Saya nggak akan dulu memberi gambaran secara teoritis. Mengingat itu perlu sebuah riset dan saya belum berkesempatan melakukannya. Dengan banyaknya aktivitas akhir-akhir ini di tengah masa isolasi yang membuat jiwa ketidak sukaan saya terhadapa sesuatu yang tampak berantakan meronta-ronta. Saya hanya sempat menulis sesuatu yang tidak harus dikuatkan dengan sebuah riset, itupun saya masih keteteran untuk menulis satu topik satu hari.
                Oke, balik lagi pada seberapa penting komunitas untuk pengembangan minat danbakat seseorang?. Berbicara dari pengalaman menyukai aktivitas menulis dan semua yang berbau kepenulisan saya merasa kehadiran komunitas menjadi sangat penting dan membantu proses berkembang  saya dalam hal ini.
                Sedikit membagikan cerita receh tentang bagaimana saya menemukan komunitas kepenulisan yang tidak pernah berusaha saya cari dan lakukan, setelah sekian lama memiliki ketertarikan pada dunia literasi.
                Saya selalu merasa dan berfikir bahwa ketika ingin menjadi penulis saya hanya harus menulis dan mempublish tulisan-tulisan. Tapi ternyata saya keliru tentang itu, karena dari apa yang dialami, menulis sendiri tanpa sebuah deadline dan tantangan dari orang lain membuat saya lalai dan menulis semaunya. Yang terpenting adalah cukup perlu perjuangan mencari orang yang mau mengkoreksi dan menjadi pembaca tulisan kita, kecuali apa yang kita tulis benar-benar menarik.
                Dua tahun belakangan ini, saya mulai mencoba masuk sebuah komunitas kepenulisan yang hingga hari ini menjadi beberapa. Rasanya berbeda dengan ketika menulis sendiri tanpa komunitas. Tidak memiliki referensi yang beragam, merasa benar sendiri padahal mungkin saya keliru dan jelas tidak saya temukan tantangan-tantangan menulis yang sesungguhnya.
                Jadi, seberapa penting sebuah komunitas?, bagi saya penting sekali. Jadi siapapun di luar sana yang memiliki ketertarikan, minat, dan bakat terhadap sesuatu mulailah mencari komunitas dan bergabung secara langsung di dalamnya.
               


Teman Melankolis

April 06, 2020 1 Comments
Pic from Pinterest


                Karena terkadang tidak banyak orang yang mampu memahami lebih diri kita kecuali orang tersebut memiliki  pola karakter dan kebiasaan yang hampir sama dengan apa yang kita sering lakukan. Dan kamu tentu tahu kan, seasik apa kalau ketemu orang punya hobby dan kebiasaan yang sama dengan kita?. Kita akan merasa menemukan orang yang mampu memahami apa yang menjadi pola pemikiran kita ketika mamandang sesuatu hal.

                Seperti kemarin, tiba-tiba ketika saya mengomentari sebuah postingan bu Novi, teman di komunitas kepenulisan yang saya kenal sekitar hampir dua tahun lalu. Postingan tesebut berisi tumpukan buku karya penulis  produktif Asma Nadia, dimana saya selalu merasa excited dengan itu. Tidak hanya karena itu adalah tumpukan buku karya penulis favorit saya tapi karena gambar itu adalah tumpukan buku yang selalu membuat saya merasa bahagia karenanya.

                Dari mengomentari postingan tersebut kita  berbincang singkat tentang bagaimana proses dan cara mencintai buku dan menulis. Ternyata eh ternyata kita sama-sama memiliki kebiasaan serupa yaitu bukan tipikal pembaca yang mampu berlama-lama membaca. Kita hobby koleksi buku tapi banyak buku-yang kita beli belum kita baca secara utuh dan yang terparah aku sendiri malah punya buku yang sama sekali belum pernah di buka alias masih rapi terbungkus plastik.

                Kita senang menyusun buku sesuai ukurannya, dari yang paling besar hingga yang terkecil. Dan dari obrolan singkat via whatsapp itu, akhirnya juga sama-sama tahu bahwa kita adalah si melankolis yang memiliki cukup banyak kesamaan.

