Wednesday, August 21, 2019

SAAT TEMAN SOSMED JADI MUSUH MENGERIKAN TATKALA MENANTI BUAH HATI

August 21, 2019 0 Comments

“Alhamdulillah, Garis 2”, diikuti smile emoticon disertai foto sebuah test pack sebagai penguatan atas ungkapan yang diunggah di sebuah status salah satu teman facebook. 
“Ngidam rujak nih, bawaan utun”
“Janin sudah sebesar buah blueberry, strawberry atau nangka”, lengkap  dengan emoticon lope-lope menimpa screenshoot sebuah aplikasi kehamilan.  Video seorang memperlihatkan perut besarnya yang bergerak-gerak karena jiwa yang tengah aktif bergerak di dalamnya. Dan ungkapan-ungkapan kebahagiaan lain yang menghiasi insta story teman-teman sosial media saya.
Nyaris setiap hari saya menyaksikan pemandangan itu di sosial media. Sejujurnya, diawal-awal pernikahan merasa ikut bahagia dengan kehamilan teman-teman saya, terlebih ketika tahu salah satu sahabat juga mengalami itu. Bahagia bukan main, rasanya ada atmosfir untuk berfikir positif bahwa tidak akan  lama lagi giliran saya yang mengalami kehamilan.
Kondisi itu berlangsung hingga sekitar 6 bulan pernikahan, sampai semua berubah menjadi kesedihan mendalam saat setiap test pack yang saya beli tidak sama sekali menunjukkan 2 garis merah seperti yang teman-teman saya dapatkan.
Berminggu-minggu menunggu kabar baik hadirnya janin dalam Rahim, dan tibalah saya pada masa menstruasi yang rutin datang secara teratur  tanpa masalah, pecahlah tangisan jika saat itu tiba. Melewati minggu menginjak bulan hingga akhirnya berbulan-bulan kondisi tersebut menghiasi hari-hari.
Kesedihan semakin mendalam, karena di tengah penantian banyak pertanyaan dan pernyataan  tentang kehamilan yang saranya agak menyudutkan kita sebagai perempuan. Di tambah teman-teman sosial media yang memperlihatkan kebahagian atas kehamilan  yang sudah lebih dulu mereka alami. Lengkap sudah rasanya kesakitan itu.

Sebuah aktifitas wajar yang dilakukan mereka sebagai ungkapan kebahagian atas nikmatnya menjadi calon ibu dengan beragam perubahan psikologis yang mereka alami. Tanpa mereka sadari bahwa sesuatu yang biasa mereka lakukan di sosial media, bagi sebagian orang adalah kesakitan yang teramat di dunia nyata. Rasanya kian hari kian abu – abu, warna kehidupan sedikit demi sedikit terurai dalam kesakitan. Setiap kali membuka instagram, facebook atau whatsapp ada kengerian yang membuat penasaran. Saya tahu meihat story mereka hanya akan menimbulkan kesakitan, tapi entah kenapa dorongan untuk membuka apa yang mereka bagikan selalu menjadi pilihan terakhir dengan resiko  terbesar membuat hati berdebar menahan kekecewaan.
Kamu mungkin mengalami juga hal itu???.
Menyakitkan bukan???
Lalu apa yang salah???, kenapa itu semua terasa sangat menyakitkan??. Teman sosial media seperti musuh besar di tengah penantian buah hati?. Apa yang mereka bagikan seperti racun mematikan. Mematikan senyuman dan kebahagian  karena satu hal bernama kehamilan.

 ***

Saya tertarik merenungkan, apa dan siapa yang salah?, siapa yang bertanggung  jawab terhadap kesakitan yang menimpa saya. Dan dari perjalanan merenungkan semua itu saya faham bahwa seluruhnya adalah tanggung jawab saya dan bukan kesalahan siapapun.
Sosial media adalah tempat kedua bagi setiap individu dalam menjalani kehidupan mereka secara pribadi. Benar, sama halnya dengan kehidupan nyata yang walaupun kita hidup berdampingan dengan banyak orang hakikatnya kita sendiri yang menjalani dan menentukan akan diapakan kehidupan tersebut, akan dibagi dengan siapa dan apa saja hak-hak yang kita miliki.
Jadi,menggunakan sosial media sepenuhnya menjadi hak setiap individu. Mereka tidak salah ketika membagikan berita dan kondisi kehamilan mereka di sosial media. Mereka tidak salah show up tentang apapun yang mereka alami selama proses kehamilan. Mereka tidak salah dengan sebanyak apapun insta story tentang kehamilan yang mereka buat setiap harinya. Tidak ada yang salah dengan mereka.
Kita juga tidak salah, tentu sebagai manusia biasa ada sisi lemah yang membuat kita lebih sensitif terhadap sesuatu yang menyentuh hati. Termasuk ketika kita melihat apa yang kita inginkan belum kita peroleh sementara orang lain dengan bahagia membagi apa yang sudah mereka dapatkan.
Tapi kita tentu bertanggung jawab dan punya andil besar untuk mengendalikan diri kita sendiri. Bagaimana agar apa yang kita lihat dan dengar , walaupun menyakitkan tetap  terasa menyenangkan. Tidak perlu merasa menjadi korban tatkala menyaksikan teman-teman sosial media show up kebahagiaan mereka terkait kehamilan. Kita tidak pernah tau apa yang sebenarnya terjadi kepada mereka. Sebahagia apapun seseorang di sosial media, mereka tetap saja menyimpan permasalahan yag hadir di kehidupan nyata.

