Wednesday, April 15, 2020

Asik Nulis Lupa Baca

April 15, 2020 2 Comments
Pinterest.com


                Bagi mereka yang suka bermain dengan kata-kata, merangkainya menjadi kalimat bermakna dan enak dibaca, menulis tentu menjadi sesuatu yang menyenangkan. Seperti hal nya saya, walaupun sangat perlu proses panjang untuk menyadari bahwa  menulis adalah aktivitas menyenangkan, tapi disadari atau tidak saya sudah semakin terbiasa dengan itu.
                Gampang nggak sih nulis???, nggak saya bilang gampang karena memang proses nulis nggak se instan makan mie. Tapi  juga nggak mau bilang kalau nulis itu susah, karena saya sedang mencoba mendisiplinkan setiap kata yang diucapkan hanya untuk sesuatu bermakna positif. Intinya bagi saya, nulis itu punya sisi yang membuat diri merasa istimewa memiliki kemampuan itu.
                Kenapa?, apa istimewanya?.
Istimewanya kita akan berusaha untuk tau banyak hal. Dengan menulis, kebutuhan meng upgrade diri  menjadi sesuatu  yang teramat penting. Membaca adalah  sebuah keharusan bahkan dalam hal ini menjadi kewajiban.  Tanpa membaca tentu akan semakin tidak mudah  untuk menulis, karena salah satu keuntungan lain yang di dapat dari membaca adalah menabung lebih banyak kosa kata, dan tentu saja  akan sangat membantu proses menulis yang dilakukan.
Saya pernah membuktikan terkait itu tanpa di sengaja. Satu ketika ambisi untuk menjadi penulis produktif meningkat, dalam benak saya adalah tentang bagaimana menghasilkan tulisan sebanyak-banyaknya. Prinsipnya nulis dulu aja, soal hasil belakangan.
Dan….. eng…. Ing….eng……. yang terjadi adalah, saya asik nulis lupa baca. Kenpa demikian?, karena belum menyadari bahwa menulis dan membaca adalah satu kesatuan, seperti pasangan tak terpisahkan. Seorang bisa saja menjadi pembaca tanpa menulis, tapi dia tidak akan pernah bisa menulis tanpa membaca. Bahkan ketika kamu tetap berusaha menulis tanpa membaca, pengalaman yang akan ditemukan adalah “Writers’ Block”, satu kondisi dimana seorang penulis kesulitan menuangkan ide  dangagasan  ke dalam tulisan.  
Kalaupun tetap bisa menuangkan gagasan dalam bentuk tulisan, keasikan  nulis lupa baca berdampak juga pada kualitas tulisan yang dihasilkan. Sama halnya dengan yang pernah saya alami ketika membaca ulang tulisan yang terlalu dipaksakan. Hasilnya benar-benar menyedihkan dan tidak enak di baca, mubazir nggak tuh?.
Bukan berarti tulisan ini berkualitas dan enak di baca ya J, saya masih dalam proses mempelajari  semua hal terkait kepenulisan. Setidaknya saya pernah mengalami bagaimana menyedihkannya menulis tanpa diiringi konsistensi membaca. Perlu kita ingat juga bahwa membaca tidak melulu melalui media buku. Di era yang serba digital ini, kita akan dengan mudah menemukan apa yang memungkinkan untuk di baca melalui media digital.

