Asik Nulis Lupa Baca
![]() |
| Pinterest.com |
![]() |
| Pinterest.com |
![]() |
| Pic: Restorasidaily.com |
![]() |
| Picture from Pinterest |
![]() |
| Arsip Pribadi |
Bagi kita yang tidak terlahir dari keluarga dengan kemampuan menjamin serta memfasilitasi segala jenis kebutuhan mulai dari primer, sekunder hingga tersier, tentu untuk memenuhi apa yang kita inginkan menjadi sesuatu yang tidak cukup mudah. Dengan kata lain kita perlu usaha lebih keras dari mereka yang telah terjamin segala bentuk kebutuhan tersebut.
Seperti
hal nya dalam hak memperoleh pendidikan setingi-tingginya. Jika mereka terlahir dari keluarga yang dikatakan kaya, mungkin akan lebih mudah untuk mewujudkan keinginan melanjutkan
pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Bagi yang tidak seberuntung itu,
dengan kata lain terlahir dari keluarga kurang mampu tentu kita harus lebih
keras memutar otak bagaimana agar terpenuhi keinginan tersebut. Contoh nya
mencari beasiswa atau justru dengan berat hati harus menunda.
Saya
tidak sedang membahas siapa yang beruntung atau tidak dalam hal ini. Justru saya akan berusaha mengenyampingkan fakta tersebut,
karena hakikatnya terlahir dari keluarga seperti apapun semua berkesempatan
memperoleh pendidikan hingga jenjang yang paling tinggi sekali pun.
“Tapi
kan sekolah butuh biayabesar?”
“Beasiswa?,
emang gampang dapet beasiswa?”
Fakta
itu juga benar adanya, biaya pendidikan yang terbilang mahal serta tidak
mudahnya seseorang memperoleh beasiswa tentu menjadi tantangan tersendiri. Tidak
hanya itu, fakta ini juga membangun ketakutan individu untuk bermimpi dan
berharap meraih apa yang dicita-citakan.
Terlepas
dari itu semua, dari apa yang pernah terjadi dan saya alami dalam proses
menempuh perjalanan memperoleh pendidikan. Saya berfikir bahwa kita hanya perlu
memiliki lingkungan yang tepat, positif serta penuh optimisme.
Sejak
pengumuman kelulusan SMA, yang saya fikirkan adalah tentang bagaimana menjalani
kehidupan setelahnya. Setelah tahu bahwa saya tidak lulus SNMPTN, belum
berkesempatan memperoleh beasiswa untuk melanjutkan sekolah ke jenjang
berikutnya. Dan sudah pasti dengan berat hati menunda keinginan untuk kuliah di
tahun tersebut.
Mama
yang kala itu sudah hampir 6 tahun menjalani hidup sebagai orang tua tunggal bagi ke lima putrinya. Sudah sejak
awal bahkan jauh sebelum saya lulus SMA, dia selalu mengatakan bahwa tidak akan
menanggung biaya kuliah dan akan sepenuhnya menyerahkan tanggung jawab tersebut
pada saya secara pribadi. Dan hal itu selalu ia ungkapkan kepada seluruh
anak-anaknya, tidak hanya saya.
Kami
amat sangat mengerti dan tidak satu pun merasa tersakiti dengan pernyataan mama
terkait ketidak mampuannya menyekolahkan kami ke jenjang yang lebih tinggi. Mengapa
demikian?, itu karena mama hidup sebagai pribadi yang positif dan penuh
optimisme, selalu yakin bahwa anak-anaknya mampu mengenyam pendidikan layaknya
mereka yang secara finansial mampu melakukan itu. Dan beruntungnya kami, sikap
positif dan optimisme tersebut mampu ia tularkan dengan caranya sendiri.
Menghujani
kami dengan kalimat-kalimat positif, membangun optimisme yang menyelamatkan
kami dari kelemahan berfikir yang beresiko menjatuhkan kepercayaan diri dalam
meraih mimpi.
Benar,
jika secara finansial mama tidak menjamin pendidikan kami. Tapi mama berhasil membangun lingungan yang
baik dalam keluarga, membangun sikap positif dan optimis bahwa kami mampu
membiayai pendidikan secara mandiri hingga sampai pada titik yang menjadi
harapan terbesar mama terhadap kami ke liman putrinya.
Kekuatan
dukungan moril berupa kalimat – kalimat positif
yang membangun memang terdengar sepele, bahkan mungkin bagi sebagian individu
hal tersebut tidak memberi begitu banyak pengaruh signifikan bagi kehidupa
seseorang. Tapi mama melakukanny dan membuktikan bahwa hal sekecil itu mampu
membawa anak-anaknya pada sebuah kepercayaan diri meraih apa yang menjadi mimpi
besar kami.
Bahkan
hingga hari ini, setelah beliau tiada sekitar 3 tahun yang lalu, saya masih
selalu ingat seperti apa kalimat-kalimat positif yang sering ia ucapkan. Sebesar
apa kalimat itu memberi pengaruh positif hingga saya dan kakak-kakak
menyelesaikan pendidikan kami. Dan itu pula yang kemudian menjadi kekuatan
terbesar saya untuk bisa kembali berjuang melanjutkan pendidikan pada jenjang berikutnya.