Selama kita masih merasa bahwa sosial media adalah sebuah kebutuhan, masih ingin menggunakannya, gunakanlah dengan bijak dan mulailah berdamai dengan apa yang mungkin kita lihat disana. Rasanya menjadi tidak perlu menyalahkan siapapun, tidak perlu merasa tersakiti dan tidak perlu berfikir bahwa mereka adalah musuh terbesar dalam penantian. Lagi-lagi menata hati menjadi pilihan terbaik untuk menyayangi diri kita dengan membiarkannya selalu dalam kondisi bahagia.
Tetap semangatttttt, jangan berhenti berdo’a dan berusaha, Allah paling tau kapan waktu terbaik menghadirkan buah hati dalam kehidupan kita. Mari sama-sama belajar menerima dan ridho dengan apa yang Allah hadapkan pada kita dan kehidupan yang tengah kita jalani. 

Sunday, August 18, 2019

"Menata Hati" Ketika Belum Kunjung Hamil...

August 18, 2019 3 Comments

Kamu mungkin tau bagaimana rasanya sangat berharap memiliki momongan sementara kesempatan hamil bahkan belum pernah kamu rasakan. Bagaimana rasanya di cecar beragam pertanyaan perihal kehamilan, kenapa belum hamil?, Ditundakah? Dan lain sebagainya perihal itu. Berapa banyak test pack yang kamu beli tanpa satupun memberikan kabar baik. Seberapa keras kamu menata hati menyaksikan teman temanmu show up kehamilan mereka di sosial media??. Bagaimana kamu berfikir sedang hamil dengan tanda tanda yang kamu temukan pada dirimu, lalu ternyata itu bukan tanda kehamilan? Bagaimana hari-harimu diisi dengan menunggu kabar baik itu, namun belum kunjung datang?.


Kamu pasti tau bukan bagaimana rasanya???...

Saya mengalami itu, saya berdo'a, beristigfar, memohon dan meminta.
Saya kebingungan, nasihat untuk terus beristigfar saya lakukan, bershalawat saya dawamkan . Tapi, kalian tentu tahu apa yang kemudian  terjadi?, hasilnya tetap sama.  Saya terus bertanya dosa apa yang belum terampuni????.


Hingga sampailah saya di titik sangat lelah menunggu, lelah berdo'a, lelah berusaha, dan berakhir pada titik dimana saya berani menyalahkan Allah dan ketetapannya. Astagfirullah....


Saat seperti itu pula, adalah saat dimana saya bertarung dengan lingkungan.
Mengapa demikian???
Lingkungan menyiratkan banyak gambaran kehidupan yang saya inginkan, namun bertentangan dengan apa yang saya tengah jalani.


Teman teman yang show up kehamilan mereka di sosial media, sementara saya belum hamil. Teman-teman saya bilang mereka bahagia, saya tidak merasakan sebahagia apa. Mereka tersenyum saya berfikir dan bertanya "kenapa??", "Kenapa saya??"

***

Rasanya ini bukan kali pertama saya menunggu, bukan juga yang ke dua atau ke tiga, ini kesekian, menunggu apa yang benar-benar saya inginkan. Harusnya mulai terbiasa menunggu, tapi faktanya saya memang hanya manusia biasa yang secara personal suasana hati mudah berubah dan tingkat keimanan yang naik turun dengan signifikan.


Harus bagaimana??? 

Sementara ingin rasanya melewati penantian ini dengan baik, mengukir jejak yang indah tanpa menyalahkan Allah, menghakimi takdir dan meratapi nasib.
Saya ingin tetap bahagia di tengah hujan status kehamilan teman-teman saya, saya ingin sudut mata ini tetap kering tatkala setiap bulan mendapati kenyataan bahwa ikhtiar menghadirkan momongan masih harus dilakukan. 


Akhirnya saya benar benar menyalahkan Allah, menghakimi takdir dan meratapi nasib dengan derai air mata yang menganak sungai.

***

Lalu kembali lah saya pada masa lalu, melihat dan mengingat apa yang pernah terjadi kala itu. Bagaimana saya menunggu banyak hal hingga akhirnya mendapatkan apa yang diinginkan. 

Yang saya ingat, saya tetap hidup sampai detik ini, saya mampu melewati momentum penantian di masa lalu dan saya akui dari experience itu saya belajar banyak. Dengan begitu apa alasan saya tidak bisa melewati ini dengan baik?.


Baiklah.....
Saya rasa perlu melakukan sesuatu untuk tetap bahagian dalam penantian ini.
Sesuatu yang membuat saya lupa dengan perbuatan-perbuatan yang mencerminkan ketidak syukuran.


Terus "Menata Hati"....
Ya, itu yang kemudian harus saya lakukan.
Seperti ruangan dalam rumah, saya memiliki ruang dalam hati.
Jika rumah yang tertata rapi akan terasa nyaman dan menyejukkan, begitu pun hati.


Bagaimana kemudian saya berupaya menata hati??

Yakni dengan mengingat bahwa apapun yang terjadi adalah bentuk kecintaan Allah terhadap hambanya.
Bahwa yang kita rasa baik belum tentu bagi Allah dan sebaliknya.
Bahwa apa yang belum di dapatkan adalah sesuatu yang telah Allah persiapkan dengan sempurna sebelum akhirnya tangan kita menerimanya.