Tuesday, April 14, 2020

Perihal Jodoh yang Belum Kunjung Datang

April 14, 2020 1 Comments
Pic: Restorasidaily.com 


                Beberapa waktu lalu membaca tulisan salah satu teman di blog pribadinya. Sebuah tulisan dari pengalam di tanyai tentang kapan nikah?, kenapa belum nikah?dan lain sebagainya terkait itu. Hingga hal tersebut menimbulkan keresahan dan tanda tanya besar kenapa jodohnya belum kunjung datang.
                Pada beberapa orang, hal semacam itu  juga mungkin terjadi dan berdampak pada kemungkinan orang tersebut Baper, sedih, hingga terpuruk. Apalagi ketika di luar sana gadis atau perjaka seusianya banyak yang telah menikah bahkan punya anak.
                Sebetulnya reaksi  itu sah-sah saja. Dalam sebuah sebuah artikel, seorang psikolog klinis dari Personal Growth, Veronica Adelsa mengatakan bahwa secara psikologis baper saat ditanya kapan nikah itu adalah hal yang wajar.  
                Lalu bagaimana ketika baper itu menjadi keresahan mengapa jodoh kita tak kunjung datang?. Mulailah mengelola diri dan perasaan, keresahan bisa muncul karena beberapa faktor. Misal karena ketakutan jodoh kita benar-benar tidak akan datang, atau karena tidak percaya dengan bagaimana Allah memiliki sekian banyak cara mempertemukan seorang  hamba dengan pasangannya.
                Disamping itu, lingkungan juga mempengaruhi ikhtiar kita menemukan pasangan. Memang benar jika jodoh adalah  bagian dari kehendak Allah, kalo memang saat ini belum ketemu jodohnya artinya memang belum Allah pertemukan. Tapi disisi lain kita juga sering mendengar bahwa hidup adalah pilihan. Yaps….. kita memilih jalan mana dan kehidupan seperti apa yang kita inginkan melalui ikhtiar yang dilakukan, selanjutnya Allah yang merestui pilihan tersebut.
                Seandainya pun dari semua ikhtiar yang dilakukan Allah belum juga mempertemukan, itu kembali pada bagaimana Allah berkehendak. Yang jelas selalu ada kebaikan di balik itu semua, dan kamu harus percaya.
                Membahas panjang lebar perihal jodoh dari sisi yang seakan sangat bijaksana, memang gampang-gampang ringan. Apalagi yang nulis udah ketemu jodohnya. Emang tau rasanya di tanya terus kapan nikah?, tau rasanya takut jodoh nggak akan datang karena lintasan fikiran yang kadang menghantui?, tau bagaimana pertanyaan kapan nikah bisa jadi momok mengerikan dalam hidup?.
                “Tau donk, sebelum ketemu suami ada banyak cerita di balik penantian si dia”, haha….senyum satire mengiringi pernyataan ini.
                Intinya saya pernah ada di posisi itu, sedikit banyak tau bagaimana proses perjalanan menanti hingga menemukan pasangan. Pernah baper, takut hingga kecewa, terpuruk (“Haha…. Nyoba banget di dramatisir”).
                Yang jelas, dari pengalaman  terkait jodoh yang belum kunjung datang, adalah tentang seberapa penting mengelola hati, fikiran dan perasaan.  Jangan sekali-kali atau buang saja jauh-jauh fikiran bahwa jodoh kita tidak akan datang.
Yang terpenting adalah mulailah memperkuat keyakinan bahwa Allah memiliki sekian banyak cara mempertemukan kita dengan pasangan, sekalipun lintasan fikiran  yang kadang teramat logis, tidak bisa melihat dari arah mana Allah akan kirim sang pelengkap hidup bernama pasangan itu.
Selanjutnya adalah ikhtiar yang memungkinkan untuk kita lakukan. Jika pada prinsipnya perempuan hanya harus menanti, menantilah dengan cara yang tetap manusiawi sebagai seorang perempuan. Ikhtiar dengan berdoa dan semakin menjalin intensitas komunikasi antara diiri dengan Allah. Merayu dengan cara yang sangat elegan dan disukai oleh-Nya. Selebihnya serahkan semua hanya pada Sang maha segalanya .  


