Isu Sosial di Balik Cream Tilik dan Cream
![]() |
| google.com |
![]() |
| google.com |
![]() |
| google.com |
![]() |
| google.com |
![]() |
| Idutinov.com |
Memasuki pekan kedua mengikuti tantangan di
komunitas ODOP. Ada kekaguman luar biasa
terhadap komunitas penulis ini. Komunitas yang di dalamnya berisikan mereka
dengan dedikasi luar biasa untuk organisasinya. Mereka yang berbagi sepenuh
hati, menebar kebaikan tanpa pamrih dan melakukan tugas demi tugas komunitas
dengan sepenuh hati.
Sebelum
masa tantangan OPREC BACHT #8 untuk menjadi bagian dari komunita One Day One
Post, saya ikut tantangan Ramadhan Writing Challenge dan berakhir dengan
pengalaman dapat menulis satu bulan penuh setiap hari. Bagiku itu adalah sebuah
pencapaian selama memutuskan mendalami dunia literasi, mengingat biasanya hanya
menulis jika ingin. Selebihnya aktifitas menulis tidak dilakukan secara
konsisten.
Sejak
awal mengenal ODOP dan masuk di dalamnya, entah kenapa rasanya menikmati sekali
rutinitas menulis di bawah tekanan harus menyelesaikan tantangan menulis satu tulisan setiap harinya. Padahal saya
terbilang tidak memiliki banyak sisa waktu luang selepas bekerja dan menyelesaikan
satu tulisan setiap hari adalah tantangan luar biasa dengan segala drama di
dalamnya.
Saya
bisa saja memutuskan untuk mundur jika sedang dalam kondisi sulit mengelola
waktu bekerja dengan menulis. Seperti saat ini, saya hanya punya waktu di malam
hari untuk menyelesaikan setiap tantangan menulis. Dengan begitu alhasil
semenjak ikut tantangan di OPREC ODOP ini saya harus selalu tidur lebih larut.
Bisa
saja kan mundur detik ini juga, selain
tidak mudah mengelola waktu, saya mengalami apa yang di sebut writing block dan
sering merasa tak tenang sebelum bisa menyelesaikan satu tulisan. Seperti sebuah
tulisan teman di squadron blog beberapa waktu lalu berjudul “Dikejar ODOP”,
benar jika saya selalu merasa dikejar deathline. Dan ini masih akan terus
berlangsung hingga 2 bulan kedepan.
Dengan
segala drama yang ada, enggan rasanya jika harus mundur. Mengakhiri perjuangan
untuk sampai pada titik akhir tantangan ini. sepertinya akan sangat menyesal jika satu
ketika harus dihadapkan pada kondisi terdepak dari event yang sudah cukup lama
saya tunggu.
Entah
apa yang membuat ODOP begitu memesona?. Sampai saya benar-benar bertekad untuk menyelesaikan
tantangannya, semoga Allah senantiasa memudahkan dan memberi kesehatan untuk
tetap menulis. Dan terimakasih yang teramat karena komunitas ODOP hadir di tengah kegalauan saya tentang perasaan
akan di bawa kemana hoby menulis ini. terimakasih juga pada para PIJE yang
selalu membimbing kami dengan sepenuh hati. Semoga Allah membalas segala
kebaikan dengan balasan yang sebaik-baiknya.
Bismillah…..
Hallo man
teman, sudah baca part I dari tulisan ini kan? Kalau belum langsung aja cussss
baca dulu.
Ngomong
ngomong soal keluarga, apa sih arti keluarga buat kalian dan sedalam apa kalian
memaknai pentingnya kehadiran keluarga?. Plus upaya apa yang dilakukan untuk menjaga
keharmonisan keluarga?. Yuk bagikan cerita kalian di kolom komentar.
Aku udah
jelasin di part 1 ya, kalau keluargaku sudah kehilangan pilot dan co-pilotnya. Artinya
di keluarga kita udah nggak ada orang tua, kita benar-benar kehilangan keduanya
kurang lebih empat tahun terakhir. Tapi hidup berkeluarga tetap harus berjalan,
karena bagaimana pun kita punya keterikatan dari hubungan darah yang di bentuk kedua orang
tua. Jadi nggak ada alasan untuk saling menjauhkan diri ketika kedua orang tua
sudah tiada.
