Wednesday, April 29, 2020

Seandainya Jadi Dia Apa Aku Bisa?

April 29, 2020 0 Comments

Langkahnya pasti mengelilingi setiap sudut bangunan dua lantai itu. Senyum merekah ia tunjukkan pada orang yang ditemuinya. Menyapa lalu melanjutkan pekerjaan yang sedikitpun tak tampak membebaninya. ⁣
Sepertinya dia selalu berada di sana, menetap dan menjaga segala yang tempat itu butuhkan. Memastikan segalanya telah benar-benar rapi, bersih dan nyaman. ⁣
Tempatku bekerja tidak jauh dari tempat itu. Hampir setiap hari aku menyaksikan betapa semangat yang ia hadirkan tidak pernah surut. Mengabdikan diri untuk menjaga tempat mulia rumah sang pencipta. ⁣
Aku tersentuh dengan bagaimana caranya menikmati apa yang tengah ia kerjakan. ⁣
Tanpa keluhan, menebar senyuman disela kesibukannya merawat Rumah Allah. ⁣
Rumah yang akhirnya memberi kerinduan karena kenyamanan yang dihadirkan. Indah, wangi, bersih dan tertata rapi. ⁣ahh, mulia sekali membuat kami selalu merasa nyaman berada disini. 
Pak Marbut mesjid itu benar-benar melakukan pekerjaannya dengan hati. ⁣
Malu rasanya pada diri yang masih selalu mengeluhkan hidup ini. Mengeluhkan pekerjaan yang kadang terasa melelahkan. Seandainya menjadi dia apa mungkin aku bisa?.

 #rwcodop2020 #onedayonepost #odopday6 #ramadhan2020

Jangan Tiru Trik Bangunin Sahur Ini !

April 29, 2020 0 Comments


Memasuki hari ke lima ramadhan, selain euforia berbuka dan ngabuburit keseruan juga dihadirkan ketika sahur tiba. Mulai dari yang parnoan takut kesiangan sampe yang susah dibangunin sahur banyak menghadirkan kisah-kisah menarik.⁣

Bangunin sahur itu memang perlu trik dan kerja agak keras. Mengingat jam sahur adalah saat dimana orang sedang enak-enaknya tidur sambil selimutan. ⁣
Terkadang bangunin orang sahur hanya dengan memanggil dan meminta bangun agak sulit membuahkan hasil. ⁣

Dulu, jauh sebelum menikah saya sempat tinggal bersama kakak dan keponakan-keponakan. Bangunin ponakan saat sahur jadi tugas yang memang kadang bikin banyak ngelus dada saking susahnya mereka bangun. Sampe akhirnya nemu trik bangunin sahur yang nggak perlu waktu lama auto bikin mereka langsung sadar :)⁣

Entah terlalu ekstrim atau nggak trik ini. Saya malas berteriak untuk membangunkan mereka, akhirnya saya lakukan dengan cara ini. Menutup lubang hidung dan mulut sampai agak kesulitan bernafas. ⁣
Cara ini membuat mereka auto angkat badan dan langsung tersadar dari tidurnya. Nggak ada lagi alasan untuk nggak bangun. Dan nggak ada teriakan saya yang terus berusaha membangunkan mereka. ⁣

Semoga ini trik yang nggak masuk kategori kriminal ya, hehe.... ⁣
Sejauh ini Alhamdulillah efektif dan aman terkendali.


#rwcodop2020 #onedayonepost #odopday5 #ramadhan2020

Maklor Pelangi ⁣ ⁣

April 29, 2020 0 Comments

Ramadhan oh ramadhan, banyak kenikmatan yang nggak didapat di luar bulan penuh kemuliaan ini. Semua momentum yang di lewati setiap hari rasanya istimewa dan selalu dinanti. ⁣
Termasuk ketika tiba waktu berbuka. ⁣
Apasih menu berbuka yang yang paling kamu suka dan harus ada?. ⁣


Kalau aku selalu merasa ada yang kurang seandainya takjil tidak disertai gorengan, "maafkan ya Allah". ⁣

 Ngomongin soal gorengan ada satu makanan yang nggak pernah bikin saya bosen, si dia adalah martabak telor atau nama kerennya maklor. ⁣
Selain enak, bikin nya nggak susah, bahan-bahan yang diperlukan untuk membuat maklor juga familiar banget. ⁣

Cekidot...... Buat tau gimana dan  apa saja bahan yang diperlukan untuk membuat "Maklor Pelangi".⁣