Tikus-Tikus Rumah, dan WFH

April 14, 2020 1 Comments
Picture from Pinterest

                Kalau ditanya tips unik apa yang bisa dilakukan selama masa karantina ini, saya punya dan mungkin bisa teman-teman coba.
                Jadi ceritanya  kemarin , ketika rebahan sambil share tugas sekolah anak-anak yang satu bulan terakhir ini dirumahkan. Saya mendengar teriakan orang rumah yang ketika dihampiri masing-masing sudah siap dengan alat tempurnya mulai dari sapu, sapu lidi hingga pel an. Eitsssss…. Alat-alat itu justru tidak digunakan untuk membersihkan rumah dan semua sudutnya.
                “Lah….. terus buat apa?”
                “Untuk berburu tikus rumah”
                Mungkin tidak semua orang merasa bermasalah dengan kehadiran mereka . Tapi sebagian besar orang termasuk saya merasa sangat bermasalah dengan gangguan yang ditimbulkan dari kehadiran para tikus rumah.
                Bau tidah enak, barang – barang yang tiba tiba hilang  karena di seret ke semua sudut rumah yang tidak terjamah manusia. Seperti kolong meja atau tempat tidur, di belakang mesin lemari pendingin hingga di bawah mesin cuci. Juga pakaian yang rusak karena digerogoti mulut tajamnya. Tidak hanya itu, kepanikanakan muncul ketika si tikut melintas begitu saja dihadapan kami membuat kehebohan tak terelakan.
                Didasari itu, Kemarin pagi kami mengisi masa WFH dengan sesuatu yang berbeda dari biasanya, yaitu berburu tikus –tikus rumah. Di awali dengan ketidak yakinan akan hal itu kami memberanikan  diri memberi reaksi atas kejengahan yang dirasa sudah cukup lama ini.
                Jengah??, ya….. sudah berbagai cara dilakukan untuk mengusir para tikus termasuk menyebar jebakan-jebakan agar meminimalisir kehadiran mereka. Hasilnya nol besar, hingga puncaknya adalah kemarin setelah beberapa hari lalu seisi rumah di bersihkan dan menciptakan suasana lebih nyaman. Tiba-tiba sang tikus rumah yang tidak  ditemukan sebelumnya justru dengan terang-terangan melintas dihadapan kami dan seolah mencari tempat untuk dijadikan sarang baru bagi mereka.
                Alhasil, kami memutuskan untuk menutup semua akses keluar masuknya para tikus tersebut. Mulai dari menutup semua  lubang yang mereka ciptakan di banyak sudut ruangan, menutup beberapa plafon yang juga sudah terlanjur berlubang. Dan yang terakhir memburu para tikus rumah yang masih berkeliaran dan membunuhnya.
                Agak mengerikan memang mendenga kata membunuh itu. Tapi dari apa yang pernah saya dengar serta beberapa literatur yang pernah di baca. Mengingat tikus merupakan hewan perusak yang merugikan, maka kita di perbolehkan untuk membunuhnya namun tetap memperhatikan cara  membunuhnya.
                Jadilah Work From Home hari kemarin diisi dengan berburu tikus rumah. Dengan senjata alat kebersihan seadanya kami mengeksekusi para tikus di tengah ketakutan semua orang rumah. Jelas saja, diantara kami tidak ada yang berani memegang tikus, bahkan sekedar tidak sengaja mengenai tubuhnya ketika tikus melintas, kami akan heboh luar biasa.
                Dan hari kemarin, di tengah ketakutan itu kami memperoleh keseruan setelah hampir satu bulan menjalani seluruh aktivitas #dirumahaja. Apa yang membuat ketakutan menjadi keseruan?, yaitu proses perburuan yang diwarnai gelak tawa karena tingkah masig-masing dari kami yang berusaha tetap melindungi diri dari kontak langsung dengan para tikus rumah.
                Mungkin teman-teman mau mencoba menghibur diri sekaligus meminimalisir keberadaan tikus yang sangat merugikan di dalam rumah. Ini patut di coba J.

Friday, April 10, 2020

Kekuatan Kalimat Mama

April 10, 2020 3 Comments
Arsip Pribadi 


              Bagi kita yang tidak terlahir dari keluarga dengan kemampuan menjamin serta memfasilitasi segala jenis kebutuhan mulai dari primer, sekunder hingga tersier, tentu untuk memenuhi apa yang kita inginkan menjadi sesuatu yang tidak cukup mudah. Dengan kata lain kita perlu usaha lebih keras dari mereka yang telah terjamin segala bentuk kebutuhan tersebut.

            Seperti hal nya dalam hak memperoleh pendidikan setingi-tingginya.  Jika mereka terlahir dari keluarga yang  dikatakan kaya, mungkin akan lebih mudah  untuk mewujudkan keinginan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Bagi yang tidak seberuntung itu, dengan kata lain terlahir dari keluarga kurang mampu tentu kita harus lebih keras memutar otak bagaimana agar terpenuhi keinginan tersebut. Contoh nya mencari beasiswa atau justru dengan berat hati harus menunda.

              Saya tidak sedang membahas siapa yang beruntung atau tidak dalam hal ini. Justru  saya akan berusaha mengenyampingkan fakta tersebut, karena hakikatnya terlahir dari keluarga seperti apapun semua berkesempatan memperoleh pendidikan hingga jenjang yang paling tinggi sekali pun.

                “Tapi kan sekolah butuh biayabesar?”

                “Beasiswa?, emang gampang dapet beasiswa?”

               Fakta itu juga benar adanya, biaya pendidikan yang terbilang mahal serta tidak mudahnya seseorang memperoleh beasiswa tentu menjadi tantangan tersendiri. Tidak hanya itu, fakta ini juga membangun ketakutan individu untuk bermimpi dan berharap meraih apa yang dicita-citakan.

            Terlepas dari itu semua, dari apa yang pernah terjadi dan saya alami dalam proses menempuh perjalanan memperoleh pendidikan. Saya berfikir bahwa kita hanya perlu memiliki lingkungan yang tepat, positif serta penuh optimisme.

          Sejak pengumuman kelulusan SMA, yang saya fikirkan adalah tentang bagaimana menjalani kehidupan setelahnya. Setelah tahu bahwa saya tidak lulus SNMPTN, belum berkesempatan memperoleh beasiswa untuk melanjutkan sekolah ke jenjang berikutnya. Dan sudah pasti dengan berat hati menunda keinginan untuk kuliah di tahun tersebut.