Kenapa aku
bilang begitu, faktanya di luar sana banyak keluarga yang saling terpecah
ketika orang tua udah nggak ada. Saling bertentangan bahkan lupa atas hubungan
darah yang mereka miliki. Sebelum meninggal mama sudah lebih dulu melihat
fenomena itu terjadi di lingkungannya sendiri. dengan begitu salah satu dari
sekian banyak pesan cinta mama untuk kami adalah tentang bagaimana saling menjaga antara kami 5
bersaudara.
Kalau ditanya
seberapa penting peran keluarga untuk perjalananku sampai detik ini, rasanya
nggak bisa dibandingkan dengan apapun karena mereka teramat penting. Dari semua
sisi faktanya keluarga teramat sangat berperan. Proses untuk menyadari itu
nggak singkat, ada banyak hal yang terjadi, bahkan dalam perjalanan aku melakukan beberapa kesalahan. Tapi nggak
masalah karena itu proses belajar. Belajar untuk akhirnya sampai pada titik
dimana aku merasa begitu menyayangi mereka.
Jika merasa
keluarga benar-benar sangat penting, itu artinya aku memaknai kehadiran mereka
dengan cukup dalam. Bagiku keluarga adalah tempat kembali”, yang jelas seberapa
buruk kita, seberapa besar kesalahan yag kita perbuat keluarga akan selalu
menerima dan itu yang keluargaku lakukan sejauh aku merasakan hingga saat ini.
Nah…. yang
paling menyenangkan adalah bicara soal bagaimana menjaga keharmonisan keluarga,
terlebih ketika orang tua sudah nggak ada?. Jujur dari keluargaku aku belajar
sangat jauh tentang ini. mengamati apa yang mereka lakukan terhadapku serta
antara mereka satu dengan yang lainnya.
Saat melihat
bagaimana ke empat saudaraku saling menghargai, saling menghormati dan saling
menjaga perasaan satu sama lain. Aku mengerti bahwa hal tersebut adalah upaya
mereka untuk tetap menjaga harmoni di dalam keluarga. Kami hanya manusia biasa
tatkala di luar sana banyak orang mengatakan bahhwa We are the best family. Ada perbedaan faham,pendapat bahkan saling
berargumen. Faktanya itu yang terjadi layaknya keluarga-keluarga lain dimana pun.
Tapi kembali
bagaimana kami mampu saling melakukan yang terbaik, saling menjadi pengingat
dan saling berusaha menjaga harmonisasi yang indah dalam keluarga, rasanya benar-benar
indah.
Kami
bukan keluarga cemara dengan formasi yang lengkap, walau terasa pincang tanpa
Mama dan Abah namun layaknya serial televise “Keluarga Cemara” kami pun punya
cinta yang luar biasa.
“Harta yang
paling berharga adalah keluarga”
“Istana yang paling indah adalah
keluarga”
Nggak
asing kan dengan kutipan lirik lagu di atas?. Lagu yang legendaris karena
menyimpan kenangan masa kecil kita, para generasi 90an. Soundtrack serial televisi bertajuk “Keluarga
Cemara” ini pun hingga kini masih didengarkan dan di cover oleh beberapa
influencer di kanal youtube.
Bait
demi baitnya adalah pesan tentang betapa berharga kehadiran keluarga. Pun dengan kisah yang disajikan dalam
serialnya adalah kisah yang related dengan
kehidupan sehari-hari masyarakat pada umumnya. Sehingga wajar saja jika kala
itu serial Keluarga Cemara menjadi salah satu serial televisi yang paling
digemari.
Saat
menjadi penikmat serial televisi legendaris itu, saya nggak pernah berusaha memahami maksud
dari apa yang dikisahkan di dalamnya. Tapi kini, saat pribadi semakin
terdewasakan oleh banyak peristiwa yang sampai dalam hidup, saya semakin sadar
betapa keluarga terawatt sangat berharga.
Dulu,saya
dan kakak nomor 3 selalu dihadapkan pada sebuah pertengkaran khas anak-anak. Karena
itu kami pernah ada pada satu kondisi layaknya musuh yang saling penuh
kebencian. Rasanya berfikir bahwa dia adalah bagian dari apa yang di sebut
keluarga pun tidak. setiap adalah kepusingan bagi mama menghadapi pertengkaran
kami berdua.
2006
keluarga kami kehilangan pilot pesawatnya, jika sang pilot memiliki co- pilot sepuluh tahun berselang kami benar-benar
kehilangan keduanya. Dunia seakan runtuh kala itu, kita terjatuh dan terhempas
jauh. Tidak lagi hidup ini dibersamai orang tua yang sejatinya selalu memberi
doa terbaik untuk keberlangsungan hidup kami. semua menjadi gelap, aku sendiri takut harus hidup tanpa
mereka dan doa yang senantiasa mereka panjatkan.