Tidak perlu menghindari teman teman yang sudah lebih  dulu Allah beri kesempatan hamil. Tidak perlu berprasangka buruk ketika mereka show up kehamilan di sosial media.
Tidak perlu menanggapi negatif pertanyaan khalayak tentang kenapa belum hamil?.

Tidak lakukan itu, karena jika iya, lelah lah kita.

Menata hati, adalah meletakkan dengan tepat dan pada posisi semestinya sesuatu di dalam hati. Semoga seluruh perempuan dengan kondisi serupa, semakin pandai menata hatinya. Begitupun saya, yang sampai detik ini masih terus berusaha.
Semangat sahabat....


Insyaallah, Allah segerakan kehadiran putra putri melengkapi kehidupan rumah tangga kita

Wednesday, August 14, 2019

SATU TAHUN MENIKAH BERKALI-KALI SAYA DITAMPAR SUAMI

August 14, 2019 5 Comments

      
     Berulang kali saya katakan, saya adalah si melankolis yang dramatis. Mudah tersentuh hatinya dan terlalu mendramatisir apa yang di alami. Selalu berfikir bahwa menjadi saya tidak mudah, penuh ujian dan tantangan. Sebelum akhirnya menikah banyak kesakitan yang saya dapatkan, banyak kekecewaan yang saya terima. Sempat menyerah dengan Rahmat Allah karena jodoh saya tak kunjung datang kala itu.
       Setiap hari saya meminta yang terbaik, tapi yang datang adalah sosok sosok Bumengecewakan. Tidak se visi dan se misi, tidak kooperatif dan akhirnya membuat saya menangis dan selalu seperti itu berulang-ulang kali.
      Suatu ketika sampailah pada momentum dimana seseorang datang untuk menyampaikan niat nya melamar saya. Satu tahun yang lalu tepatnya, ketika saya berada dititik pasrah dengan apa yang Allah tetapkan. Saya menerima lamarannya, hingga dia secara agama dan negara sah sebagai suami saya. Tentu saya bahagia dengan visi misi yang ia tawarkan. Semua nyaris sama dengan  apa yang saya harapkan ada pada suami saya.
      Sampai disana semua baik-baik saja. Saya menikmati menjadi istri dari suami saya. Dia baik, bertanggung jawab dan menghargai saya tidak hanya sebagai istri tapi sebagai perempuan dengan segala keterbatasannya.
     Kebiasaan kami yang paling menonjol  setelah menikah adalah saling bertukar informasi, saling berbagi kisah apa yang terjadi dari satu hari yang kami lewati. Bahkan lambat laun hal itu menjadi rutinitas. Dan dari rutinitas itu aku semakin lebih jauh mengenal siapa sebenarnya dia.
       Lama kelamaan tampak lah dengan jelas perangai suami saya. Sering kali dia menampar dan membuat saya menangis.
Kian hari kian sering hal itu terjadi. Terlebih setelah kami kerap membuka pembahasan tentang belumnya Allah memberi kami kepercayaan untuk memiliki anak dalam kehidupan rumah tangga kami. Hal itu selalu berakhir dengan tamparan yang membuat saya bercucuran air mata.
      Puncaknya kemarin malam. Saat kami kembali membahas perihal anak dan keturunan yang belum menunjukkan tanda tanda kehadiran nya.
Entah kenapa saya tiba tiba terdorong untuk bertanya satu pertanyaan yang sebetulnya saya menyadari bahwa itu agak konyol.
"Aa (panggilan saya untuk suami), kenapa aa nggak pernah terlihat marah sama Allah??"
"Kalo harus marah, alasannya apa??,"jawab suami.
"Alasan nya ya karena kita belum punya anak, aku belum ada tanda tanda kehamilan setelah satu tahun kita menikah, kita sudah ikhtiar, sudah do'a siang malam, tapi Allah belum juga memberi kepercayaan itu." Berlinang lah saya tiba-tiba, dan ini bukan kali pertama. Momentum membahas hal ini selalu berakhir dengan pecahnya tangisan saya.
       Suami tersenyum, melihat saya menangis dia  seperti sedang menonton sebuah kelucuan. Sejenak dia terdiam hingga akhirnya kembali menanggapi perkataan saya.
"Apa harus marah hanya karena itu?, setelah sekian banyak kenikmatan yang Allah kasih. Justru aa malu, dengan begitu banyak kebaikan Allah, aa belum bisa jadi hamba yang baik. Syukuri, apa yang kita dapat saat ini. Kalo soal dunia sering-seringlah melihat ke bawah.
Saat ini kita belum Allah beri kepercayaan punya anak, coba lihat sahabat-sahabat kita yang saat ini masih menanti jodohnya. Kalo sekarang kita belum kaya harta coba lihat saudara kita yang untuk cari makan hari ini saja masih kesulitan, sementara Alhamdulillah Allah sudah cukupkan kita. Lihatlah ke bawah insyaallah kita akan lebih banyak bersyukur."
       Semula hanya berlinang, seketika sudut mata  menumpahkan genangan air yang mengalir melewati setiap garis wajah, deras sekali hingga saya terisak dalam pelukan sosok yang selalu menenangkan itu.
       Untuk kesekian kali saya di tampar kata-kata penuh kelembutan, terlontar dari pribadi yang selalu berusaha tampak manis di depan saya. Tidak pernah marah, tidak pernah berbicara dengan nada yang terlampau tinggi dan selalu memotivasi.
Semoga Allah istiqamah kan ia dalam kebaikan.
       Tamparan demi tamparan itu selalu terasa menyayat hati, tatkala saya ingat betapa pengabdian ini masih jauh untuk
membalas kebaikan sang maha Rahman.
Bahkan mungkin nyaris tidak mampu membalas semua yang telah Allah berikan.
      Semakin menyayat hati, saat saya sadar setiap tantangan yang Allah berikan   adalah bentuk cinta yang diakhiri dengan pemberian hadiah terbaik.
       Seperti suami saya, pribadi baik yang Allah kirimkan untuk menjadi bagian dari hidup saya setelah sebelumnya Allah lebih dulu pertemukan dengan sosok sosok yang memang tidak baik untuk si melankolis seperti saya. Hadirnya suami adalah salah satu dari sekian banyak  alasan untuk selalu bersyukur dan berhusnudzon kepada Allah. Dan berkat kelembutan hatinya lah saya mampu menyadari itu.
       Semoga Allah segerakan kehadiran buah hati dalam perjalanan rumah tangga kami... Aamiin..    

