Wednesday, April 29, 2020

Ramadhan Tempo Doeloe "Aku Rindu" .

April 29, 2020 0 Comments


Banyak orang bilang, jangan lagi lihat masa lalumu, nanti kamu sulit melihat masa depan yang menawarkan banyak kesempatan baik. Mungkin iya begitu, tapi dalam konteks lain ada masa lalu yang darinya kita belajar banyak hal baik pula.

Masa lalu dengan ragam kisah sederhana yang kini selalu mengundang rindu. Rindu pada banyak hal, termasuk peristiwa dan sosok-sosok di dalamnya.

Layaknya kini, saat ramadhan yang melukis kembali kerinduan pada ramadhan di masa lalu. Ketika jiwa ini belum memunculkan sisinya yang mendewasa, ketika ego masih menjadi yang terdepan, dan ketika masalah terbesar diri, hanya terletak pada bagaimana memecahkan soal matematika kelas 4 SD.

Ramadhan yang memberi kesan mendalam. Ketika waktu berbuka diisi aktifitas ngabuburit ala pedesaan dengan keliling kampung naik delman. Ketika waktu tarawih menjadi momentum paling dinanti untuk berbondong-bondong mencari shaf  paling belakang, agar dapat menyimpan kwaci di bawah sejadah, dinikmati di sela-sela bertarawih (ah... keterlaluan sekali, tapi masa kecil seperti itu yang sulit hilang dari ingatan).

Dan yang paling dirindukan adalah ketika tak lagi ku dengar orang-orang berkeliling kampung untuk membangunkan sahur sebagaimana dulu itu menjadi kekhasan ramadhan kami.

Aku benar-benar merindukan saat-saat itu. Terlebih ketika kini harus berlapang dada melakukan ibadah tarawih sendiri di rumah karena soscial distancing setelah  wabah yang menyerang negara api "Eh... Dunia maksudnya".
Yang jelas, sulit dijelaskan sebesar apa kerinduan yang kini terasa. Ingin kembali tapi bukan hal mudah dan nyaris tidak mungkin. Sayangnya aku tak punya mesin waktu untuk kembali ke sana dan menikmati ramadhan kala itu.

Pada masa lalu, hanya ingin ku  sampaikan "Aku Rindu"

#rwcodop2020 #onedayonepost #RWCDAY2 #Ramadhan2020

Karena Iklan Khas Ramadhan

April 29, 2020 0 Comments
Mendaki gunung lewati lembah, tanpa tersesat karena terlalu menikmati perjalanan. Sampai ku di padang rumput yang entah dimana ini, tak pernah ku lihat sebelumnya. Indah dan sejuk saat ku hela nafas. .

Tiba-tiba perhatianku tertuju pada sebuah sungai di tengah hamparan Padang rumput ini, indah sekali. Sungai dengan aliran air yang tak seperti biasanya. Warnanya merah, tapi tidak membuatku takut. Ya..... Itu bukan darah, aromanya terlalu wangi untuk sebuah darah. .

Seperti aroma buah stroberi yang segar. Warna merah yang tampak pun bening dan membuatku menelan ludah membayangkan kesegarannya, jika ku minum mungkin akan  terasa manis. Inikah surga yang menawarkan segala yang tidak ada di bumi?. .

Ku hampiri sungai itu dan akan ku coba nikmati kesegaran yang telah memenuhi seisi kepalaku. Semakin dekat semakin bersemangat. Sampai ku di tepian sungai dan hendak ku sentuh aliran air nya. Tapi ku dengar suara yang entah dari mana. "Bangun Wi,  apa puasa mu di gunakan untuk memperbanyak kwantitas tidur?".

Seketika terdengar keras  suara pintu yang tertutup. Kakakaku sengaja membangunkan tidur yang indah di tengah dahaga ini, sebelum sempat ku nikmati aliran sungai seperti yang ku lihat di mimpi. ..

Ah...... Aku menyesal menonton tv dan melihat iklan minuman itu sebelum tertidur. Masih beberapa jam menuju berbuka dan bersabarlah wahai diri.

#rwcodop2020 #onedayonepost
#rwcday1 #ramadhan2020

Tuesday, April 21, 2020

Emansipasi Versi Kartini dan Kini

April 21, 2020 0 Comments
   
       
R.A Kartini, pada masanya adalah perempuan dengan ketajaman fikiran yang mampu membuat perempuan Indonesia berlindung di bawah kata "Emansipasi Wanita". Dimana Emansipas bermakna kesetaraan antara laki-laki dan perempuan dalam segala pemenuhan hak sebagai warga negara. 

        kesetaraan menjadi penting. Mengingat kala itu, perempuan benar-benar memiliki derajat jauh di bawah laki-laki. Tidak memiliki hak menentukan pilihan bahkan dalam memilih  pasangan hidupnya sendiri. Perempuan pada masa itu  juga tidak diperkenankan menempuh pendidikan yang tinggi. 