Namun hidup harus tetap berjalan, tidak ada pilihan selain melanjutkan. Satu pesan mama yang selalu diingat adalah “Kalau Mama meninggal, kalian harus akur”, dan saya yakin itu adalah salah satu doa yang sering Mama panjatkan semasa hidup hingga sampai detik ini Allah senantiasa menjaga kami tetap saling menghormati dan menghargai satu sama lain.
Tidak
mudah untuk sampai pada titik ini, tapi
Qadarullah kami mampu melewatinya dengan baik. dalam segala bentuk
perbedaan, kami terus berjalan, tidak sedikitpun berfikir untuk saling
menyakiti. Sejatinya Allah maha baik, senantiasa menjaga raga juga seluruh jiwa
kami di tengah ketiaadaan Mama dan Abah yang kini tinggal kenangan. Terimakasih
wahai Allah, karenamu juga keridhoanmu aku merasa paling beruntung memiliki dan
tumbuh di tengah-tengan mereka.
Kami
bukan Keluarga Cemara, tapi layaknya mereka. Bagi kami keluarga adalah
segalanya.
![]() |
| Pinterst.id |
“Kok hidupku gini-gini aja
ya?”,
“Kok
hidupku nggak assik ya, padahal kalau
liat orang di sosial media, mereka seru banget hidupnya, banyak temen, sering
nongkrong, ngafe, jalan-jalan. Lahhhh ……. Aku masih gini-gini aja”.
“Ih…
dia bajunya keren-keren ya, di feed instagram fotonya juga bagus-bagus”.
Seru
memang, kalau kita sudah berselancar di dunia maya. Bersosial dengan cara yang
berbeda. Menyaksikan kehidupan banyak orang yang entah sesungguhnya benar atau tidak. Berkesempatan
melihat lebih luas hal-hal yang tidak semua dapat dilihat di dunia nyata. Yang baik
hingga sebaliknya ada disana, dan indikasi untuk melihat keduanya kapan pun
sangat mungkin terjadi.
Apakah lewat
sosial media kita juga terindikasi menjadi pribadi yang senang melihat ke atas?.
Dalam konteks ini adalah hal-hal layaknya strata sosial, materi dan life style.
Tentu sangat mungkin bukan?, bahkan hingga peluang untuk mengikuti dan meniru
pun sangat mungkin terjadi. Ingin terlihat keren, ingin dipuji, ingin menarik
followers, dan yang miris adalah tindakan melakukan segala macam cara untuk
sampai pada apa yang menjadi tujuannya hingga memaksakan diri.
Ini menjadikan
seseorang terlalu fokus pada apa yang diinginkanya, lupa bersyukur, lupa
menyadari bahwa di luar sana banyak keprihatinan melebihi kesulitan yang mungkin
tengah kita hadapi saat ini. Pernahkah teman-teman ada pada posisi itu?, jika
pernah atau bahkan masih mari bersama-sama menyadari satu hal penting yang akan
selalu menjadi alarm tatkala kita lupa apa yang sebenarnya ada di bawah kita. Ya….
“Mari seringlah melihat ke bawah!”
Sore ini saya
menyaksikan satu contoh kecil terkait seberapa penting meliha ke bawah?. Seperti
biasa ketika mampir ke pom bensin bersama suami, tentu saya harus melipir dulu
dan menunggu sampai suami selesai isi bensin. Di sela-sela menunggu sebuah
pemandangan tak asing berada tepat di depan mata, seorang gadis pemulung duduk
di bahu jalan.
Berjalan dengan
buntalan karung beras di pundaknya. Mereka tampak lusuh dan tak terawat,
pakaian kumal yang hanya memiliki satu fungsi sebagai pelindung tubuh tanpa
berfikir yang mereka kenakan stylish ataukah tidak. Sebetulnya tidak asing bagi
saya melihat pemandangan itu. Namun kali ini berusaha memaknai lebih dalam dari sebuah proses hidup setiap manusia yang tidak sama.
Tentu tidaklah mudah, bertahan hidup di masa-masa bermain yang semestinya di lalui anak seusia mereka. sementara yang sedang mereka lakukan justru sebaliknya. tidak lagi berfikir kapan waktu bermain, dimana dan bermain apa. bagi mereka yang paling penting adalah menemukan apa yang dicari untuk tetap menjalani apa yang disebut sebagai kehidupan.