               Mama yang kala itu sudah hampir 6 tahun menjalani hidup sebagai orang  tua tunggal bagi ke lima putrinya. Sudah sejak awal bahkan jauh sebelum saya lulus SMA, dia selalu mengatakan bahwa tidak akan menanggung biaya kuliah dan akan sepenuhnya menyerahkan tanggung jawab tersebut pada saya secara pribadi. Dan hal itu selalu ia ungkapkan kepada seluruh anak-anaknya, tidak hanya saya.

             Kami amat sangat mengerti dan tidak satu pun merasa tersakiti dengan pernyataan mama terkait ketidak mampuannya menyekolahkan kami ke jenjang yang lebih tinggi. Mengapa demikian?, itu karena mama hidup sebagai pribadi yang positif dan penuh optimisme, selalu yakin bahwa anak-anaknya mampu mengenyam pendidikan layaknya mereka yang secara finansial mampu melakukan itu. Dan beruntungnya kami, sikap positif dan optimisme tersebut mampu ia tularkan dengan caranya sendiri.

         Menghujani kami dengan kalimat-kalimat positif, membangun optimisme yang menyelamatkan kami dari kelemahan berfikir yang beresiko menjatuhkan kepercayaan diri dalam meraih mimpi.

              Benar, jika secara finansial mama tidak menjamin pendidikan kami.  Tapi mama berhasil membangun lingungan yang baik dalam keluarga, membangun sikap positif dan optimis bahwa kami mampu membiayai pendidikan secara mandiri hingga sampai pada titik yang menjadi harapan terbesar mama terhadap kami ke liman putrinya.

             Kekuatan  dukungan moril berupa kalimat – kalimat positif yang membangun memang terdengar sepele, bahkan mungkin bagi sebagian individu hal tersebut tidak memberi begitu banyak pengaruh signifikan bagi kehidupa seseorang. Tapi mama melakukanny dan membuktikan bahwa hal sekecil itu mampu membawa anak-anaknya pada sebuah kepercayaan diri meraih apa yang menjadi mimpi besar kami.

            Bahkan hingga hari ini, setelah beliau tiada sekitar 3 tahun yang lalu, saya masih selalu ingat seperti apa kalimat-kalimat positif yang sering ia ucapkan. Sebesar apa kalimat itu memberi pengaruh positif hingga saya dan kakak-kakak menyelesaikan pendidikan kami. Dan itu pula yang kemudian menjadi kekuatan terbesar saya untuk bisa kembali berjuang melanjutkan pendidikan  pada jenjang berikutnya.

 Doakan, saya masih memiliki harapan serta mimpi  besar untuk melanjutkan S2, berbekal kalimat-kalimat positif dari mama yang selalu terngiang semoga saya bisa mewujudkannya. Aamin….

 


Thursday, April 9, 2020

Hati-Hati Mengubah Kuota Edukasi ke Flash!!

April 09, 2020 2 Comments


Pic from lamgalleryla.com
Pic Froml : lamgalleryla.com

Sudah dapat kuota edukasi 30 Gb bagi kamu pengguna Indosat?. Saya dapat dan alhasil tidak bisa digunakan selain untuk membuka aplikasi belajar online seperti ruang guru dan kawan-kawannya. “Yah, sayang sekali punya kuota 30 Gb tapi nggak bisa digunakan untuk mengakses aplikasi di luar aplikasi belajar online”.

          Nah….. baru-baru ini banyak artikel dan video tutorial untuk mengubah kuota edukasi menjadi kuota reguler agar dapat digunakan untuk mengakses Google, Facebook, Youtube dan sosial media lainnya. Lalu tiba-tiba jiwa missquaya saya meronta mendengar kabar tersebut, mengingat saya juga punya kuota edukasi 30 Gb dari indosat.

            Jadi, ceritanya tadi sore saya praktekin tuh tutorial mengubah kuota edukasi menjadi kuota reguler. Dari proses yang dilalaui saya cukup teryakinkan bahwa cara itu akan berhasil membuat kuota edukasi nggak jadi mubazir.

          Setelah restart android akhirnya saya bisa akses semua sosial media padahal kuota utama sudah habis. Seneng donk…..dalam hati “Wah… aman nih, nggak perlu beli kuota”, secara buat aku 30Gb itu terbilang banyak dan menjamin kebebasan berselancar di dunia maya selama satu bulan ke depan.

        Setelah berinternet ria selama hampir 20 menit, tiba-tiba saya merasa perlu cek aplikasi MyIm3 untuk tahu apakah kuota edukasi berkurang setelah dalam 20 menit sebelumnya saya gunakan. Ternyata eh ternyata kuota edukasi masih tetap di angka 30 Gb tanpa berkurang sedikit pun.