        R.A Kartini merasa perlu menyuarakan pikirannya dengan melakukan hal-hal yang memungkinkan untuk merubah kedaan kala itu. Salah satu upayanya adalah mendirikan sekolah perempuan pertama dengan kesadaran bahwa pendidikan dalam hal ini adalah sebuah langkah awal.

          kerja kerasnya berbuah manis bahkan hingga ia hanya hadir sebagai sebuah nama besar yang disandangnya "Pahlawan emansipasi". 

         benar-benar perwujudan dari sebuah perjuangan yang di lakukan Kartini?. Benarkah yang ia lihat hari ini adalah apa yang ia inginkan atas perjuangannya?.

        Emansipasi semakin menunjukkan pergeseran makna. Bahkan untuk fenomena yang banyak terjadi belakangan pada kaum perempuan. Sesuatu yang tidak harus mati-matian dilakukan perempuan, tidak pantas dan mencederai harga diri seorang perempuan seakan dilindungi oleh "emansipasi wanita". 

Apa sebenarnya makna emansipasi?. Benarkah itu adalah sebuah istilah untuk melindungi sebuah ketidak pantasan?.

Jelas tidak, Emansipasi adala kesetaraan hak, bukan upaya mengeluarkan perempuan dari qadrat yang sesungguhnya. 

Emansipasi versi Kartini harus tetap sama dengan apa yang kini terjadi. Jangan membiarkan emansipasi hanya sebagai alibi untuk melindungi diri. 

Monday, April 20, 2020

Saat Atret Bukan Tentang Apa

April 20, 2020 13 Comments
Picture from: infomenarikaza.blogspot.com


            Jujur baru satu minggu belakangan saya tahu istilah atret itu apa. Berasal dari bahasa Belanda dan sering digunakan dalam teknik mengemudi yang artinya “mundur”. Saya sih kurang familiar dengan kata itu, bahkan nyaris tidak pernah mendengar sebelumnya.

          Belakangan saya berada pada momentum mendengar kata “Atret” tersebut, namun bukan dalam konteks “Apa itu atret?” melainkan “Siapa sebenarnya Atret, atau yang lebih akrab di sapa Si Atret?”. Lagi-lagi sebelumnya saya nggak pernah dengar siapa sosok itu.

                Menurut cerita, Si Atret adalah seorang kakek dengan masalah kejiwaan. Konon sebetulnya dia terlahir sebagai anak orang kaya, dan semula ia tidak bermasalah dengan jiwanya. Suatu ketika dia meminta dibelikan sebuah mobil oleh orang tuanya. Namun, mereka tidak pernah mewujudkan keinginan sang anak hingga ia memiliki masalah kejiwaan karena hal tersebut.

               Entah apa yang kemudian terjadi hingga Kakek yang akrab disapa Si Atret tersebut berakhir dengan menjalani lebih dari separuh hidupnya di jalanan. Setiap hari berjalan membawa dua buntalan besar disisi kanan dan kirinya, berkeliling kota dimana saat ini saya tinggal, sebuah kota yang pada akhirnya melegendakan sang kakek sebagai salah satu icon Kota kami, Sukabumi.

             Belum lama ini, suami saya memperlihatkan potret Si kakek jalanan, baginya si kakek membawa  kenangan  masa kecil yang berkesan tatkala ia mendengar kata “Atret”. Kakek Atret bukanlah Orang Dengan Masalah Kejiwaan (ODMK) yang membahayakan atau  menyerang orang disekitarnya. Justru    ia selalu terlihat menyenangkan dan menghibur terutama bagi  anak-anak  kecil kala itu. Jelas bukan tanpa alasan.

            Pasalnya, kira-kira antara tahun 1999 hingga 2000an, bagi suami yang secara langsung mengalami itu. Kenangan menghampiri Si kakek Atret ketika bermain di Alun-alun Cisaat bersama teman-temannya, menjadi momentum yang sulit terlupakan hingga saat ini.

                Si Kakek yang tidak secara sengaja menghibur dengan gaya khas, menjadikan orang-orang mudah mengenalinya. Seperti bagaimana cara ia berjalan seolah-olah dirinya membawa sebuah mobil, memarkir mobilnya dan bergerak mundur jika seseorang menyimpan sebuah batu tepat dihadapannya. Yang dari semua kebiasaannya itu munculah julukan “Si Atret” yang berarti “mundur”.