Sementara saya terkadang sibuk membandingkan diri dengan mereka para pengguna sosial media. Melihat banyak yang saya inginkan ada di sana, kehidupan yang seperrtinya akan membuat bahagia jika saya bisa selayaknya mereka. Banyak hal yang saya lupakan, termasuk di dalamnya adalah tentang menyadari sudahkah mensyukuri apa yang telah Allah beri. Kehidupan yang layak, tempat tinggal yang aman dan nyaman, makanan enak, ketenangan hidup serta kenikmatan beribadah, juga banyak hal yang ternyata nyaris tak pernah terlihat sebagai karunia yang Allah telah berikan.
Itulah teman-teman, betapa pentingnya bagi kita untuk lebih sering melihat ke bawah. Melihat mereka dengan kehidupan tak seberntung kita. Semoga Allah senantiasa menjaga agar kita tetap mampu menyadari dan mensyukuri apa yang telah Allah karuniakan.
![]() |
| Arsip ODOP |
Man
teman, mari kembali membahas tentang ODOP. Buat saya istimewa sekali bisa
bergabung dengan komunitas yang benar-benar memberi perubahan positif bagi
saya. Menulis sejak kelas tiga sekolah menengah membuat saya mulai menyukai
aktifitas tersebut sebagai sarana mengungkapkan perasaan. Menulis diari adalah aktifitas yang paling
sering di lakukan kala itu.
Menyenangkan
memang, apalagi jika satu tulisan sudah utuh dan di katakan selesai, kadang
ngerasa terharu aja ketika baca ulang. “Lah, ternyata aku bisa nulis loh”, “Kok
enak ya baca tulisan sendiri”, dan siratan-siratan lain yang muncul sebagai
bentuk apresiasi atas produktifitas diri. Berulang kali dihadapkan pada
momentum semacam itu membuat saya mulai beraniuntuk menulis tidak hanya di diari.
Selama proses
meningkatkan kemampuan menulis saya hanya mempublish tulisan-tulisan di sosial
media. Nggak pernah masuk komunitas menulis, nggak pernah ada yang secara spesifik
membedah dan saya mulai terbiasa dengan
banyak kesalahan penulisan. Bahkan kadang nggak peduli yang saya tulis secara PUEBI udah bener apa
belum.
Saat ini
bergabung bersama teman-teman dengan minat yang sama terhadap dunia literasi. Di
komunitas One Day One Post banyak hal baru, pengalaman baru juga kesadaran
bahwa banyak hal yang saya belum tau. Termasuk malam ini ketika di grup besar
ODOP ada sesi bedah tulisan. Menemukan fakta bahwa ketika nulis saya jarang
banget mikirin kaidah-kaidah penulisan, nggak tau deh kalau di bedah gimana
nasib tulisan-tulisan di blog saya.
Tapi,
udah siap banget kalau seandainya giliran tulisan saya yang di bedah. Malah
jadi penasaran sama gaya dan kesalahan-kesalahan penulisan yang saya lakukan. Rasanya
nggak sabar untuk tau semua kesalahan itu sampai kemudian akan berusaha untuk
memperbaikinya. Semoga secepatnya tulisan saya bisa dibedah, diberi kritik juga
saran oleh teman-teman di komunitas One Day One Post.
Intinya
bersyukur sekali bergabung dalam komunitas ini. Selain melatih konsistensi
menulis, kita juga belajar banyak hal baru yang isinya daging semua, hihi. Banyak
doa dan harapan baik atas bergabungnya saya dengan komunitas ODOP. Semoga ini
menjadi awal yang baik dalam meningkatkan kemampuan menulis dan berbagi
kebaikan lewat tulisan. Aamiin…..
Menulis tanpa
komunitas jelas bagai sayur tanpa garam, rasanya hambar. Bagai menjalani hari
tanpa kamu, eakkkk.
Saya
merasakan sekali perbedaan menyalurkan hobi menulis dengan dan tanpa di dampingi
komunitas. Jika sebelumnya menulis dengan kaidah-kaidah yang ditentukan semau
gue, dan dengan segala keterbatasan pengetahuan terkait dunia literasi. Membuat
saya benar-benar egois dan merasa memiliki bakat menulis di lingkungan pribadi.