          Sampai sini saya mulai curiga, “Kok bisa nggak berkurang?”. Bukanya proses yang sebelumnya saya lakukan hanya mengubah jenis kuota, dengan begitu jumlah kuota akan tetap berkurang jika digunakan. “Lah, bahaya nih, dari mana kuotanya kalau bukan dari kouta edukasi tadi?’’. Akhirnya saya coba search tentang apa yang baru saja di lakukan, termasuk tentang aplikasi bernama psiphon pro yang digunakan, manfaat serta keamanannya.

         Ternyata aplikasi tersebut merupan Aplikasi VPN (Virtual Private Network) dimana dia berfungsi salah satunya sebagai koneksi untuk mengakses situs yang di blokir oleh pemerintah,  seperti saat pemilu 2019 lalu saat pemerintah membatasi penggunaan beberapa sosial media, dengan VPN ini beberapa orang tetap bisa mengaksesnya.

           Fungsi yang lain dari PVN bisa juga untuk memperoleh koneksi internet gratis yang saya sendiri sebagai orang awam nggak tau dari mana asal koneksi internet tersebut. Yang jelas setelah saya mencoba menggunakan aplikasi Psiphon pro kuota 30Gb yang dimaksud tidak berkurang jumlahnya meskipun telah digunakan selama sekitar 20 menit lamanya.

         Sampai disini saya merasa ada  yang nggak beres, kita tidak tau dari mana sumber koneksi internet tersebut. Sudah jelas bukan dari 30Gb kuota edukasi yang coba di rubah menjadi kuota reguler, karena faktanya kuota tetap tidak berkurang setelah beberapa lama di gunakan.

Lalu dari mana?, entahlah. Namun secara harfiayah menggunakan koneksi internet gratis dalam konteks ini berarti kita telah mengambil tanpa izin pihak penyelenggara, itu artinya secara tidak langsung kita telah mencurinya, haram dan dosa. Disamping itu masih banyak bahaya-bahaya dari tidak selektifnya memilih VPN gratis yang kemudian diinstal ke perangkat kita.

         Sampai di akhir saya menulis artikel ini, beberapa saat saya kembali membuka situs yang membahas terkait “Mengubah kuota edukasi menjadi kuota reguler”. Yang menarik, pada sebuah situs di jelaskan bahwa tindakan merubah kuota edukasi ke flash atau reguler bisa di jerat pasal 362 juncto 30, 32 Undang-Undang (UU) Nomor 11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE).

          Jadi sampai sini jelaskan?, bahwa cukup beresiko mengubah kuota edukasi keflash atau reguler. disamping itu berat pula pertanggung jawabannya kelak.

 


Wednesday, April 8, 2020

Kenapa Aku Disalahkan?