Eitsssss....... Kok Maklor Pelangi???? ⁣
Haha, itu sih saya yang sedikit improvisasi namanya mengingat betapa sukanya mak-mak ini sama maklor yang isinya warna warni dengan sayuran macam kentang, wortel, buncis, daun bawang dan cabe merah. ⁣

Bahan-bahan yang di perlukan⁣
-  2 buah wortel ukuran sedang ⁣
-  2 buah kentang ukuran sedang ⁣
-  5 buah buncis ⁣
-  3 siung daun bawang ⁣
-  2 buah cabe merah ⁣
-  2 butir telur⁣
-  2 siung bawang merah ⁣
-  2 siung bawang putih⁣
-  kulit lumpia⁣
-  minyak goreng ⁣
-  penyedap rasa, garam dan merica secukupnya⁣


Langkah pertama yang di lakukan untuk mengolahnya adalah dengan memotong semua bahan menjadi bentuk dadu kecil, cabe dan daun bawang menyesuaikan. ⁣

Tumis semua sayuran dengan bumbu-bumbunya sesuai selera. Matikan kompor dan masukan 2 butir telur kemudian aduk merata. ⁣

Berikutnya isi kulit lumpia dengan sayuran yang telah di tumis, lalu lipat bentuk memanjang atau persegi sesuai selera. Terakhir tinggal goreng dengan api sedang dalam minyak yang telah di panaskan.

Gampang kan??, Selamat mencoba ya.....

#rwcodop2020
#onedayonepost #odopday4 #ramadhan2020 ⁣

Nabuburit Ala Emak-emak

April 29, 2020 0 Comments

"Ngalantung ngadagoan burit" merupakan kepanjangan dari istilah dalam Bahasa Sunda yang sangat populer ketika ramadhan tiba. Yaps...... Ngabuburit, pasti tau donk istilah ini???. .
.

Ngabuburit seakan telah menjadi budaya masyarakat Indonesia saat ramadhan tiba.  Aktifitas yang di lakukan ketika menunggu waktu berbuka ini tidak melulu aktifitas yang berbau agamis. Mulai dari berburu kudapan berbuka, menonton acara televisi, membaca buku,  berkumpul dengan teman atau sekedar bermain di halaman rumah bagi anak-anak. Terkait ngabuburit setiap orang memiliki cara berbeda untuk memaknai itu dengan berbagai aktifitas.

Lah..... Saya sendiri ngapain kalo ngabuburit???.

Dari dulu saya bukan bagian dari yang membudayakan aktifitas ngabuburit. Kalau saja sempat saya ke luar dengan teman-teman, sesekali saya pergi berburu takjil, selebihnya saya melakukan aktifitas yang sudah biasa di lakukan di luar bulan ramadhan.

Nah sekarang, setelah berstatus sebagai ibu rumah tangga, ngabuburit saya layaknya ibu rumah tangga yang lain. Di sebuah ruang dengan perkakas khasnya. Melalukan dengan hati, mempersiapkan makanan untuk berbuka puasa.
Itu juga ngabuburit kan?, mengingat memasak memerlukan waktu yang tidak sebentar. Dan itulah pengalaman ngabuburit saya memasuki hari ke dua ramadhan, sepertinya akan begitu hingga satu bulan ke depan. Bolehlah sesekali berbuka puasa di luar rumah, tapi rasanya tidak untuk ramadhan di tengah pandemi seperti tahun ini. Jadi nikmatilah ngabuburit dengan tagar #dirumahaja.

Ramadhan Tempo Doeloe "Aku Rindu" .

April 29, 2020 0 Comments


Banyak orang bilang, jangan lagi lihat masa lalumu, nanti kamu sulit melihat masa depan yang menawarkan banyak kesempatan baik. Mungkin iya begitu, tapi dalam konteks lain ada masa lalu yang darinya kita belajar banyak hal baik pula.

Masa lalu dengan ragam kisah sederhana yang kini selalu mengundang rindu. Rindu pada banyak hal, termasuk peristiwa dan sosok-sosok di dalamnya.

Layaknya kini, saat ramadhan yang melukis kembali kerinduan pada ramadhan di masa lalu. Ketika jiwa ini belum memunculkan sisinya yang mendewasa, ketika ego masih menjadi yang terdepan, dan ketika masalah terbesar diri, hanya terletak pada bagaimana memecahkan soal matematika kelas 4 SD.