Doakan, saya masih
memiliki harapan serta mimpi besar untuk
melanjutkan S2, berbekal kalimat-kalimat positif dari mama yang selalu
terngiang semoga saya bisa mewujudkannya. Aamin….
Pic Froml : lamgalleryla.com
Sudah dapat
kuota edukasi 30 Gb bagi kamu pengguna Indosat?. Saya dapat dan alhasil tidak
bisa digunakan selain untuk membuka aplikasi belajar online seperti ruang guru
dan kawan-kawannya. “Yah, sayang sekali punya kuota 30 Gb tapi nggak bisa
digunakan untuk mengakses aplikasi di luar aplikasi belajar online”.
Nah…..
baru-baru ini banyak artikel dan video tutorial untuk mengubah kuota edukasi
menjadi kuota reguler agar dapat digunakan untuk mengakses Google, Facebook, Youtube
dan sosial media lainnya. Lalu tiba-tiba jiwa missquaya saya meronta mendengar
kabar tersebut, mengingat saya juga punya kuota edukasi 30 Gb dari indosat.
Jadi,
ceritanya tadi sore saya praktekin tuh tutorial mengubah kuota edukasi menjadi
kuota reguler. Dari proses yang dilalaui saya cukup teryakinkan bahwa cara itu
akan berhasil membuat kuota edukasi nggak jadi mubazir.
Setelah restart android akhirnya saya bisa akses semua sosial media padahal kuota utama sudah habis. Seneng donk…..dalam hati “Wah… aman nih, nggak perlu beli kuota”, secara buat aku 30Gb itu terbilang banyak dan menjamin kebebasan berselancar di dunia maya selama satu bulan ke depan.
Setelah
berinternet ria selama hampir 20 menit, tiba-tiba saya merasa perlu cek
aplikasi MyIm3 untuk tahu apakah kuota edukasi berkurang setelah dalam 20 menit
sebelumnya saya gunakan. Ternyata eh ternyata kuota edukasi masih tetap di
angka 30 Gb tanpa berkurang sedikit pun.
Sampai
sini saya mulai curiga, “Kok bisa nggak berkurang?”. Bukanya proses yang
sebelumnya saya lakukan hanya mengubah jenis kuota, dengan begitu jumlah kuota
akan tetap berkurang jika digunakan. “Lah, bahaya nih, dari mana kuotanya kalau
bukan dari kouta edukasi tadi?’’. Akhirnya saya coba search tentang apa yang
baru saja di lakukan, termasuk tentang aplikasi bernama psiphon pro yang digunakan, manfaat serta keamanannya.
Ternyata
aplikasi tersebut merupan Aplikasi VPN (Virtual
Private Network) dimana dia berfungsi salah satunya sebagai koneksi untuk mengakses
situs yang di blokir oleh pemerintah, seperti
saat pemilu 2019 lalu saat pemerintah membatasi penggunaan beberapa sosial
media, dengan VPN ini beberapa orang tetap bisa mengaksesnya.
Fungsi
yang lain dari PVN bisa juga untuk memperoleh koneksi internet gratis yang saya
sendiri sebagai orang awam nggak tau dari mana asal koneksi internet tersebut. Yang
jelas setelah saya mencoba menggunakan aplikasi Psiphon pro kuota 30Gb yang dimaksud tidak berkurang jumlahnya
meskipun telah digunakan selama sekitar 20 menit lamanya.
Sampai
disini saya merasa ada yang nggak beres,
kita tidak tau dari mana sumber koneksi internet tersebut. Sudah jelas bukan
dari 30Gb kuota edukasi yang coba di rubah menjadi kuota reguler, karena
faktanya kuota tetap tidak berkurang setelah beberapa lama di gunakan.
Lalu dari
mana?, entahlah. Namun secara harfiayah menggunakan koneksi internet gratis dalam
konteks ini berarti kita telah mengambil tanpa izin pihak penyelenggara, itu
artinya secara tidak langsung kita telah mencurinya, haram dan dosa. Disamping
itu masih banyak bahaya-bahaya dari tidak selektifnya memilih VPN gratis yang
kemudian diinstal ke perangkat kita.
Sampai
di akhir saya menulis artikel ini, beberapa saat saya kembali membuka situs
yang membahas terkait “Mengubah kuota
edukasi menjadi kuota reguler”. Yang menarik, pada sebuah situs di jelaskan
bahwa tindakan merubah kuota edukasi ke
flash atau reguler bisa di jerat pasal 362 juncto 30, 32 Undang-Undang (UU)
Nomor 11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE).
Jadi
sampai sini jelaskan?, bahwa cukup beresiko mengubah kuota edukasi keflash atau
reguler. disamping itu berat pula pertanggung jawabannya kelak.
![]() |
| Pic From Pinterest |
![]() |
| Pic from Pinterest |
![]() |
| Pic from Pinterest |
![]() |
| Picture from Pinterest |