                Kakek  yang diperkirakan telah 30 tahun menghabiskan waktunya dengan berjalan kaki berkeliling Kota Sukabumi ini, memiliki ciri khas lain. Ketika orang-orang di sekitarnya meminta ia melantunkan shalawat, maka yang akan ia   ucapkan  adalah “Pakuluman …….. pakuluman”, begitu katanya.  Dan banyak orang terkesan dengan itu.

                Hingga kakek Atret dikabarkan meninggal pada Januari 2015. Tak di sangka banyak dari warga Sukabumi juga mereka yang tengah berada di Luar Kota ikut berbela sungkawa atas kepergiaannya. Bahkan beberapa orang menyebutnya sebagai Legenda, dan yang membuat saya tersentuh adalah ungkapan bahwa “Lain urang Sukabumi mun teu apal Si Atret” ( Bukan orang Sukabumi kalau nggak kenal Si Atret).





                Yang teramat luar biasa lagi adalah ketika saya tahu bahwa sang legenda telah di abadikan sosoknya dalam sebuah pemetasan Drama Komedian Sunda bertajuk “Si Atret Jadi Potret” oleh Komunitas Teater Sukabumi. Membuktikan betapa berkesannya ia di hati banyak orang.


                Seorang Kakek dengan masalah kejiwaan ini adalah teman masa kecil bagi mereka yang kini telah tumbuh dewasa. Sulit dilupakan, karena sosoknya yang teramat berkesan. Dia bukan siapa-siapa, pejabat, aktor atau orang yang memberi pengaruh besar bagi Kota Sukabumi. Tapi bagi mereka yang tahu siapa “Si Atret”, mereka akan selalu ingat bahwa dia benar-benar sempat mewarnai sukabumi dengan kisah dan kekhasan yang selalu melekat pada dirinya, bahkan hingga ia telah tiada.

Wednesday, April 15, 2020

Asik Nulis Lupa Baca

April 15, 2020 2 Comments
Pinterest.com


                Bagi mereka yang suka bermain dengan kata-kata, merangkainya menjadi kalimat bermakna dan enak dibaca, menulis tentu menjadi sesuatu yang menyenangkan. Seperti hal nya saya, walaupun sangat perlu proses panjang untuk menyadari bahwa  menulis adalah aktivitas menyenangkan, tapi disadari atau tidak saya sudah semakin terbiasa dengan itu.
                Gampang nggak sih nulis???, nggak saya bilang gampang karena memang proses nulis nggak se instan makan mie. Tapi  juga nggak mau bilang kalau nulis itu susah, karena saya sedang mencoba mendisiplinkan setiap kata yang diucapkan hanya untuk sesuatu bermakna positif. Intinya bagi saya, nulis itu punya sisi yang membuat diri merasa istimewa memiliki kemampuan itu.
                Kenapa?, apa istimewanya?.
Istimewanya kita akan berusaha untuk tau banyak hal. Dengan menulis, kebutuhan meng upgrade diri  menjadi sesuatu  yang teramat penting. Membaca adalah  sebuah keharusan bahkan dalam hal ini menjadi kewajiban.  Tanpa membaca tentu akan semakin tidak mudah  untuk menulis, karena salah satu keuntungan lain yang di dapat dari membaca adalah menabung lebih banyak kosa kata, dan tentu saja  akan sangat membantu proses menulis yang dilakukan.
Saya pernah membuktikan terkait itu tanpa di sengaja. Satu ketika ambisi untuk menjadi penulis produktif meningkat, dalam benak saya adalah tentang bagaimana menghasilkan tulisan sebanyak-banyaknya. Prinsipnya nulis dulu aja, soal hasil belakangan.
Dan….. eng…. Ing….eng……. yang terjadi adalah, saya asik nulis lupa baca. Kenpa demikian?, karena belum menyadari bahwa menulis dan membaca adalah satu kesatuan, seperti pasangan tak terpisahkan. Seorang bisa saja menjadi pembaca tanpa menulis, tapi dia tidak akan pernah bisa menulis tanpa membaca. Bahkan ketika kamu tetap berusaha menulis tanpa membaca, pengalaman yang akan ditemukan adalah “Writers’ Block”, satu kondisi dimana seorang penulis kesulitan menuangkan ide  dangagasan  ke dalam tulisan.  
Kalaupun tetap bisa menuangkan gagasan dalam bentuk tulisan, keasikan  nulis lupa baca berdampak juga pada kualitas tulisan yang dihasilkan. Sama halnya dengan yang pernah saya alami ketika membaca ulang tulisan yang terlalu dipaksakan. Hasilnya benar-benar menyedihkan dan tidak enak di baca, mubazir nggak tuh?.
Bukan berarti tulisan ini berkualitas dan enak di baca ya J, saya masih dalam proses mempelajari  semua hal terkait kepenulisan. Setidaknya saya pernah mengalami bagaimana menyedihkannya menulis tanpa diiringi konsistensi membaca. Perlu kita ingat juga bahwa membaca tidak melulu melalui media buku. Di era yang serba digital ini, kita akan dengan mudah menemukan apa yang memungkinkan untuk di baca melalui media digital.