Ramadhan yang memberi kesan mendalam. Ketika waktu berbuka diisi aktifitas ngabuburit ala pedesaan dengan keliling kampung naik delman. Ketika waktu tarawih menjadi momentum paling dinanti untuk berbondong-bondong mencari shaf  paling belakang, agar dapat menyimpan kwaci di bawah sejadah, dinikmati di sela-sela bertarawih (ah... keterlaluan sekali, tapi masa kecil seperti itu yang sulit hilang dari ingatan).

Dan yang paling dirindukan adalah ketika tak lagi ku dengar orang-orang berkeliling kampung untuk membangunkan sahur sebagaimana dulu itu menjadi kekhasan ramadhan kami.

Aku benar-benar merindukan saat-saat itu. Terlebih ketika kini harus berlapang dada melakukan ibadah tarawih sendiri di rumah karena soscial distancing setelah  wabah yang menyerang negara api "Eh... Dunia maksudnya".
Yang jelas, sulit dijelaskan sebesar apa kerinduan yang kini terasa. Ingin kembali tapi bukan hal mudah dan nyaris tidak mungkin. Sayangnya aku tak punya mesin waktu untuk kembali ke sana dan menikmati ramadhan kala itu.

Pada masa lalu, hanya ingin ku  sampaikan "Aku Rindu"

#rwcodop2020 #onedayonepost #RWCDAY2 #Ramadhan2020

Karena Iklan Khas Ramadhan

April 29, 2020 0 Comments
Mendaki gunung lewati lembah, tanpa tersesat karena terlalu menikmati perjalanan. Sampai ku di padang rumput yang entah dimana ini, tak pernah ku lihat sebelumnya. Indah dan sejuk saat ku hela nafas. .

Tiba-tiba perhatianku tertuju pada sebuah sungai di tengah hamparan Padang rumput ini, indah sekali. Sungai dengan aliran air yang tak seperti biasanya. Warnanya merah, tapi tidak membuatku takut. Ya..... Itu bukan darah, aromanya terlalu wangi untuk sebuah darah. .

Seperti aroma buah stroberi yang segar. Warna merah yang tampak pun bening dan membuatku menelan ludah membayangkan kesegarannya, jika ku minum mungkin akan  terasa manis. Inikah surga yang menawarkan segala yang tidak ada di bumi?. .

Ku hampiri sungai itu dan akan ku coba nikmati kesegaran yang telah memenuhi seisi kepalaku. Semakin dekat semakin bersemangat. Sampai ku di tepian sungai dan hendak ku sentuh aliran air nya. Tapi ku dengar suara yang entah dari mana. "Bangun Wi,  apa puasa mu di gunakan untuk memperbanyak kwantitas tidur?".

Seketika terdengar keras  suara pintu yang tertutup. Kakakaku sengaja membangunkan tidur yang indah di tengah dahaga ini, sebelum sempat ku nikmati aliran sungai seperti yang ku lihat di mimpi. ..

Ah...... Aku menyesal menonton tv dan melihat iklan minuman itu sebelum tertidur. Masih beberapa jam menuju berbuka dan bersabarlah wahai diri.

#rwcodop2020 #onedayonepost
#rwcday1 #ramadhan2020

Tuesday, April 21, 2020

Emansipasi Versi Kartini dan Kini

April 21, 2020 0 Comments
   
       
R.A Kartini, pada masanya adalah perempuan dengan ketajaman fikiran yang mampu membuat perempuan Indonesia berlindung di bawah kata "Emansipasi Wanita". Dimana Emansipas bermakna kesetaraan antara laki-laki dan perempuan dalam segala pemenuhan hak sebagai warga negara. 

        kesetaraan menjadi penting. Mengingat kala itu, perempuan benar-benar memiliki derajat jauh di bawah laki-laki. Tidak memiliki hak menentukan pilihan bahkan dalam memilih  pasangan hidupnya sendiri. Perempuan pada masa itu  juga tidak diperkenankan menempuh pendidikan yang tinggi. 

        R.A Kartini merasa perlu menyuarakan pikirannya dengan melakukan hal-hal yang memungkinkan untuk merubah kedaan kala itu. Salah satu upayanya adalah mendirikan sekolah perempuan pertama dengan kesadaran bahwa pendidikan dalam hal ini adalah sebuah langkah awal.

          kerja kerasnya berbuah manis bahkan hingga ia hanya hadir sebagai sebuah nama besar yang disandangnya "Pahlawan emansipasi". 

         benar-benar perwujudan dari sebuah perjuangan yang di lakukan Kartini?. Benarkah yang ia lihat hari ini adalah apa yang ia inginkan atas perjuangannya?.