Sementar
setelah mengikuti komunitas, walaupun belum sah sebagai anggota… wkwkwk, akhirnya
mulai menyadari bahwa di luar dari lingkungan sendiri, saya menemukan banyak penulis-penulis berbakat
yang sangat potensial. Dengan begitu sadar bahwa mimpi menjadi penulis yang
produktif, sangat penting untuk mencari dan masuk lingkungan dimana berkumpul
penulis-penulis hebat di dalamnya.
Sampai
saya menemukan komunitas ODOP (One Day
One Post) dan mengikuti salah satu eventnya bertajuk Ramadhan Writing Challenge. Kesan pertama bergabung adalah perasaan
takjub tentang betapa saya merasa sangat diuntungkan oleh kehadiran komunitas
ODOP. Bagaimana tidak?, karena ODOP saya mulai sedikit banyak menemukan potensi
diri dalam aktifitas menulis. Menemukan teman-teman baru sesama aktifis
literasi. ODOP menghadirkanbanyak pengalaman baru dalam meyalurka hobi menulis.
Selepas
berakhirnya event RWC, saat ini saya tengah kembali bergabung bersama
sahabat-sahaba ODOP untuk menyelesaikan tantangan menulis selama 3 bulan ke
depan. Tentu perlu melakukan beberapa strategi untuk tetap bertahan dan berjuang
sampai akhir. Mengatur segala sesuatunya agar aktifitas one day one post tidak
kemudian malah menjadi beban mental
karena harus menulis setiap hari.
Dengan
begitu, menjadi sangat penting mengatur strategi agar Lulus sebagai anggota
Komunitas ODOP serta aktifitas menulis dan aktifitas lain dapat dilakukan secara
efektif. Dalam hal ini strategi yang saya secara pribadi lakukan diantaranya :
1. 1. Mengatur
Waktu Menulis
Memasuki hari ke-5 tantangan ODOP, bagi saya sendiri waktu terbaik menulis adalah pada malam hari. Dan pada akhirnya itu akan selalu saya lakukan mengingat kenyamanan menulis dan menghasilkan tulisan pada malam hari.
2. 2. Konsistensi
Konsistensi benar-benar di perlukan dalam menulis, apalagi menulis untuk sebuah tantangan seperti di komunitas ODOP. Karena tanpa konsistensi kian hari kita kian di pusingkan dengan tugas menulis yang semakin menumpuk
3. 3. Do
With Heart
Bagi saya penting melakukan sesuatu dengan hati dan penuh keikhlasan. Selain agar tetap berada dalam koridor bahwa menulis adalah memberi kebermanfaatan bagi banyak orang, juga agar aktifitas menulis benar-benar menjadi salah satu kebahagiaan serta kepuasan hati.
Sementara hanya
itu strategi yang saya gunakan untuk tetap mengikuti setiap tantangan di
komunitas ODOP. Harapan selama berada dalam komunitas ini adalah semoga saya
secara pribadi dapat semakin mengasah kemampuan, bakat dan minat dalam bidang literasi.
Dan semoga saja Komunitas ODOP kelak dapat memfasilitasi kami para member untuk
saling bertegur sapa tidak hanya di dunia maya.
![]() |
| Pinterest.id |
![]() |
| Pinterest.id |
![]() |
| Pinterest.id |
![]() |
| Pinterest.id |
Jika saat ini banyak yang berkeinginan untuk menikah, sudahkah
difikirkan kehidupan seperti apa yang akan dijalani selepas menikah?. Sudahkah
kamu mempersiapkan diri , untuk banyak kemungkinan yang terjadi diluar apa yang pernah kamu fikirkan tentang
pernikahan?. Sudahkah kamu memikirkan itu?. Merenungkan bahwa pernikahan tidak
hanya tentang teman tidur, teman bicara, teman tertawa bersama, teman menumpahkan
kekesalan serta kebahagiaan.
Sudah???
Atau mungkin kamu hanya berfikir bahwa menikah melepaskanmu dari sebuah
kegalauan karena apa yang di sebut patah hati. Atau kamu hanya merasa perlu
menikah setelah menyaksikan tema-teman seusiamu telah sampai lebih dulu pada
titik itu?. Berekspektasi bahwa pernikahan memberi hanya gambaran kebahagian.
Dan yang terparah mungkin ada sebagian
kecil di luar sana melaksanakan pernikahan hanya karena prestise dihadapan
sebayanya bahwa “Inilah aku, sudah menikah”.