Tuesday, April 14, 2020

Perihal Jodoh yang Belum Kunjung Datang

April 14, 2020 1 Comments
Pic: Restorasidaily.com 


                Beberapa waktu lalu membaca tulisan salah satu teman di blog pribadinya. Sebuah tulisan dari pengalam di tanyai tentang kapan nikah?, kenapa belum nikah?dan lain sebagainya terkait itu. Hingga hal tersebut menimbulkan keresahan dan tanda tanya besar kenapa jodohnya belum kunjung datang.
                Pada beberapa orang, hal semacam itu  juga mungkin terjadi dan berdampak pada kemungkinan orang tersebut Baper, sedih, hingga terpuruk. Apalagi ketika di luar sana gadis atau perjaka seusianya banyak yang telah menikah bahkan punya anak.
                Sebetulnya reaksi  itu sah-sah saja. Dalam sebuah sebuah artikel, seorang psikolog klinis dari Personal Growth, Veronica Adelsa mengatakan bahwa secara psikologis baper saat ditanya kapan nikah itu adalah hal yang wajar.  
                Lalu bagaimana ketika baper itu menjadi keresahan mengapa jodoh kita tak kunjung datang?. Mulailah mengelola diri dan perasaan, keresahan bisa muncul karena beberapa faktor. Misal karena ketakutan jodoh kita benar-benar tidak akan datang, atau karena tidak percaya dengan bagaimana Allah memiliki sekian banyak cara mempertemukan seorang  hamba dengan pasangannya.
                Disamping itu, lingkungan juga mempengaruhi ikhtiar kita menemukan pasangan. Memang benar jika jodoh adalah  bagian dari kehendak Allah, kalo memang saat ini belum ketemu jodohnya artinya memang belum Allah pertemukan. Tapi disisi lain kita juga sering mendengar bahwa hidup adalah pilihan. Yaps….. kita memilih jalan mana dan kehidupan seperti apa yang kita inginkan melalui ikhtiar yang dilakukan, selanjutnya Allah yang merestui pilihan tersebut.
                Seandainya pun dari semua ikhtiar yang dilakukan Allah belum juga mempertemukan, itu kembali pada bagaimana Allah berkehendak. Yang jelas selalu ada kebaikan di balik itu semua, dan kamu harus percaya.
                Membahas panjang lebar perihal jodoh dari sisi yang seakan sangat bijaksana, memang gampang-gampang ringan. Apalagi yang nulis udah ketemu jodohnya. Emang tau rasanya di tanya terus kapan nikah?, tau rasanya takut jodoh nggak akan datang karena lintasan fikiran yang kadang menghantui?, tau bagaimana pertanyaan kapan nikah bisa jadi momok mengerikan dalam hidup?.
                “Tau donk, sebelum ketemu suami ada banyak cerita di balik penantian si dia”, haha….senyum satire mengiringi pernyataan ini.
                Intinya saya pernah ada di posisi itu, sedikit banyak tau bagaimana proses perjalanan menanti hingga menemukan pasangan. Pernah baper, takut hingga kecewa, terpuruk (“Haha…. Nyoba banget di dramatisir”).
                Yang jelas, dari pengalaman  terkait jodoh yang belum kunjung datang, adalah tentang seberapa penting mengelola hati, fikiran dan perasaan.  Jangan sekali-kali atau buang saja jauh-jauh fikiran bahwa jodoh kita tidak akan datang.
Yang terpenting adalah mulailah memperkuat keyakinan bahwa Allah memiliki sekian banyak cara mempertemukan kita dengan pasangan, sekalipun lintasan fikiran  yang kadang teramat logis, tidak bisa melihat dari arah mana Allah akan kirim sang pelengkap hidup bernama pasangan itu.
Selanjutnya adalah ikhtiar yang memungkinkan untuk kita lakukan. Jika pada prinsipnya perempuan hanya harus menanti, menantilah dengan cara yang tetap manusiawi sebagai seorang perempuan. Ikhtiar dengan berdoa dan semakin menjalin intensitas komunikasi antara diiri dengan Allah. Merayu dengan cara yang sangat elegan dan disukai oleh-Nya. Selebihnya serahkan semua hanya pada Sang maha segalanya .  