        Emansipasi semakin menunjukkan pergeseran makna. Bahkan untuk fenomena yang banyak terjadi belakangan pada kaum perempuan. Sesuatu yang tidak harus mati-matian dilakukan perempuan, tidak pantas dan mencederai harga diri seorang perempuan seakan dilindungi oleh "emansipasi wanita". 

Apa sebenarnya makna emansipasi?. Benarkah itu adalah sebuah istilah untuk melindungi sebuah ketidak pantasan?.

Jelas tidak, Emansipasi adala kesetaraan hak, bukan upaya mengeluarkan perempuan dari qadrat yang sesungguhnya. 

Emansipasi versi Kartini harus tetap sama dengan apa yang kini terjadi. Jangan membiarkan emansipasi hanya sebagai alibi untuk melindungi diri. 

Monday, April 20, 2020

Saat Atret Bukan Tentang Apa

April 20, 2020 13 Comments
Picture from: infomenarikaza.blogspot.com


            Jujur baru satu minggu belakangan saya tahu istilah atret itu apa. Berasal dari bahasa Belanda dan sering digunakan dalam teknik mengemudi yang artinya “mundur”. Saya sih kurang familiar dengan kata itu, bahkan nyaris tidak pernah mendengar sebelumnya.

          Belakangan saya berada pada momentum mendengar kata “Atret” tersebut, namun bukan dalam konteks “Apa itu atret?” melainkan “Siapa sebenarnya Atret, atau yang lebih akrab di sapa Si Atret?”. Lagi-lagi sebelumnya saya nggak pernah dengar siapa sosok itu.

                Menurut cerita, Si Atret adalah seorang kakek dengan masalah kejiwaan. Konon sebetulnya dia terlahir sebagai anak orang kaya, dan semula ia tidak bermasalah dengan jiwanya. Suatu ketika dia meminta dibelikan sebuah mobil oleh orang tuanya. Namun, mereka tidak pernah mewujudkan keinginan sang anak hingga ia memiliki masalah kejiwaan karena hal tersebut.

               Entah apa yang kemudian terjadi hingga Kakek yang akrab disapa Si Atret tersebut berakhir dengan menjalani lebih dari separuh hidupnya di jalanan. Setiap hari berjalan membawa dua buntalan besar disisi kanan dan kirinya, berkeliling kota dimana saat ini saya tinggal, sebuah kota yang pada akhirnya melegendakan sang kakek sebagai salah satu icon Kota kami, Sukabumi.

             Belum lama ini, suami saya memperlihatkan potret Si kakek jalanan, baginya si kakek membawa  kenangan  masa kecil yang berkesan tatkala ia mendengar kata “Atret”. Kakek Atret bukanlah Orang Dengan Masalah Kejiwaan (ODMK) yang membahayakan atau  menyerang orang disekitarnya. Justru    ia selalu terlihat menyenangkan dan menghibur terutama bagi  anak-anak  kecil kala itu. Jelas bukan tanpa alasan.

            Pasalnya, kira-kira antara tahun 1999 hingga 2000an, bagi suami yang secara langsung mengalami itu. Kenangan menghampiri Si kakek Atret ketika bermain di Alun-alun Cisaat bersama teman-temannya, menjadi momentum yang sulit terlupakan hingga saat ini.

                Si Kakek yang tidak secara sengaja menghibur dengan gaya khas, menjadikan orang-orang mudah mengenalinya. Seperti bagaimana cara ia berjalan seolah-olah dirinya membawa sebuah mobil, memarkir mobilnya dan bergerak mundur jika seseorang menyimpan sebuah batu tepat dihadapannya. Yang dari semua kebiasaannya itu munculah julukan “Si Atret” yang berarti “mundur”.

                Kakek  yang diperkirakan telah 30 tahun menghabiskan waktunya dengan berjalan kaki berkeliling Kota Sukabumi ini, memiliki ciri khas lain. Ketika orang-orang di sekitarnya meminta ia melantunkan shalawat, maka yang akan ia   ucapkan  adalah “Pakuluman …….. pakuluman”, begitu katanya.  Dan banyak orang terkesan dengan itu.