April 08, 2020 3 Comments


“Mas, dengar aku dulu!”. Sambil berlalu dan membanting pintu, mas Rama tidak mengindahkan perkataanku.
                Perdebatan kami menyisakan isak yang sudah tak mampu lagi ku tahan. Mengapa suamiku tak ada bedanya dengan mereka yang selalu berfikir bahwa aku adalah sebuah ancaman.
                Hatiku semakin begejolak, dalam lelah yang belum sempat ku suguhi kelegaan bernafas. Setibanya aku di tempat yang seharusnya memberi ketenangan, yang ku dapati adalah fakta sebaliknya. Bahkan ketika aku masih berjalan kaki selepas naik angkutan umum.
                Memasuki gerbang perkampungan di pinggir kota Jakarta, seperti biasa aku berjalan tanpa lupa menyapa para tentangga yang berpapasan denganku. Hari ini memang tampak lebih sepi dari biasanya, tapi aku masih mendapati orang-orang yang tetap beraktifitas setelah anjuran di rumah aja mulai diberlakukan satu minggu belakangan.
                Melewati sekitar 3 rumah dari gerbang perkampungan yang tampak lebih rapi ini, seketika degup jantungku terasa berhenti sejenak begitu pun langkahku. Terkejut dengan suara yang samar-samar ku dengar. Seorang wanita paruh baya yang semula sibuk dengan aktifitas menjemur pakaian, seketika bergegas masuk rumah dan berkata “Duh…… ada virus”.
                Tak terasa mataku sudah digenangi linangan air mata, aku  bergegas menuju rumah orang tua suami yang hampir 2 tahun terakhir kami tempati. Sesampainya di depan rumah, ku dapati pak Rt keluar dengan pandangan penuh stigma. Sempat menyapa dan melempar senyum satirenya Pak RT di temani salah satu warga bergegas meninggalkan rumah kami.
                Tanpa fikir panjang aku segera masuk dengan harapan dapat segera melepas lelah setelah hampir 3 hari  tidak pulang. Maklum pandemic Covid-19 yang kian hari kian merebak mebuat aku dan teman-teman di rumah sakit harus bekerja ekstra keras, bahkan beberapa tenaga medis nyaris tumbang karena terlalu lelah bekerja dengan jumlah waktu istirahat yang amat sanangat terbatas.
                Tapi apa yang kemudian ku dapati?.
                “Assalamualaikum, mas”, menghampiri suamiku yang tertunduk di sofa ruang tamu.
                “Waalaikumsalam, Apa-apaan kamu Rin?, jangan dulu menghampiriku”, denga langkah sigap dia menghindari ku, bahkan dia tidakmengindahkan saat aku mengulurkan tangan hendak menyalaminya. “Kamu belum mandi Rin, belum mencuci seluruh pakaianmu dan  benar-benar menjamin kalau kamu nggak bawa virus ke rumah ini”, tambahnya.
                “Tapi mas, aku sudah mencuci tangan sebelum pulang dan aku sempat menggunakan hand sanitizer sebelum masuk ke dalam rumah”.
                “Tatap saja aku nggak mau ambil resiko Rin”.
                “Tapi Mas……”, belum sempat aku melanjutkan perkataan mas Rama memotongnya dengan nada yang sedikit meninggi. “Sudah jangan membantah, aku sudah di buat pusing dengan kedatangan pak RT dan sindiran orang-orang kampung yang bilang kalau kamu bawa virus dari rumah sakit, jangan tambah kepusinganku dengan ngeyel seperti itu, cepat masuk dan bersihkan badanmu”.
                Aku tidak lantas menuruti mas Rama, apa-apaan ini?. Ternyata benar yang aku dengar tadi, seorang ibu mengatakan “Ada Virus” setelah ia melihatku.
                “Mas, Lalu apa mau mereka?
                “Ya, mereka mau kamu jangan pulang ke kampung ini dulu sampai kondisi benar-benar kondusif”.
                “Mas, aku sehat,aku tidak sama sekali  menunjukkan bahwa aku teridikasi covid-19.”
                “Orang-orang mana mau tau Rin!,bagi mereka keberadaan kamu disini seperti sebuah ancaman.”
                “Apa mas juga berfikir begitu”
                “Iya……. Aku khawatir kamu benar-benar membawa virus itu”
                “Kamu nggak percaya sama aku Mas?’’
                “Maaf Rin,”. Mas Rama berlalu meninggalkanku.
                Deras air mataku menjatuhkan butir-butir kesakitan atas kesalahan yang tidak aku lakukan. Ya…..karena ini bukan kesalahan, lalu kenapa aku disalahkan?.
               

                 

Monday, April 6, 2020

Seberapa Penting Komunitas Untuk Pengembangan Minat dan Bakat?

April 06, 2020 1 Comments
Pic From Pinterest


                Komunitas adalah sebuah wadah untuk mengalurkan dan mengembangkan minat serta bakat seseorang terhadap sesuatu. Melalui komunitas, kita akan menemukan orang-orang dengan bakat  juga visi misi yang sama terhadap sesuatu yang kita minati. Lalu seberapa penting sih sebuah komunitas?.
                Saya nggak akan dulu memberi gambaran secara teoritis. Mengingat itu perlu sebuah riset dan saya belum berkesempatan melakukannya. Dengan banyaknya aktivitas akhir-akhir ini di tengah masa isolasi yang membuat jiwa ketidak sukaan saya terhadapa sesuatu yang tampak berantakan meronta-ronta. Saya hanya sempat menulis sesuatu yang tidak harus dikuatkan dengan sebuah riset, itupun saya masih keteteran untuk menulis satu topik satu hari.
                Oke, balik lagi pada seberapa penting komunitas untuk pengembangan minat danbakat seseorang?. Berbicara dari pengalaman menyukai aktivitas menulis dan semua yang berbau kepenulisan saya merasa kehadiran komunitas menjadi sangat penting dan membantu proses berkembang  saya dalam hal ini.
                Sedikit membagikan cerita receh tentang bagaimana saya menemukan komunitas kepenulisan yang tidak pernah berusaha saya cari dan lakukan, setelah sekian lama memiliki ketertarikan pada dunia literasi.
                Saya selalu merasa dan berfikir bahwa ketika ingin menjadi penulis saya hanya harus menulis dan mempublish tulisan-tulisan. Tapi ternyata saya keliru tentang itu, karena dari apa yang dialami, menulis sendiri tanpa sebuah deadline dan tantangan dari orang lain membuat saya lalai dan menulis semaunya. Yang terpenting adalah cukup perlu perjuangan mencari orang yang mau mengkoreksi dan menjadi pembaca tulisan kita, kecuali apa yang kita tulis benar-benar menarik.
                Dua tahun belakangan ini, saya mulai mencoba masuk sebuah komunitas kepenulisan yang hingga hari ini menjadi beberapa. Rasanya berbeda dengan ketika menulis sendiri tanpa komunitas. Tidak memiliki referensi yang beragam, merasa benar sendiri padahal mungkin saya keliru dan jelas tidak saya temukan tantangan-tantangan menulis yang sesungguhnya.
                Jadi, seberapa penting sebuah komunitas?, bagi saya penting sekali. Jadi siapapun di luar sana yang memiliki ketertarikan, minat, dan bakat terhadap sesuatu mulailah mencari komunitas dan bergabung secara langsung di dalamnya.
               