Tikus-Tikus Rumah, dan WFH

April 14, 2020 1 Comments
Picture from Pinterest

                Kalau ditanya tips unik apa yang bisa dilakukan selama masa karantina ini, saya punya dan mungkin bisa teman-teman coba.
                Jadi ceritanya  kemarin , ketika rebahan sambil share tugas sekolah anak-anak yang satu bulan terakhir ini dirumahkan. Saya mendengar teriakan orang rumah yang ketika dihampiri masing-masing sudah siap dengan alat tempurnya mulai dari sapu, sapu lidi hingga pel an. Eitsssss…. Alat-alat itu justru tidak digunakan untuk membersihkan rumah dan semua sudutnya.
                “Lah….. terus buat apa?”
                “Untuk berburu tikus rumah”
                Mungkin tidak semua orang merasa bermasalah dengan kehadiran mereka . Tapi sebagian besar orang termasuk saya merasa sangat bermasalah dengan gangguan yang ditimbulkan dari kehadiran para tikus rumah.
                Bau tidah enak, barang – barang yang tiba tiba hilang  karena di seret ke semua sudut rumah yang tidak terjamah manusia. Seperti kolong meja atau tempat tidur, di belakang mesin lemari pendingin hingga di bawah mesin cuci. Juga pakaian yang rusak karena digerogoti mulut tajamnya. Tidak hanya itu, kepanikanakan muncul ketika si tikut melintas begitu saja dihadapan kami membuat kehebohan tak terelakan.
                Didasari itu, Kemarin pagi kami mengisi masa WFH dengan sesuatu yang berbeda dari biasanya, yaitu berburu tikus –tikus rumah. Di awali dengan ketidak yakinan akan hal itu kami memberanikan  diri memberi reaksi atas kejengahan yang dirasa sudah cukup lama ini.
                Jengah??, ya….. sudah berbagai cara dilakukan untuk mengusir para tikus termasuk menyebar jebakan-jebakan agar meminimalisir kehadiran mereka. Hasilnya nol besar, hingga puncaknya adalah kemarin setelah beberapa hari lalu seisi rumah di bersihkan dan menciptakan suasana lebih nyaman. Tiba-tiba sang tikus rumah yang tidak  ditemukan sebelumnya justru dengan terang-terangan melintas dihadapan kami dan seolah mencari tempat untuk dijadikan sarang baru bagi mereka.
                Alhasil, kami memutuskan untuk menutup semua akses keluar masuknya para tikus tersebut. Mulai dari menutup semua  lubang yang mereka ciptakan di banyak sudut ruangan, menutup beberapa plafon yang juga sudah terlanjur berlubang. Dan yang terakhir memburu para tikus rumah yang masih berkeliaran dan membunuhnya.
                Agak mengerikan memang mendenga kata membunuh itu. Tapi dari apa yang pernah saya dengar serta beberapa literatur yang pernah di baca. Mengingat tikus merupakan hewan perusak yang merugikan, maka kita di perbolehkan untuk membunuhnya namun tetap memperhatikan cara  membunuhnya.
                Jadilah Work From Home hari kemarin diisi dengan berburu tikus rumah. Dengan senjata alat kebersihan seadanya kami mengeksekusi para tikus di tengah ketakutan semua orang rumah. Jelas saja, diantara kami tidak ada yang berani memegang tikus, bahkan sekedar tidak sengaja mengenai tubuhnya ketika tikus melintas, kami akan heboh luar biasa.
                Dan hari kemarin, di tengah ketakutan itu kami memperoleh keseruan setelah hampir satu bulan menjalani seluruh aktivitas #dirumahaja. Apa yang membuat ketakutan menjadi keseruan?, yaitu proses perburuan yang diwarnai gelak tawa karena tingkah masig-masing dari kami yang berusaha tetap melindungi diri dari kontak langsung dengan para tikus rumah.
                Mungkin teman-teman mau mencoba menghibur diri sekaligus meminimalisir keberadaan tikus yang sangat merugikan di dalam rumah. Ini patut di coba J.

Friday, April 10, 2020

Kekuatan Kalimat Mama

April 10, 2020 3 Comments
Arsip Pribadi 


              Bagi kita yang tidak terlahir dari keluarga dengan kemampuan menjamin serta memfasilitasi segala jenis kebutuhan mulai dari primer, sekunder hingga tersier, tentu untuk memenuhi apa yang kita inginkan menjadi sesuatu yang tidak cukup mudah. Dengan kata lain kita perlu usaha lebih keras dari mereka yang telah terjamin segala bentuk kebutuhan tersebut.