                Apa esensi dari tulisan ini?. Adalah tentang bagaimana saya menemukan fakta baru mengenai sebuah ungkapan seorang teman, bahwa hidup ini seperti magnet. Kita akan menarik sesuatu atau seseorang dengan ketertarikan dan lingkungan yang serupa untuk mendekat.

                Seperti hal nya saya denga bu Novi, atas izin Allah dipertemukan dengan kondisi memiliki ketertarikan, kebiasaan dan hobby yang sama terhadap sesuatu. Dan saya banyak belajar hingga faham betapa pentingnya memiliki serta memilih sebuah ketertarikan terhadap Sesuatu dan menemukan lingkungan yang mengarahkan kita pada hal tersebut, agar kita semakin banyak belajar dan mempelajari secara langsung konsep-konsep kehidupan.

                Ketertarikan itu bisa di pilih dan di tentukan sendiri kok. Faktanya dulu saya sama sekali tidak tertarik terhadap buku, tidak suka sekali membaca dan nyaris tidak pernah, apalagi menulis seperti saat ini. Tapi saya berusaha masuk pada dunia ini dan membangun ketertarikan yang pada akhirnya mempertemukan saya dengan banyak hal luar biasa termasuk di dalamnya seorang teman melankolis.
               
               
               


Friday, April 3, 2020

Ingin Jadi Penulis Tapi Nggak Pernah Nulis?

April 03, 2020 5 Comments


             
Pic from Pinterest
Saya tapok jidat sama kelakuan sendiri. Jangankan satu hari satu judul tulisan, enam bulan satu pun tidak saya lakukan. Lucu kalau inget waktu itu, waktu keinginan jadi penulis begitu menggebu, sekitar 9 tahun lamanya mimpi itu tersimpan sebagai wacana. Di dalam bayangan saya punya banyak buku se produktif Asma Nadia, punya beberapa novel yang di filmkan dan punya banyak pembaca.
                Dari banyak sisi, melakukan apa yang menurut saya bisa jadi upaya atas perwujudan mimpi menjadi seorang penulis. Seperti  membiasakan membaca buku untuk memperkaya kosa kata, membeli buku-buku karya Asma Nadia sebagai referensi. Membuat blog, akun wattpad hingga mendaftarkan diri sebagai kontributor penulis lepas. Tapi saya nggak pernah nulis.
Seorang seniman dikatakann seniman ketika dia menghasilkan banyak karya seni. Nggak tiba-tiba jadi seniman tanpa karya  kan?, begitu pun seorang penulis. Kadang merasa bodoh kalau ingat mimpi ingin jadi penulis sementara action masih nol besar. Selalu dikalahkan dengan apa yang dinamakan writing block, selalu berfikir gimana caranya ngumpulin dulu ilmu nulis baru nulis, sampai akhirnya bener-bener nggak  nulis.
Jadi, sebetulnya bukan saya nggak pernah mencoba menulis, tapi  ketika saya berusaha membuat sebuah karya, kalimat “Ngumpulin dulu ilmu nulis baru nulis” itu lama-lama jadi alibi. Dan ketika writing block, dialog yang tiba-tiba keluar dari alam sadar saya adalah “Ah….. belum cukup nih ilmunya, nanti aja kalo udah cukup baru mulai nulis”. Selalu berakhir seperti itu hingga mimpi untuk jadi penulis lambat laun habis kobaran apinya.    
Tapi bukan berarti kobaran yang hilang itu tidak menyisakan apapun, sisa-sisa percikan api masih memungkinkan dia berkobar kembali. Seperti saat ini, setelah menemukan beberapa komunitas kepenulisan dan bergabung di dalamnya, qadarullah saya menjadi lebih semangat untuk menulis, kembali menghidupkan blog yang saya buat 6 tahun silam. Menulis hal-hal yang semoga bermanfaat bagi orang banyak.
Ketika menulis ini, saya sedang mengikuti sebuah kelas kepenulisan dengan tantangan menulis One Day One Post (ODOP) dimana satu hari kita ditantang untuk menghasilkan sebuah tulisan yang kemudian dipost di blog pribadi. Semoga ini menjadi awal baik, tatkala saya mampu secara konsisten menulis setiap hari.
Pada dasarnya untuk mewujudkan impian menjadi seorang penulis, tentu kita harus menulis. menulis dulu semampunya dan terus belajar dari apa yang sudah ditulis. tanpa menulis dan masuk secara langsung ke dalam aktivitas itu, tentu kita tidak akan pernah tahu bagaimana mempelajari sebuah proses dalam menulis.