Teman Melankolis

April 06, 2020 1 Comments
Pic from Pinterest


                Karena terkadang tidak banyak orang yang mampu memahami lebih diri kita kecuali orang tersebut memiliki  pola karakter dan kebiasaan yang hampir sama dengan apa yang kita sering lakukan. Dan kamu tentu tahu kan, seasik apa kalau ketemu orang punya hobby dan kebiasaan yang sama dengan kita?. Kita akan merasa menemukan orang yang mampu memahami apa yang menjadi pola pemikiran kita ketika mamandang sesuatu hal.

                Seperti kemarin, tiba-tiba ketika saya mengomentari sebuah postingan bu Novi, teman di komunitas kepenulisan yang saya kenal sekitar hampir dua tahun lalu. Postingan tesebut berisi tumpukan buku karya penulis  produktif Asma Nadia, dimana saya selalu merasa excited dengan itu. Tidak hanya karena itu adalah tumpukan buku karya penulis favorit saya tapi karena gambar itu adalah tumpukan buku yang selalu membuat saya merasa bahagia karenanya.

                Dari mengomentari postingan tersebut kita  berbincang singkat tentang bagaimana proses dan cara mencintai buku dan menulis. Ternyata eh ternyata kita sama-sama memiliki kebiasaan serupa yaitu bukan tipikal pembaca yang mampu berlama-lama membaca. Kita hobby koleksi buku tapi banyak buku-yang kita beli belum kita baca secara utuh dan yang terparah aku sendiri malah punya buku yang sama sekali belum pernah di buka alias masih rapi terbungkus plastik.

                Kita senang menyusun buku sesuai ukurannya, dari yang paling besar hingga yang terkecil. Dan dari obrolan singkat via whatsapp itu, akhirnya juga sama-sama tahu bahwa kita adalah si melankolis yang memiliki cukup banyak kesamaan.

                Apa esensi dari tulisan ini?. Adalah tentang bagaimana saya menemukan fakta baru mengenai sebuah ungkapan seorang teman, bahwa hidup ini seperti magnet. Kita akan menarik sesuatu atau seseorang dengan ketertarikan dan lingkungan yang serupa untuk mendekat.

                Seperti hal nya saya denga bu Novi, atas izin Allah dipertemukan dengan kondisi memiliki ketertarikan, kebiasaan dan hobby yang sama terhadap sesuatu. Dan saya banyak belajar hingga faham betapa pentingnya memiliki serta memilih sebuah ketertarikan terhadap Sesuatu dan menemukan lingkungan yang mengarahkan kita pada hal tersebut, agar kita semakin banyak belajar dan mempelajari secara langsung konsep-konsep kehidupan.

                Ketertarikan itu bisa di pilih dan di tentukan sendiri kok. Faktanya dulu saya sama sekali tidak tertarik terhadap buku, tidak suka sekali membaca dan nyaris tidak pernah, apalagi menulis seperti saat ini. Tapi saya berusaha masuk pada dunia ini dan membangun ketertarikan yang pada akhirnya mempertemukan saya dengan banyak hal luar biasa termasuk di dalamnya seorang teman melankolis.
               
               
               


Friday, April 3, 2020

Ingin Jadi Penulis Tapi Nggak Pernah Nulis?