            Seperti hal nya dalam hak memperoleh pendidikan setingi-tingginya.  Jika mereka terlahir dari keluarga yang  dikatakan kaya, mungkin akan lebih mudah  untuk mewujudkan keinginan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Bagi yang tidak seberuntung itu, dengan kata lain terlahir dari keluarga kurang mampu tentu kita harus lebih keras memutar otak bagaimana agar terpenuhi keinginan tersebut. Contoh nya mencari beasiswa atau justru dengan berat hati harus menunda.

              Saya tidak sedang membahas siapa yang beruntung atau tidak dalam hal ini. Justru  saya akan berusaha mengenyampingkan fakta tersebut, karena hakikatnya terlahir dari keluarga seperti apapun semua berkesempatan memperoleh pendidikan hingga jenjang yang paling tinggi sekali pun.

                “Tapi kan sekolah butuh biayabesar?”

                “Beasiswa?, emang gampang dapet beasiswa?”

               Fakta itu juga benar adanya, biaya pendidikan yang terbilang mahal serta tidak mudahnya seseorang memperoleh beasiswa tentu menjadi tantangan tersendiri. Tidak hanya itu, fakta ini juga membangun ketakutan individu untuk bermimpi dan berharap meraih apa yang dicita-citakan.

            Terlepas dari itu semua, dari apa yang pernah terjadi dan saya alami dalam proses menempuh perjalanan memperoleh pendidikan. Saya berfikir bahwa kita hanya perlu memiliki lingkungan yang tepat, positif serta penuh optimisme.

          Sejak pengumuman kelulusan SMA, yang saya fikirkan adalah tentang bagaimana menjalani kehidupan setelahnya. Setelah tahu bahwa saya tidak lulus SNMPTN, belum berkesempatan memperoleh beasiswa untuk melanjutkan sekolah ke jenjang berikutnya. Dan sudah pasti dengan berat hati menunda keinginan untuk kuliah di tahun tersebut.

               Mama yang kala itu sudah hampir 6 tahun menjalani hidup sebagai orang  tua tunggal bagi ke lima putrinya. Sudah sejak awal bahkan jauh sebelum saya lulus SMA, dia selalu mengatakan bahwa tidak akan menanggung biaya kuliah dan akan sepenuhnya menyerahkan tanggung jawab tersebut pada saya secara pribadi. Dan hal itu selalu ia ungkapkan kepada seluruh anak-anaknya, tidak hanya saya.

             Kami amat sangat mengerti dan tidak satu pun merasa tersakiti dengan pernyataan mama terkait ketidak mampuannya menyekolahkan kami ke jenjang yang lebih tinggi. Mengapa demikian?, itu karena mama hidup sebagai pribadi yang positif dan penuh optimisme, selalu yakin bahwa anak-anaknya mampu mengenyam pendidikan layaknya mereka yang secara finansial mampu melakukan itu. Dan beruntungnya kami, sikap positif dan optimisme tersebut mampu ia tularkan dengan caranya sendiri.

         Menghujani kami dengan kalimat-kalimat positif, membangun optimisme yang menyelamatkan kami dari kelemahan berfikir yang beresiko menjatuhkan kepercayaan diri dalam meraih mimpi.

              Benar, jika secara finansial mama tidak menjamin pendidikan kami.  Tapi mama berhasil membangun lingungan yang baik dalam keluarga, membangun sikap positif dan optimis bahwa kami mampu membiayai pendidikan secara mandiri hingga sampai pada titik yang menjadi harapan terbesar mama terhadap kami ke liman putrinya.

             Kekuatan  dukungan moril berupa kalimat – kalimat positif yang membangun memang terdengar sepele, bahkan mungkin bagi sebagian individu hal tersebut tidak memberi begitu banyak pengaruh signifikan bagi kehidupa seseorang. Tapi mama melakukanny dan membuktikan bahwa hal sekecil itu mampu membawa anak-anaknya pada sebuah kepercayaan diri meraih apa yang menjadi mimpi besar kami.

            Bahkan hingga hari ini, setelah beliau tiada sekitar 3 tahun yang lalu, saya masih selalu ingat seperti apa kalimat-kalimat positif yang sering ia ucapkan. Sebesar apa kalimat itu memberi pengaruh positif hingga saya dan kakak-kakak menyelesaikan pendidikan kami. Dan itu pula yang kemudian menjadi kekuatan terbesar saya untuk bisa kembali berjuang melanjutkan pendidikan  pada jenjang berikutnya.

 Doakan, saya masih memiliki harapan serta mimpi  besar untuk melanjutkan S2, berbekal kalimat-kalimat positif dari mama yang selalu terngiang semoga saya bisa mewujudkannya. Aamin….