Thursday, May 17, 2018

Masihkah Rapuh Wahai Perempuan!!!

May 17, 2018 0 Comments

Bagaimana seorang Oprah berjalan hingga berlari  untuk sebuah predikat yang disandangnya kini... 
Perempuan yang Sukses dan bangkit dari kemiskinan. . . 
..

Sebelum akhirnya saya berbagi tentang sosok yang tidak asing sebenarnya.  Lebih dulu saya akan berbicara tentang apa yang melatar belakangi topik yang finally saya tulis sekarang. 
Bermula dari siapa saya?  Adalah sosok rapuh yang orang tidak banyak tahu seperti apa sisi kerapuhan saya.  Melewati titik terendah dalam hidup menjadikan saya menemukan banyak hal,  moment,  orang orang luar biasa hingga kejutan-kejutan tak terduga. 

Ketika itu, untuk bangun dan bangkit hal kecil yang saya lakukan adalah tentang bagaimana membangun sendiri motivasi untuk tetap bertahan menjalani kerasnya hidup (tidak hanya dari sisi materi). 

Saya membaca profil dan  mendalami kisah-kisah pilu sosok yang saat ini tampak luar biasa dimata khalayak.  Oprah Winfrey salah satunya. 

Ratu Talk Show dunia yang mengawali kesuksesandengan kisah pilu yang membuat saya termotivasi dari berbagai sisi kehidupan nya. 

Lahir di Kosciuscko,  mississipi pada 29 januari 1954. Masa kecilnya dilalui dengan kepedihan akibat kemiskinan yang membelenggu ia dan keluarganya.  Terlahir dari seorang ayah yang bekerja sebagai tukang cukur dan sang ibu yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga.  Ayah dan ibunya  bercerai yang kemudian membuat hidupnya semakin sulit. 

Selama tinggal  bersama sang ibu,  ia menjadi pribadi dengan sekian upaya mencari perhatian ibunya.  Bahkan ia pernah pergi dari rumah selama satu minggu hanya untuk mencari perhatian.  Namun upayanya sia sia.  Suatu ketika Oprah mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan dari sepupunya sendiri dalam bsntuk pelecehan seksual yang membuatnya melahirkan seorang bayi di usianya menginjak 14 tahun.  Namun berselang 2 minggu setelah lahir,  anaknya meninggal dunia. 
..
..
Oprah memulai kehidupan barunya bersama sang ayah bernama Vernon Winfrey dan ibu tirinya Zelma di Nashville. Di sana dia memperoleh pendidikan disiplin dari sosok yang membuatnya belajar lebih giat. Mengapa demikian?,  ternyata ayah Operah merupakan seorang ayah yang sangat tegas dalam mendidik anak anaknya.  Dia tidak mentolelir nilai di sekolah anak anak nya selain nilai A.  Kemudian ayahnya  selalu memberikan buku mengenai orang orang sukses seperti diantaranya Enstein lalu menyuruhnya menulis ulang dan membacakannya dihadapan sang ayah...  Walaupun pada awalnya ia sangat tidak menyukai cara ayahnya mendidik namun akhirnya dia berterimakasih untuk apa yang ayahnya ajarkan..
Pad usia 17 tahun Oprah memulai karirnya sebagai penyiar berita di radio lokal.  Bahkan ia memperoleh bayaran cukup besar dari pekerjaannya tersebut pada saat itu. 
Usia 19 tahun sebuah stasiun televisi di Nashville menemukan bakatnya dan mempekerjakan ia sebagai wartawan dan penyiar berita.  Hingga ia menjadi wanita negro pertama dan termuda stasium televisi lokal tersebut. 
Pada 1984 Oprah didaulat untuk memandu acaranya sendiri di sebuah Chicago A. M Chicago.  Tidak perlu waktu yang lama akhirnya dia menjadi bintang di lebih  dari 120 kota di Amerika.  Bahkan pada 1986 acara The Oprah Winfrey di tonton oleh sebanyak 48 juta pemirsa dan disiarkan secara internasional di 126 negara. 