April 03, 2020 5 Comments


             
Pic from Pinterest
Saya tapok jidat sama kelakuan sendiri. Jangankan satu hari satu judul tulisan, enam bulan satu pun tidak saya lakukan. Lucu kalau inget waktu itu, waktu keinginan jadi penulis begitu menggebu, sekitar 9 tahun lamanya mimpi itu tersimpan sebagai wacana. Di dalam bayangan saya punya banyak buku se produktif Asma Nadia, punya beberapa novel yang di filmkan dan punya banyak pembaca.
                Dari banyak sisi, melakukan apa yang menurut saya bisa jadi upaya atas perwujudan mimpi menjadi seorang penulis. Seperti  membiasakan membaca buku untuk memperkaya kosa kata, membeli buku-buku karya Asma Nadia sebagai referensi. Membuat blog, akun wattpad hingga mendaftarkan diri sebagai kontributor penulis lepas. Tapi saya nggak pernah nulis.
Seorang seniman dikatakann seniman ketika dia menghasilkan banyak karya seni. Nggak tiba-tiba jadi seniman tanpa karya  kan?, begitu pun seorang penulis. Kadang merasa bodoh kalau ingat mimpi ingin jadi penulis sementara action masih nol besar. Selalu dikalahkan dengan apa yang dinamakan writing block, selalu berfikir gimana caranya ngumpulin dulu ilmu nulis baru nulis, sampai akhirnya bener-bener nggak  nulis.
Jadi, sebetulnya bukan saya nggak pernah mencoba menulis, tapi  ketika saya berusaha membuat sebuah karya, kalimat “Ngumpulin dulu ilmu nulis baru nulis” itu lama-lama jadi alibi. Dan ketika writing block, dialog yang tiba-tiba keluar dari alam sadar saya adalah “Ah….. belum cukup nih ilmunya, nanti aja kalo udah cukup baru mulai nulis”. Selalu berakhir seperti itu hingga mimpi untuk jadi penulis lambat laun habis kobaran apinya.    
Tapi bukan berarti kobaran yang hilang itu tidak menyisakan apapun, sisa-sisa percikan api masih memungkinkan dia berkobar kembali. Seperti saat ini, setelah menemukan beberapa komunitas kepenulisan dan bergabung di dalamnya, qadarullah saya menjadi lebih semangat untuk menulis, kembali menghidupkan blog yang saya buat 6 tahun silam. Menulis hal-hal yang semoga bermanfaat bagi orang banyak.
Ketika menulis ini, saya sedang mengikuti sebuah kelas kepenulisan dengan tantangan menulis One Day One Post (ODOP) dimana satu hari kita ditantang untuk menghasilkan sebuah tulisan yang kemudian dipost di blog pribadi. Semoga ini menjadi awal baik, tatkala saya mampu secara konsisten menulis setiap hari.
Pada dasarnya untuk mewujudkan impian menjadi seorang penulis, tentu kita harus menulis. menulis dulu semampunya dan terus belajar dari apa yang sudah ditulis. tanpa menulis dan masuk secara langsung ke dalam aktivitas itu, tentu kita tidak akan pernah tahu bagaimana mempelajari sebuah proses dalam menulis.

Bismillah, semangat menulis bagimu para pejuang literasi…….

Thursday, April 2, 2020

Stigma Pandemi

April 02, 2020 0 Comments
Picture from Pinterest


                Jangan salahkan saya jika inspirasi yang datang untuk menuliskan sesuatu akhir-akhir ini selalu dikaitkan atau bahkan sengaja membahas covid-19. Pandemi yang faktanya membuat banyak orang membicarakan dan menulis terkait itu di sosial media.

                Kita yang desember tahun lalu hanya menyaksikan bagaimana Wuhan dan kegentingan di sana, kini terdampak langsung oleh merebaknya wabah yang tiba-tiba meluluh lantahkan segala tatanan kehidupan.

                Termasuk diantaranya adalah ketakutan yang dimunculkan karena ketidak percayaan satu orang dengan orang lainnya. Kekhawatiran apakah orang yang kita temui dalam kondisi bersih atau tidak dari virus yang kian hari kian membuat resah. Stigma bermunculan dikalangan masyarakat dengan yang tengah ketakutan.

Kota besar yang di jadikan sebagai tempat mencari penghidupan kini dalam kondisi penuh ketakutan, penuh ancaman. Aktivitas pengumpul pundi-pundi rupiah di rumahkan, pulang ke kampung halaman menjadi satu-satunya pilihan.

Tapi, apa yang terjadi ketika keputusan pulang ke kampung halaman memunculkan ketakutan. Ketakutan bagi mereka di kampung halaman yang merasa jiwanya terancam. Seperti yang terjadi beberapa waktu lalu di lingkungan tempat saya tinggal. Sebuah stigma bermunculan pada mereka yang pulang dari perantauan.

Seisi kampung semakin merasa terancam, tatkala setiap hari bertambahnya kepulangan orang-orang dari perantauan.  Memang, belum tentu mereka pulang dengan membawa virus covid-19 yang sedang marak diperbincangkan, tapi stigma demi stigma  terlanjur bermunculan tanpa bisa dihentikan termasuk pada keluarga yang menerima kepulangan anggota keluarga dari ibu kota.

Saya demikian, salah satu yang merasa sesak nafas secara tiba-tiba. Takut dengan segala kemungkinan terburuk karena kepulangan mereka. Tapi dibalik itu semua saya percaya Allah dengan segala bentuk perlindungannya, akan selalu membersamai. Tentu selama kita mengingatnya dan tetap ber ikhtiar melakukan sekecil apapun bentuk perlindungan diri.

Semoga segera Allah angkat dari bumi kita, wabah yang telah merenggut banyak nyawa. Tidak hanya di negeri kita tapi seluruh dunia, Aamin…..