                Hingga kakek Atret dikabarkan meninggal pada Januari 2015. Tak di sangka banyak dari warga Sukabumi juga mereka yang tengah berada di Luar Kota ikut berbela sungkawa atas kepergiaannya. Bahkan beberapa orang menyebutnya sebagai Legenda, dan yang membuat saya tersentuh adalah ungkapan bahwa “Lain urang Sukabumi mun teu apal Si Atret” ( Bukan orang Sukabumi kalau nggak kenal Si Atret).





                Yang teramat luar biasa lagi adalah ketika saya tahu bahwa sang legenda telah di abadikan sosoknya dalam sebuah pemetasan Drama Komedian Sunda bertajuk “Si Atret Jadi Potret” oleh Komunitas Teater Sukabumi. Membuktikan betapa berkesannya ia di hati banyak orang.


                Seorang Kakek dengan masalah kejiwaan ini adalah teman masa kecil bagi mereka yang kini telah tumbuh dewasa. Sulit dilupakan, karena sosoknya yang teramat berkesan. Dia bukan siapa-siapa, pejabat, aktor atau orang yang memberi pengaruh besar bagi Kota Sukabumi. Tapi bagi mereka yang tahu siapa “Si Atret”, mereka akan selalu ingat bahwa dia benar-benar sempat mewarnai sukabumi dengan kisah dan kekhasan yang selalu melekat pada dirinya, bahkan hingga ia telah tiada.

Wednesday, April 15, 2020

Asik Nulis Lupa Baca

April 15, 2020 2 Comments
Pinterest.com


                Bagi mereka yang suka bermain dengan kata-kata, merangkainya menjadi kalimat bermakna dan enak dibaca, menulis tentu menjadi sesuatu yang menyenangkan. Seperti hal nya saya, walaupun sangat perlu proses panjang untuk menyadari bahwa  menulis adalah aktivitas menyenangkan, tapi disadari atau tidak saya sudah semakin terbiasa dengan itu.
                Gampang nggak sih nulis???, nggak saya bilang gampang karena memang proses nulis nggak se instan makan mie. Tapi  juga nggak mau bilang kalau nulis itu susah, karena saya sedang mencoba mendisiplinkan setiap kata yang diucapkan hanya untuk sesuatu bermakna positif. Intinya bagi saya, nulis itu punya sisi yang membuat diri merasa istimewa memiliki kemampuan itu.
                Kenapa?, apa istimewanya?.
Istimewanya kita akan berusaha untuk tau banyak hal. Dengan menulis, kebutuhan meng upgrade diri  menjadi sesuatu  yang teramat penting. Membaca adalah  sebuah keharusan bahkan dalam hal ini menjadi kewajiban.  Tanpa membaca tentu akan semakin tidak mudah  untuk menulis, karena salah satu keuntungan lain yang di dapat dari membaca adalah menabung lebih banyak kosa kata, dan tentu saja  akan sangat membantu proses menulis yang dilakukan.
Saya pernah membuktikan terkait itu tanpa di sengaja. Satu ketika ambisi untuk menjadi penulis produktif meningkat, dalam benak saya adalah tentang bagaimana menghasilkan tulisan sebanyak-banyaknya. Prinsipnya nulis dulu aja, soal hasil belakangan.
Dan….. eng…. Ing….eng……. yang terjadi adalah, saya asik nulis lupa baca. Kenpa demikian?, karena belum menyadari bahwa menulis dan membaca adalah satu kesatuan, seperti pasangan tak terpisahkan. Seorang bisa saja menjadi pembaca tanpa menulis, tapi dia tidak akan pernah bisa menulis tanpa membaca. Bahkan ketika kamu tetap berusaha menulis tanpa membaca, pengalaman yang akan ditemukan adalah “Writers’ Block”, satu kondisi dimana seorang penulis kesulitan menuangkan ide  dangagasan  ke dalam tulisan.  
Kalaupun tetap bisa menuangkan gagasan dalam bentuk tulisan, keasikan  nulis lupa baca berdampak juga pada kualitas tulisan yang dihasilkan. Sama halnya dengan yang pernah saya alami ketika membaca ulang tulisan yang terlalu dipaksakan. Hasilnya benar-benar menyedihkan dan tidak enak di baca, mubazir nggak tuh?.
Bukan berarti tulisan ini berkualitas dan enak di baca ya J, saya masih dalam proses mempelajari  semua hal terkait kepenulisan. Setidaknya saya pernah mengalami bagaimana menyedihkannya menulis tanpa diiringi konsistensi membaca. Perlu kita ingat juga bahwa membaca tidak melulu melalui media buku. Di era yang serba digital ini, kita akan dengan mudah menemukan apa yang memungkinkan untuk di baca melalui media digital.