Bagaimana tidak,  buat saya ini menarik dan menginspirasi.  Di luar dati kisah kisah peremuan muslim yang jugatak kalah menginspirasi. Benar jika orang mengatakan bahwa hidul adalah pilihan, demikian juga mengenai  pernyataan bahwa menjalani hidup bukan pekerjaan hang mudah.  Tapi bagaimana kita mampu menjalani hidup  dengan baik jika kita larut dalam kerapuhan dan lupa bahwa di luar sana  banyak orang yang tidak lebih beruntung dari kita namun mampu bangkit seperti halnya Oprah Winfrey. 
Mariii bangun perempuan yang mungkin saat ini tengah melewati masa-masa sulitnya menjalani kehidupan. 

Sunday, December 24, 2017

BATU TAPAK (Family Camp Part 1)

December 24, 2017 0 Comments
       
doc. Batu Tapak 
  Ketika hidup adalah tentang bagaimana memberi kepuasan terhadap diri. Banyak cara yang bisa dilakukan  dan setiap orang memiliki caranya sendiri. Aku adalah yang menjadi salah satu dari sekian banyak orang dengan  minat membangun kepusannya mengarah pada dominasi mencintai alam. Tapi bukan berarti saya adalah generasi milenial yang membutakan diri dari perkembangan teknologi yanng mungkin semakin mendominasi generasi kids jaman now, hihi. saya tetap membuka diri terhadap perkembangan dan pertumbuhan zaman yang semakin memudahkan kita mengakses lebih banyak informasi. 

          Next... ngomong-ngomong soal informasi, akhirnya informasi yang aku dapet tiga hari  lalu bikin aku terdampar di kaki gunung malam ini, and you know kan gimana dinginnya suhu disini?. ceritanya lintas gunung nii kite, soalnya aku tinggal di wilayah kaki gunung gede sementara hari aku dan all my family agak nekat ngambil tema liburan dengan nuansa perkemahan, so... this for the first time buat kita and Masya Allah banget ketika untuk pertama kali pula menginjakkan kaki di tempat ini. 

       Sebuah tempat yang menyediakan fasilitas kemah berkelas menengah keatas yang recommended banget guys. Gimana nggak.. disini kita bisa ngerasain nuansa kemah jaman now yang very comfortable. Apalagi buat kamu yang setiap hari disibukkan dengan setumpuk rutinitas yang menjenuhkan. So…. Di moment liburan kayak gini wajib banget dateng ke lokasi perkemahan ini.

          Keasikkan testi sampe lupa ngasih tau tempat apa yang aku maksud. And… thiiiiiiis iiiiissss Batu Tapak Cidahu Sukabumi. Nah loh!!! Sukabumi punya tempat kemah yang comfortable banget??, artinya kita orang sukabumi nggak perlu sibuk cari tempat wisata alam sampe jauh-jauh ke luar kota, kalo di Sukabumi masih banyak yang kek begini kenapa nggak kita coba eksplor tempat terdekat dari kita. Selain biaya akomodasi lebih murah kita juga nggak perlu nguras energi untuk bepergian jauh yang juga makan waktu.

          Sekilas tentang Batu Tapak yang menjadi sebuah lokasi perkemahan (Camping Ground), terletak di kawasan hutan lindung bukit Cangkuang, tepatnya Desa Cidahu di kaki Gunung Salak Sukabumi – Jawa Barat. Lokasi camping groun ini sangat bersih dan tertata dengan baik. Tenda-tenda berbagai tipe dipasang berderet memanjang dengan terpal yang meneduhinya. Disamping itu fasilitas penunjang lainnya seperti mushola dan toilet juga sumber air dalam keadaan bersih dan sangat layak pakai. 


Doc. Batu Tapak 


         
Doc. Batu Tapak
 Sekitar ±30 meter dari Front office kita langsung memasuki kawasan perkemahan dengan view pemandangan alam yang memanjakan mata. Pemandangan ini dapat terlihat jelas mengelilingi lokasi perkemahan, so dimanapun posisi kita, kita tetep bisa liat pemandangan khas pegunungan yang  bikin kita makin bersyukur sama apa yang Allah ciptakan.


          Disamping itu, saat ini kita sebagai generasi millenial semakin dimudahkan dan dimanjakan dengan sesuatu yang serba online,  termasuk aku dan keluarga, hehe. Jadi ketika tadi sore sekitar pukul 16:00 WIB kita tiba di lokasi dan langsung menuju Front Office untuk registrasi ulang, tunjukkan bukti transfer dan tinggal angkut barang ke tenda, camp pun dimulai.

         Cuman tinggal registrasi ulang looh, jadi kita nggak perlu ribet pilih paket berkemah saat kita dateng ke lokasi karena sebelumnya kita sudah reservasi paket dengan tenda serta jumlah tenda pilihan, setelah reservasi, pihak Batu tapak ngasih kita billing untuk kemudian kita transfer  sejumlah yang tertera di bill itu. Gampang kan???.  Jadi udah nggak usah ribet lagi.

          Kita, berhubung rakyatnya banyak wkwkwk (hampir 15 orang) akhirnya pilih paket reguler 3  hari 2 malam dengan tenda dom damar kapasitas 6 orang .Tapi guys… tendanya lumayan luas, ini aja kita satu tenda bisa nampung lebih dari 6 orang plus barang bawaan kitee yang seabreg.