Bismillah, semangat menulis bagimu para pejuang literasi…….

Thursday, April 2, 2020

Stigma Pandemi

April 02, 2020 0 Comments
Picture from Pinterest


                Jangan salahkan saya jika inspirasi yang datang untuk menuliskan sesuatu akhir-akhir ini selalu dikaitkan atau bahkan sengaja membahas covid-19. Pandemi yang faktanya membuat banyak orang membicarakan dan menulis terkait itu di sosial media.

                Kita yang desember tahun lalu hanya menyaksikan bagaimana Wuhan dan kegentingan di sana, kini terdampak langsung oleh merebaknya wabah yang tiba-tiba meluluh lantahkan segala tatanan kehidupan.

                Termasuk diantaranya adalah ketakutan yang dimunculkan karena ketidak percayaan satu orang dengan orang lainnya. Kekhawatiran apakah orang yang kita temui dalam kondisi bersih atau tidak dari virus yang kian hari kian membuat resah. Stigma bermunculan dikalangan masyarakat dengan yang tengah ketakutan.

Kota besar yang di jadikan sebagai tempat mencari penghidupan kini dalam kondisi penuh ketakutan, penuh ancaman. Aktivitas pengumpul pundi-pundi rupiah di rumahkan, pulang ke kampung halaman menjadi satu-satunya pilihan.

Tapi, apa yang terjadi ketika keputusan pulang ke kampung halaman memunculkan ketakutan. Ketakutan bagi mereka di kampung halaman yang merasa jiwanya terancam. Seperti yang terjadi beberapa waktu lalu di lingkungan tempat saya tinggal. Sebuah stigma bermunculan pada mereka yang pulang dari perantauan.

Seisi kampung semakin merasa terancam, tatkala setiap hari bertambahnya kepulangan orang-orang dari perantauan.  Memang, belum tentu mereka pulang dengan membawa virus covid-19 yang sedang marak diperbincangkan, tapi stigma demi stigma  terlanjur bermunculan tanpa bisa dihentikan termasuk pada keluarga yang menerima kepulangan anggota keluarga dari ibu kota.

Saya demikian, salah satu yang merasa sesak nafas secara tiba-tiba. Takut dengan segala kemungkinan terburuk karena kepulangan mereka. Tapi dibalik itu semua saya percaya Allah dengan segala bentuk perlindungannya, akan selalu membersamai. Tentu selama kita mengingatnya dan tetap ber ikhtiar melakukan sekecil apapun bentuk perlindungan diri.

Semoga segera Allah angkat dari bumi kita, wabah yang telah merenggut banyak nyawa. Tidak hanya di negeri kita tapi seluruh dunia, Aamin…..

Sunday, March 22, 2020

Perjuangan Husnudzon

March 22, 2020 0 Comments
pic from pinterest

                “Dia kok nggak permisi ya?, padahal tau disini ada orang”. “Dasar nggak sopan amat”. 
                “Dia kok tiap hari statusnya main terus ya?, Boros”
            “Euh, bosen deh liat status dia posting foto anak sampe kayak orang sakit di kasih obat sehari 3x
               “Rumah biasa-biasa aja pake beli mobil segala, padahal uangnya bisa buat renovasi rumah tuh”

                Saya yang bergidik sendiri sambil nulis ini, pengen ketawa takut dosa, dulu pernah jadi manusia macam ini. Eh….. maybe sekarang juga masih deh (tappokkk jidaaat).
                Jangan kira ini perkara sederhana, berfikir tentang orang lain dari sudut pandang kita yang merasa benat, tentu tidak dibenarkan. Dalam tulisan sebelumnya, saya sempat mebahas bahwa kita perlu memberi udzur sebanyak-banyaknya pada sesuatu yang kita rasa salah dari orang lain.