Tuesday, April 14, 2020

Perihal Jodoh yang Belum Kunjung Datang

April 14, 2020 1 Comments
Pic: Restorasidaily.com 


                Beberapa waktu lalu membaca tulisan salah satu teman di blog pribadinya. Sebuah tulisan dari pengalam di tanyai tentang kapan nikah?, kenapa belum nikah?dan lain sebagainya terkait itu. Hingga hal tersebut menimbulkan keresahan dan tanda tanya besar kenapa jodohnya belum kunjung datang.
                Pada beberapa orang, hal semacam itu  juga mungkin terjadi dan berdampak pada kemungkinan orang tersebut Baper, sedih, hingga terpuruk. Apalagi ketika di luar sana gadis atau perjaka seusianya banyak yang telah menikah bahkan punya anak.
                Sebetulnya reaksi  itu sah-sah saja. Dalam sebuah sebuah artikel, seorang psikolog klinis dari Personal Growth, Veronica Adelsa mengatakan bahwa secara psikologis baper saat ditanya kapan nikah itu adalah hal yang wajar.  
                Lalu bagaimana ketika baper itu menjadi keresahan mengapa jodoh kita tak kunjung datang?. Mulailah mengelola diri dan perasaan, keresahan bisa muncul karena beberapa faktor. Misal karena ketakutan jodoh kita benar-benar tidak akan datang, atau karena tidak percaya dengan bagaimana Allah memiliki sekian banyak cara mempertemukan seorang  hamba dengan pasangannya.
                Disamping itu, lingkungan juga mempengaruhi ikhtiar kita menemukan pasangan. Memang benar jika jodoh adalah  bagian dari kehendak Allah, kalo memang saat ini belum ketemu jodohnya artinya memang belum Allah pertemukan. Tapi disisi lain kita juga sering mendengar bahwa hidup adalah pilihan. Yaps….. kita memilih jalan mana dan kehidupan seperti apa yang kita inginkan melalui ikhtiar yang dilakukan, selanjutnya Allah yang merestui pilihan tersebut.
                Seandainya pun dari semua ikhtiar yang dilakukan Allah belum juga mempertemukan, itu kembali pada bagaimana Allah berkehendak. Yang jelas selalu ada kebaikan di balik itu semua, dan kamu harus percaya.
                Membahas panjang lebar perihal jodoh dari sisi yang seakan sangat bijaksana, memang gampang-gampang ringan. Apalagi yang nulis udah ketemu jodohnya. Emang tau rasanya di tanya terus kapan nikah?, tau rasanya takut jodoh nggak akan datang karena lintasan fikiran yang kadang menghantui?, tau bagaimana pertanyaan kapan nikah bisa jadi momok mengerikan dalam hidup?.
                “Tau donk, sebelum ketemu suami ada banyak cerita di balik penantian si dia”, haha….senyum satire mengiringi pernyataan ini.
                Intinya saya pernah ada di posisi itu, sedikit banyak tau bagaimana proses perjalanan menanti hingga menemukan pasangan. Pernah baper, takut hingga kecewa, terpuruk (“Haha…. Nyoba banget di dramatisir”).
                Yang jelas, dari pengalaman  terkait jodoh yang belum kunjung datang, adalah tentang seberapa penting mengelola hati, fikiran dan perasaan.  Jangan sekali-kali atau buang saja jauh-jauh fikiran bahwa jodoh kita tidak akan datang.
Yang terpenting adalah mulailah memperkuat keyakinan bahwa Allah memiliki sekian banyak cara mempertemukan kita dengan pasangan, sekalipun lintasan fikiran  yang kadang teramat logis, tidak bisa melihat dari arah mana Allah akan kirim sang pelengkap hidup bernama pasangan itu.
Selanjutnya adalah ikhtiar yang memungkinkan untuk kita lakukan. Jika pada prinsipnya perempuan hanya harus menanti, menantilah dengan cara yang tetap manusiawi sebagai seorang perempuan. Ikhtiar dengan berdoa dan semakin menjalin intensitas komunikasi antara diiri dengan Allah. Merayu dengan cara yang sangat elegan dan disukai oleh-Nya. Selebihnya serahkan semua hanya pada Sang maha segalanya .