          Dan ini malam pertama buat kita, besok adalah time to ngurilingan (berkeliling) destinasi yang ada disini termasuk wahana outboand yang dengan 100 K udah bisa puas cobain semua wahananya. So….  Ini sudah hampir pukul 01:00 malam, saatnya aku tidur dengan bahagia karena masih bisa ngeblog sambil kemah di kaki Gunung Salak dengan jaringan 4G yang manteng terussssss….whahahakkkk.
  


Monday, November 27, 2017

Karena Seorang Ibu, Dari Ibu, Menjadi Ibu dan Untuk Ibu

November 27, 2017 0 Comments
                Seistimewa apa seorang perempuan?. Bagiku karena perempuanadalah seorang ibu. Yang dalam riwayat disebutkan kedudukannya menjadi terdepan tiga kali dari seorang laki-laki. Kita sendiri tahu, bahwa seorang sahabat pernah bertanya kepada Rasulullah SAW perihal ini. Dia berkata “Ya Rasulullah siapa didunia ini yang paling harus aku patuhi? Rasul menjawab “Ibumu”, kemudian sahabat kembali bertanya “Kemudian siapa ya Rasulullah?”, Rasul kembali menjawab “Ibumu”. Tak puas sampai disitu sahabat kembali menanyakan hal serupa dan Rasulpun menjawab “Ibumu kemudian ayahmu”. Dari peristiwa dfi atas kita faham bukan seistimewa apa seorang ibu dalam perspektif islam dan dia terlahir dari seorang perempuan , sebagai perempuan tapi tak selamanya melahirkan perempuan.
                Hari ini aku semakin yakin bahwa seorang perempuan sebagai ibu menjadi sangat istimewa. Seperti sebuah kekuatan yang dengan sendirinya membawa naluri setiap insan untuk memanggilnya. Keyakina yang bukan aku lihat secara langsung dari ibuku. Dia tiada satu tahu silam dan kini aku merindunya, semakin merindukannya. Aku melihat itu dari seorang ibu yang melahirkan ibuku, ya… nenekku. Dia jatuh sakit setelah sekian lama rona bahagia yang senantiasa terpancar dari sepasang mata sayunya seakan menghilang perlahan setelah kepergian mama putri yang dicintainya. Hari ini dia ter baring setelah sepuluh hari lalu terjatuh dari tempat tidurnya.
                Dari apa yang aku lihat, aku semakin bersyukur dan berterima kasih karena Allah tidak membiarkan mama mengalami penderitaan sakit yang cukup lama sebelum akhirnya menghela nafas terakhir di penghujung tahun 2016. Sementara aku tak tahan melihat nenek melawan sakit teramat pada raganya yang semakin rapuh dan menua.
                Nenek seketika mengingatkanku pada kondisi dimana aku terbaring dalam sakitku beberapa minggu lalu. Disadari atau tidak, ada atau tiada yang aku ingat ketika sakit itu selain Allah adalah mamah. Nama pertama yang aku panggil juga mama. Sekalipun aku tahu dan sadar bahwa beliau tak akan melakukan apapun lagi saat itu, dia mungkin melihat tapi melakukan sesuatu untuk membuatku kembali bersemangat ketika terbaring adalah sebuah ketidak mungkinya yang sangat jelas dan nyata. Dan itulah keistimewaan seorang ibu bagiku. Disadar atau tidak, ada atau tiada raganya. Naluri membawaku pada ingatan tentangnya.
                Serupa aku, nenek pun melakukan hal yang sama ketika sakit semakin mendera tubuh yang tampak pucat pasi itu. Dia menyeru ibunya, memohon ampun kepada Allah dan mungkin harapan terbesarnya saat ini adalah ia ingin kembali menjadi ia buluhan tahun silam. Yang ketika sakit diperlakukan sangat baik oleh ibunya. Yang ketika sakit memperoleh carge energi yang membuatnya kembali bersemangat melanjutkan hidup, yang ketika sakit mendengar kalimat-kalimat yang mennguatkan raganya, yang ketika sakit dipenuhi segala keinginan dan kebutuhan fisik serta mentalnya.

Setua apapun ia saat ini, tak peduli  berapa perempuan dan laki-laki yang terlahir dari rahimnya, sebanyak apa pengalaman hidup yang ia dapat dan akhirnya mendewasakan. Dia tetap seorang anak yang terlahir dari rahim ibunya. Ia seorang ibu yang juga terlahir dari seorang ibu. Ddai tetap seorang anak yang menjadi ibu hebat karena seorang ibu. Karena seorang ibu, dari ibu, dan menjadi ibu, begitu seterusnya. Sungguh kuasa Allah membuat perempuan sebagai ibu menjadi topik yang menakjubkan.   

Sunday, October 16, 2016

ABOUT MAMA Part 3

October 16, 2016 0 Comments
Tidak ada kata lain yang mampu menggambarkan sosok mama selain Dua kata LUAR dan BIASA yang jika disatukan membentuk korelasi kata bermakna.

Mama tidak hanya LUAR BIASA sebagai sosok ibu. Lebih dari itu, dia amat luar biasa sebagi teman, sahabat, partner kerja, penasehat yang bijak, penolong tanpa pamrih, guru besar, dan pemimpin yang bertanggung jawab bagi kelima putrinya. Dia bukan mama yang Suka menuntut apalagi menjudge, juga bukan pendikte yang melemahkan anak- anaknya.
Dia, mama yang sempurna..