“Dia kok nggak permisi ya?, padahal tau disini ada orang”. “Dasar nggak sopan amat”. Hey……. Mungkin di terburu buru atau memang sedang nggak fokus.

                “Dia kok tiap hari statusnya main terus ya?, Boros”. Barangkali dia jalan-jalan di tengah pekerjaan yang membuat dia penat.

“Euh, bosen deh liat status dia posting foto anak sampe kayak orang sakit di kasih obat sehari 3x”. Mungkin dia memiliki permasalahan yang kita tidak pernah tau, entah masalah itu bersumber dari suami, mertua, atau kelarganya yang lain bahkan dari orang lain. Lalu sang anak menjadi salah satu sumber kekuatan yang mungkin ingin ia tunjukkan pada khalayak.

                “Rumah biasa-biasa aja pake beli mobil segala, padahal uangnya bisa buat renovasi rumah tuh”. Hellowwww, kamu siapa?, sejauh apa punya kapasitas untuk mengatur hidup orang lain?. Bisa saja orang yang rumahnya biasa saja dan memilih membeli mobil, mereka punya rencana besar yang kita tidak tau, misal ingin memberi banyak kemudahan pada orang lain dengan mobil yang ia miliki.

Idealnya sih gitu ya, punya seribu alasan untuk  berprasangka baik. Tapi benar nggak sih menurut kalian, kalo husnudzon itu nggak gampang?. Ada aja  yang  bikin kita masih  suudzon sama orang sekalipun dalam kondisi sadar. Dan setelahnya baru deh ngeuh kalau kita sudah berprasangka buruk terhadap orang lain.

Tau, bahwa pada prisnsipnya suudzon itu tidak dibenarkan.  Tapi faktanya tanpa disadari saya sendiri masih melakukan itu terhadap lingkungan dan menyadari bahwa Husnudzon perlu sekali di perjuangkan.

Semoga Allah senantiasa memampukan kita untuk berfikir dan bersikap husnudzon terhadap orang lain.



               