 


Thursday, April 9, 2020

Hati-Hati Mengubah Kuota Edukasi ke Flash!!

April 09, 2020 2 Comments


Pic from lamgalleryla.com
Pic Froml : lamgalleryla.com

Sudah dapat kuota edukasi 30 Gb bagi kamu pengguna Indosat?. Saya dapat dan alhasil tidak bisa digunakan selain untuk membuka aplikasi belajar online seperti ruang guru dan kawan-kawannya. “Yah, sayang sekali punya kuota 30 Gb tapi nggak bisa digunakan untuk mengakses aplikasi di luar aplikasi belajar online”.

          Nah….. baru-baru ini banyak artikel dan video tutorial untuk mengubah kuota edukasi menjadi kuota reguler agar dapat digunakan untuk mengakses Google, Facebook, Youtube dan sosial media lainnya. Lalu tiba-tiba jiwa missquaya saya meronta mendengar kabar tersebut, mengingat saya juga punya kuota edukasi 30 Gb dari indosat.

            Jadi, ceritanya tadi sore saya praktekin tuh tutorial mengubah kuota edukasi menjadi kuota reguler. Dari proses yang dilalaui saya cukup teryakinkan bahwa cara itu akan berhasil membuat kuota edukasi nggak jadi mubazir.

          Setelah restart android akhirnya saya bisa akses semua sosial media padahal kuota utama sudah habis. Seneng donk…..dalam hati “Wah… aman nih, nggak perlu beli kuota”, secara buat aku 30Gb itu terbilang banyak dan menjamin kebebasan berselancar di dunia maya selama satu bulan ke depan.

        Setelah berinternet ria selama hampir 20 menit, tiba-tiba saya merasa perlu cek aplikasi MyIm3 untuk tahu apakah kuota edukasi berkurang setelah dalam 20 menit sebelumnya saya gunakan. Ternyata eh ternyata kuota edukasi masih tetap di angka 30 Gb tanpa berkurang sedikit pun.

          Sampai sini saya mulai curiga, “Kok bisa nggak berkurang?”. Bukanya proses yang sebelumnya saya lakukan hanya mengubah jenis kuota, dengan begitu jumlah kuota akan tetap berkurang jika digunakan. “Lah, bahaya nih, dari mana kuotanya kalau bukan dari kouta edukasi tadi?’’. Akhirnya saya coba search tentang apa yang baru saja di lakukan, termasuk tentang aplikasi bernama psiphon pro yang digunakan, manfaat serta keamanannya.

         Ternyata aplikasi tersebut merupan Aplikasi VPN (Virtual Private Network) dimana dia berfungsi salah satunya sebagai koneksi untuk mengakses situs yang di blokir oleh pemerintah,  seperti saat pemilu 2019 lalu saat pemerintah membatasi penggunaan beberapa sosial media, dengan VPN ini beberapa orang tetap bisa mengaksesnya.

           Fungsi yang lain dari PVN bisa juga untuk memperoleh koneksi internet gratis yang saya sendiri sebagai orang awam nggak tau dari mana asal koneksi internet tersebut. Yang jelas setelah saya mencoba menggunakan aplikasi Psiphon pro kuota 30Gb yang dimaksud tidak berkurang jumlahnya meskipun telah digunakan selama sekitar 20 menit lamanya.

         Sampai disini saya merasa ada  yang nggak beres, kita tidak tau dari mana sumber koneksi internet tersebut. Sudah jelas bukan dari 30Gb kuota edukasi yang coba di rubah menjadi kuota reguler, karena faktanya kuota tetap tidak berkurang setelah beberapa lama di gunakan.

Lalu dari mana?, entahlah. Namun secara harfiayah menggunakan koneksi internet gratis dalam konteks ini berarti kita telah mengambil tanpa izin pihak penyelenggara, itu artinya secara tidak langsung kita telah mencurinya, haram dan dosa. Disamping itu masih banyak bahaya-bahaya dari tidak selektifnya memilih VPN gratis yang kemudian diinstal ke perangkat kita.

         Sampai di akhir saya menulis artikel ini, beberapa saat saya kembali membuka situs yang membahas terkait “Mengubah kuota edukasi menjadi kuota reguler”. Yang menarik, pada sebuah situs di jelaskan bahwa tindakan merubah kuota edukasi ke flash atau reguler bisa di jerat pasal 362 juncto 30, 32 Undang-Undang (UU) Nomor 11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE).

          Jadi sampai sini jelaskan?, bahwa cukup beresiko mengubah kuota edukasi keflash atau reguler. disamping itu berat pula pertanggung jawabannya kelak.

 


Wednesday, April 8, 2020

Kenapa Aku Disalahkan?