Tidak hanya itu, dia adalah sosok wanita berhati malaikat yang mampu memposisikan dirinya sebagai ibu yang baik, anak yang berbakti, teman yang menyenangkan, kakak yang peduli, nenek yang sangat dirindukan karena selalu memberi kesan terbaik pada mereka cucu cucunya.

Pernah, ketika mama terbaring di rumah sakit dengan ketidak berdayaannya. Salman (cucu ketiganya) berungkap sesuatu yang membuat kita sadar, betapa dimata cucu cucunya pun mama adalah sosok yang sangat berarti dan dirindukan. Bahkan bagi anak sekecil Salman.
"Dede yakin ema sembuh lagi, kalo dede nginep nanti dibikinin sarapan, dimasakin air buat mandi, pulangnya di Kasih uang"

Begitu kurang lebih ungkapan seorang cucu terhadap nenek tercintanya.

Mama begitu diharapkan kehadirannya. Berharap Kembali menjadi ibu dan nenek yang hadir ditengah tengah kami dengan ribuan kesan terbaik yang selalu ia berikan.
Kepada kami, kami yang masih belum sempurna mempersembahkan Kasih sayang sebagai seorang anak terhadap ibunya.

ABOUT MAMA Part 2

October 16, 2016 0 Comments
1 oktober 2006, sebagai saksi kepiluan seorang kartini di rumah kami. Di sudut ruang ia menyaksikan kekasih hati terbaring menjemput kedamaian. Tak lagi ada tangis, semua mengering dalam bayang bayang masa depan tanpa kehadiran sosok dihadapannya. Menjalani kehidupan dengan separuh kekosongan dalam jiwanya. Tak ada lagi tangan yang meringankan bebannya, tak ada lagi yang mengundang kemarahan ketika sosok dihadapannya melakukan kesalahan. Tak ada lagi yang menerima sajian secangkir kopi selepas sosok itu meninggalkan sepetak sawah garapannya. Hilang semua dalam kenangan, menyisakan luka dan kepiluan.
Tapi kita tahu, kepiluan itu hanya menjadi rahasia. Kepiluan yang selalu berusaha ia balut dengan kekuatan dan harapan besar.
Kepiluan yang tersembunyi dibalik mimpi mimpi terbaik yang ia sampaikan melalui kata dan do'a bagi kami kelima putrinya.
Dia nyaris sempurna...
Selepas Abah berpulang dan mulai melewati fase fase kehidupan baru. Ia semakin tumbuh menjadi pribadi yang bijak dan mengagumkan bagi kelima putrinya. Super mother yang selalu memposisikan dirinya sebagai pendengar yang baik, penasehat yang bijak, dan penebar Kasih yang tak pernah pilih Kasih. Dia nyaris sempurna dalam kesederhanaannya.
Hingga 10 tahun berlalu. Setelah perjuangan bertahan dalam kekuatan yang membalut pilu. Setelah berhasil menyisakan ribuan kenangan yang tak akan pernah habis ditelan waktu. Setelah mampu menjadikan kami bertekad menjadi sosok serupa dirinya yang tak pernah tergantikan sosok manapun di dunia kami.
Akhirnya dia yang kini menggantikan Abah terbaring dihadapan kami. Di sudut ruang, dalam kepiluan kami yang menyaksikan sosoknya menjemput kedamaian. Tak lagi ada tangis, semua tertahan sebagai hadiah atas pesan penting yang mama sampaikan sebelum nafas itu tertahan dan terlepas dari raganya. "Kami ikhlas mah.... ".
3 oktober 2016, sebagai saksi kepiluan yang berusaha kami balut dengan kekuatan.
Demi mama dan kekuatan yang juga pernah mama tunjukkan sepuluh tahun silam..
Selamat jalan mah, bah....
Damai dan kebahagian sesungguhnya kalian adalah disana, di sisiNya dan bersamaNya.
Dan lihat, sosok mungil pengganti kehadiran kalian mengisi kesepian kami, menghiasi dan semakin menyembunyikan kepiluan kami. Ia hadir di tengah riuh jiwa-jiwa yang mensyukuri skenario terbaik Allah yang menghiasi kehidupan kami di penghujung tahun ini.
IQ ATHWAL RAJA adalah kebahagiaan yang Allah hadirkan selepas kepiluan.
Fabiayyiala i robbikuma tukadziban
"Maka nikmat tuhanmu yang mana yang kau dustakan"

ABOUT MAMA part 1

October 16, 2016 0 Comments
Sore ini, aku masih menyaksikan garis garis wajah itu mengungkap pilu. tetesan embun yang menganak sungai pada sela lipatan sisi kelopak matanya berbicara, menjelaskan bahwa ia merasa semakin tak berdaya.
Dia yang terlahir sebagai sosok tak biasa. Wanita yang kemudian harus berperan sebagai ibu juga ayah setelah belahan jiwanya melepaskan separuh hati yang menggenggam kehidupannya selama hampir 30 tahun. (2006, ayah berpulang)

Dia yang terlahir sebagai sosok perempuan dengan ketangguhan hati membesarkan kelima putrinya dalam keterbatasan. Melalui dengan ikhlas setiap terpaan demi terpaan kehidupan ketika harus berjuang mempertahankan putri-putrinya agar tetap melangkah membawa masa depan dalam benda yang menggantung di pundak mereka. Pendidikan menjadi satu alasan besar atas guyuran keringat yang dihasilkannya.