Mesin Waktu Pembawa Haru

March 22, 2020 0 Comments
Dokumentasi pribadi 21/03/20

Covid marak di seluruh penjuru dunia, dan kemarin saya post tulisan terkait itu di gurusiana.id. hari ini saya punya topik yang nyaris terlupakan setelah terlewati satu minggu kebelakang.  Topik yang membawa saya pada atmosfir delapan belas tahun silam.
Kala itu, di pagi yang masih menunjukkan bahwa pukul 06.00 seluruh benda di sekitar kita belum tampak sempurna wujudnya, serta gelap dan sejuk yang kini tidak lagi saya dapati. Setiap pagi itu pula mama dengan sigap membuka dan merapikan seluruh dagangannya. Sepulang saya mengaji semua sudah tertata rapi, mulai dari sembako hingga sayuran yang dibelinya sebelum waktu subuh tiba.
Sebelum berangkat ke sekolah saya menyaksikan bagaimana mama berjibaku dengan seluruh pekerjaannya. Dia tidak pernah mengeluhkan itu, terlebih jika saya dan kakak-kakak bisa sedikit banyak membantu pekerjaannya. Sepulang sekolah pemandangan itu pula yang setiap hari saya lihat, mama dan warung kecil berteralis kayu yang disebutnya sebagai tangkeban. 
Beranjak sore selepas ashar, aku adalah anak usia delapan tahun pada umumnya. Pilihan terbaik dari sebuah hidup yang dijalani anak berusia delapan tahun adalah bermain bersama teman sebayanya. Kami memiliki satu tempat terbaik yang cukup membuat kami senang berada di sana. Bebas dan tak terbatas melakukan apapun yang akrab sebagai permainan khas anak kala itu.
Sebuah ruang berukuran cukup luas, mungkin sekitar 3x4 meter persegi berada tidak jauh dari tempat saya tinggal. Ruangan yang di dalamnya memiliki beberapa tiang penyangga itu selalu tampak terang di siang hari dan terasa hangat di malam hari. Di banding rumah kami bangunan itu sangat luas untuk melakukan banyak permainan anak-anak. Sementara itu di lantai 2 sebuah ruangan berukuran sama namun berdinding kayu menyimpan sebuah asal usul yang menjadi salah satu alasan kenapa hari ini saya menyukai dunia literasi, ya….. sebuah taman bacaan sedehana dengan hanya satu rak buku di ruangan seluas itu.
Setiap sore hingga bada isya kami menghabiskan masa kecil yang bermakna. Seorang wanita paruh baya menyertai masa kecil kami dengan berbagai pengetahuan agama. Sebuah madrasah yang dibuat ia bersama keluarga menyisakan cerita yang sulit menghilang dari ingatan hingga saat itu telah berlalu 18 tahun kemudian. 
Hingga satu minggu yang lalu, sedikit dari atmosfir itu dikembalikan dari persembunyiannya. Tatkala aku merasakan ia kembali dalam dimensi yang lain. Tiba-tiba bayangan masa lalu yang menyenangkan itu menyeruak, berlinang pelupuk mata menahan keharuan. Haru yang teramat pada masa yang menghadirkan orang-orang terkasih di dalamnya. Wanita paruh baya yang mengisi kepalaku dengan ilmu agama, ibunda tercinta yang keduanya telah tiada, sahabat-sahabat masa kecil dengan kehidupan mereka kini, dan atmosfir kehidupan yang rasanya tidak pernah lagi saya temukan.
Hari itu, saya duduk di samping suami yang telah hampir satu bulan kebelakang ikut menjadi bagian dari malaikat-malaikat kecil itu menghabiskan waktu magrib hingga selepas shalat isya. Mempelajari hadist-hadist rasul yang paling sederhana, membaca Al-Qur’an hingga bermain tepuk bersama.
Mereka yang hadir dengan kekhasan anak-anak pengajian zaman saya di delapan belas tahun silam, berpakaian muslim muslimah, Al-Qur’an dan alat shalat di tangan datang bersama semangat mengupdate isi kepala mereka dengan ilmu agama. Nadhom-nadhom yang juga pernah saya dengarkan delapan belas tahun silam kini hadir kembali di tengah kekhawatiran saya dan suami perihal semakin berkurangnya keberadaan madrasah semacam ini dan langkanya pemandangan anak-anak yang berbondong pergi kemadrasah untuk mengaji.
Atmosfir masa lalu yang hadir di dimensi ini, memutar rekaman wajah-wajah yang tak lagi saya temui wujudnya hari ini. Saya yang dimasa lalu adalah sebagai mereka yang hari ini berda tepat dihadapanku, berusia sekitar delapan hingga 10 tahun. Membawaku pada keharuan dan keingninan untuk kembali pada masa itu.
Kemana saya satu bulan lalu?, saat suami memutuskan membantu mengajar selama satu minggu satu kali di madrasah samping rumah ibu mertua. Saya yang hanya memberi dukungan atas pilihan suami dengan meng iya kan tanpa berfikir untuk ikut terlibat didalamnya. Saya yang hanya menunggu ia pulang selepas tiba waktu shalat isya, kemana?
Tapi, masa bodo dengan penyesalan itu, “Kenapa tidak sejak awal saya ikut suami mengajar apa yang sedikit saya miliki ini?”. Yang terpenting adalah saya telah tahu bagaimana dan apa yang saya rasakan ketika kedua telapak kaki menginjak latai yang sekan menjadi mesin waktu. Membawa saya pada kenangan masa lalu. Semoga Allah istiqamahkan apa yang saya dan suami jalani hari ini, dan semoga madrasah tetap memiliki tempatnya di tengah keanehan yang diperlihatkan oleh kemajuan zaman.