April 08, 2020 3 Comments


“Mas, dengar aku dulu!”. Sambil berlalu dan membanting pintu, mas Rama tidak mengindahkan perkataanku.
                Perdebatan kami menyisakan isak yang sudah tak mampu lagi ku tahan. Mengapa suamiku tak ada bedanya dengan mereka yang selalu berfikir bahwa aku adalah sebuah ancaman.
                Hatiku semakin begejolak, dalam lelah yang belum sempat ku suguhi kelegaan bernafas. Setibanya aku di tempat yang seharusnya memberi ketenangan, yang ku dapati adalah fakta sebaliknya. Bahkan ketika aku masih berjalan kaki selepas naik angkutan umum.
                Memasuki gerbang perkampungan di pinggir kota Jakarta, seperti biasa aku berjalan tanpa lupa menyapa para tentangga yang berpapasan denganku. Hari ini memang tampak lebih sepi dari biasanya, tapi aku masih mendapati orang-orang yang tetap beraktifitas setelah anjuran di rumah aja mulai diberlakukan satu minggu belakangan.
                Melewati sekitar 3 rumah dari gerbang perkampungan yang tampak lebih rapi ini, seketika degup jantungku terasa berhenti sejenak begitu pun langkahku. Terkejut dengan suara yang samar-samar ku dengar. Seorang wanita paruh baya yang semula sibuk dengan aktifitas menjemur pakaian, seketika bergegas masuk rumah dan berkata “Duh…… ada virus”.
                Tak terasa mataku sudah digenangi linangan air mata, aku  bergegas menuju rumah orang tua suami yang hampir 2 tahun terakhir kami tempati. Sesampainya di depan rumah, ku dapati pak Rt keluar dengan pandangan penuh stigma. Sempat menyapa dan melempar senyum satirenya Pak RT di temani salah satu warga bergegas meninggalkan rumah kami.
                Tanpa fikir panjang aku segera masuk dengan harapan dapat segera melepas lelah setelah hampir 3 hari  tidak pulang. Maklum pandemic Covid-19 yang kian hari kian merebak mebuat aku dan teman-teman di rumah sakit harus bekerja ekstra keras, bahkan beberapa tenaga medis nyaris tumbang karena terlalu lelah bekerja dengan jumlah waktu istirahat yang amat sanangat terbatas.
                Tapi apa yang kemudian ku dapati?.
                “Assalamualaikum, mas”, menghampiri suamiku yang tertunduk di sofa ruang tamu.
                “Waalaikumsalam, Apa-apaan kamu Rin?, jangan dulu menghampiriku”, denga langkah sigap dia menghindari ku, bahkan dia tidakmengindahkan saat aku mengulurkan tangan hendak menyalaminya. “Kamu belum mandi Rin, belum mencuci seluruh pakaianmu dan  benar-benar menjamin kalau kamu nggak bawa virus ke rumah ini”, tambahnya.
                “Tapi mas, aku sudah mencuci tangan sebelum pulang dan aku sempat menggunakan hand sanitizer sebelum masuk ke dalam rumah”.
                “Tatap saja aku nggak mau ambil resiko Rin”.
                “Tapi Mas……”, belum sempat aku melanjutkan perkataan mas Rama memotongnya dengan nada yang sedikit meninggi. “Sudah jangan membantah, aku sudah di buat pusing dengan kedatangan pak RT dan sindiran orang-orang kampung yang bilang kalau kamu bawa virus dari rumah sakit, jangan tambah kepusinganku dengan ngeyel seperti itu, cepat masuk dan bersihkan badanmu”.
                Aku tidak lantas menuruti mas Rama, apa-apaan ini?. Ternyata benar yang aku dengar tadi, seorang ibu mengatakan “Ada Virus” setelah ia melihatku.
                “Mas, Lalu apa mau mereka?
                “Ya, mereka mau kamu jangan pulang ke kampung ini dulu sampai kondisi benar-benar kondusif”.
                “Mas, aku sehat,aku tidak sama sekali  menunjukkan bahwa aku teridikasi covid-19.”
                “Orang-orang mana mau tau Rin!,bagi mereka keberadaan kamu disini seperti sebuah ancaman.”
                “Apa mas juga berfikir begitu”
                “Iya……. Aku khawatir kamu benar-benar membawa virus itu”
                “Kamu nggak percaya sama aku Mas?’’
                “Maaf Rin,”. Mas Rama berlalu meninggalkanku.
                Deras air mataku menjatuhkan butir-butir kesakitan atas kesalahan yang tidak aku lakukan. Ya…..karena ini bukan kesalahan, lalu kenapa aku disalahkan?.