Dia menjadi perempuan yang tak pernah menjatuhkan dirinya dalam ketidak mungkingan. Selalu berpegang pada prinsip menjalani hidup dengan optimis membuat ia berdiri sebagai sosok yang menginspirasi ke lima putrinya untuk juga tetap menjalani hidup sebagaimana ia menjalaninya.

Hari ini, perempuan yang selalu optimis itu, hanya mampu terbaring dalam sentuhan benda benda asing ditubuhnya. Dia merasa, mendengar dan melihat tanpa mampu berbuat banyak.

Seketika senyumnya sirna, tatapnya sayu dan kalimat kalimat motivasi yang selalu ia ungkapkan tak lagi mampu kami dengar. Semua menghilang begitu saja.

Namun ia tetap hadir dengan rona optimisme yang ia miliki meski dalam balutan kepiluan.
Sabar ya mah.... Kali ini kami yang mengganti tugas mama. Kami yang akan selalu mendampingi, dan memberi sebanyak banyak nya motivasi agar mamah semakin optimis melawan rasa sakit dalam ketidak berdayaan ini.

Jangan takut apalagi menyerah ya mah. Bukankah mama yang selalu membuat kita meyakini bahwa Allah senantiasa bersama kita dan membawa kita pada kebahagiaan sesungguhnya.
percayalah, saat ini ia juga tengah menurunkan kuasNya di dekat mama untuk kemudian mengantarkan mama pada kebahagiaan sesungguhnya bersama kami yang teramat mencintaimu.

Love U ma... :)

Saturday, April 23, 2016

ABOUT ME

April 23, 2016 0 Comments


"Tak Ada Batas Syukur"

Pada satu masa, aku pernah merasa sangat bahagia dan aku menikmati itu. Tanpa  menyadari  ada apa dibalik kebahagiaan itu, apa yang akan terjadi setelah itu??.

Aku terlelap, terlena karena kenikmatan hidup yang tak pernah aku maknai  sebagai ujian yang Allah kirim dalam wujud yang indah. Aku lupa apa yang seharusnya aku lakukan sebagi hamba ata nikmat yang Tuhannya berikan.

Syukur..  
Ya... aku melupakan satu kata itu. Satu kata sederhana namun berarti besar.
Ketika itu, syukurku masih terbatas pada apa yang aku rasa indah, pada apa yang aku rasa  sempurna. Diluar itu aku lupa akan banyak hal yang seharusnya amat aku syukuri.

Kesehatan, pekerjaan yang membawaku pada banyak hal baru, Waktu yang setiap detiknya menjadi sangat berarti, teman dan sahabat yang luar biasa, sosok-sosok inspiratif yang juga Allah hadirkan pada saat yang bersamaan dan yang terpenting adalah peran keluarga yang begitu besar dalam setiap langkah yang ku pijak.

Mungkin Allah merasa iba dan miris akan apa yang benar-benar terjadi padaku saat itu. Hidup dalam kebahagiaan namun dengan syukur yang masih sangat terbatas.

Hingga pada suatu ketika, seperti membalikkan telapak tangan semua berubah hingga hampir 180 derajat.
Melalui berbagai peristiwa, Ia menghadapkanku pada kegagalan melewati dengan baik  peristiwa demi peristiwa itu.  Melakukan banyak kelalaian, melakukan kesalahan - kesalahan besar dalam setiap pengambilan keputusan, dan yang terparah aku menenggelamkan diriku dalam kegalauan yang aku sikapi dengan tidak semestinya. Mengisolasi diri, murung bahkan secara tidak sadar mungkin saat itu aku mengalami frustasi dengan kadar yang masih ringan. Tak lagi memperoleh ketenangan hati, merasa semakin jauh dengan Ia dan nikmatNya. Membelakangi setiap  kebaikan dan melakukan banyak pembenaran atas sesuatu yang sebenarnya semakin tampak salah..

Dampaknya, aku menghancurkan semua yang telah susah payah aku bangun.  Mencabut sendiri kenikmatan - kenikmatan yang semula Allah berikan. rizky, pekerjaan dan  hubungan sosial yang memburuk dengan sesama bahkan lingkungan keluarga. Kehilangan sosok - sosok inspiratif, teman juga sahabat.
Bukan mereka yang menjauhi. Tapi aku, aku yang semakin giat membangun dinding pembatas , semakin memberi jarak dan perlahan semua tenggelam.
Dalam penyesalan dan kegalauan yang semakin memuncak. Menyerah dan putus asa, hanya itu yang terfikir.

Dan Allah kemudian kembali menyelamatkanku setelah sekian banyak bentuk penyelamatan yang ia lakukan namun tak pernah aku maknai dengan sebuah ungkapan syukur.

Allah semakin menyelamatkanku dengan membuka pintu pintu yang sebenarnya masih menjadi misteri. Entah apa yang akan terjadi setelahnya. Yang terpenting Allah telah tunjukkan seberapa penting mensyukuri nikmatnya?,  seberapa banyak kenikmatan - kenikmatan yang patut disyukuri itu??. Jawabannya "tak berbatas". Ya...  Karena bagaimana dan dalam bentuk apapun sesuatu atau peristiwa yang terjadi itulah nikmat yang patut aku syukuri. Terlepas setiap peristiwa itu berujung pada sebuah kebahagiaan atau sebaliknya. Nikmatilah.... !!!!!

Bismillah untuk selalu berfikir positif #KeepPosthing