Jika benar demikian terjadi pada kamu, sungguh gambaran dari pemikiran
yang dangkal dari seseorang terkait pernikahan. Karena faktanya menikah
benar-benar tidak sesederhana itu. Lebih mendalam, banyak hal yang akan kita
temukan dalam proses menjalani pernikahan setelah proses ijab. Bahkan sesuatu yangtidak pernah kita fifkirkan sebelumnya pun
akan di temukan kemudian di dalam pernikahan.
Saya memutuskan menikah di usia yang cukup matang. Dari keinginan menikah
di usia sangat muda tentu saya merasa sudah lebih mempersiapkan diri untuk segala kemungkinan yang terjadi dalam
pernikahan yang akan dihadapi. Menyengaja
belajar pada mereka yang telah berpengalaman menjalani proses membangun rumah
tangga, saya merasa lebih siap menghadapi pernikahan.
Membayangkan apa yang akan saya hadapi, menerka seperti apa harus
mengerti pasangan yang sedikit banyak sudah saya ketahui kepribadiannya. Mempersiapkan
tindakan seperti apa yang akan saya lakukan jika dihadapkan pada persoalan
rumah tangga yang mungkin muncul kelak.
Lalu apa yang kemudian terjadi setelah benar-benar masuk dalam dunia
pernikahan itu?. Semua yang saya pelajari sebelum menikah nyaris tak ditemukan dalam pernikahan saya. Tindakan antisipasi
yang sudah di persiapkan tidak sedikitpun saya lakukan. Semua benar-benar
berbeda dari apa yang sempat terbayang dalam benak, faktanya pernikahan
siapapun akan memiliki problematika yang berbeda. Yang benar sama hanya tentang
fakta “Setiap pernikahan akan memiliki masalah”, terlepas dari berat,ringan,
sukar, mudah dan apapun itu. yang jelas percayalah kita benar-benar akan banyak belajar di sana
Hakikatnya kita harus lebih dulu masuk pada lingkaran kehidupan bernama
pernikahan, untuk tahu apa dan bagaimana proses belajar yang sesungguhnya
berlangsung disana. Bukan membayangkan apalagi menerka-nerka. Semoga kalian yang
tengah menunggu pasangan untuk memasuki dunia pernikahan itu semakin Allah
mudahkan langkahnya untuk sampai kesana.
![]() |
| id.pinterest.com/ |
Pagi ini
diawali dengan segelas kopi dan diskusi. Saat suami menemukan sebuah postingan
di salah satu akun sosial medianya terkait etika berbicara dengan orang lain.
Pada postingan tersebut disebutkan bahwa ketika seseorang berbicara lalu
ia asik dengan gadgetnya maka hal tersebut secara etika
dikatakan tidak sopan. Saya mengiyakan berdasarkan perasaan, tatkala secara pribadi
merasa tidak di dengarkan jika berbicara pada lawan yang asik dengan gadgetnya.
Di sisi lain
suami bertaya, “Dalam konteks apa hal
itu di katakan tidak sopan?”, sementara kondisi saat ini menunjukkan
banyak orang mengobrol dengan gadget di tangannya, jika bisa tetap fokus dengan
lawan bicara kenapa tidak?. Oke baik, ini lemahnya argumen yang hanya didasari
perasaaan, membuat saya berakhir pada ketidak puasan atas apa yang diutarakan. Tapi
terkait hal ini, sejak dulu saya mendapat pengajaran etika dari orang tua
termasuk di dalamnya tentang bagaimana cara berbicara dan memperlakukan lawan
berbicara.
Ibu
adalah pendengar yang baik, dengan begitu saya berkaca dari bagaimana dia memperlakukan
lawan bicaranya ketika berperan sebagai pendengar. Terbiasa dengan pemandangan itu
membuat saya akan selalu merasa diliputi perasaan bersalah ketika harus fokus
dengan ponsel sementara seseorang tengah berbicara. Dan sebaliknya jika lawan
bicara saya fokus pada ponselnya ketika kami bicara, rasanya saya sedang tidak
di dengar sekalipun lawan bicara tersebut dapat memfokuskan diri pada keduanya
di saat bersamaan.
Jika
bagi suami dalam diskusi kami, ini hanya tentang konteks apa yang dibicarakan,
mungkin jika konteksnya obrolan santai dan dengan teman-teman nongkrong di
tempat yang juga santai, boleh lah nyambi main gadget. Sementara bagi saya
pribadi apapun jenis obrolannya, apa salahnya jika kita bisa sejenak menyimpan
gadget ketika berbicara dengan orang lain. Fokus dan tanggapi lawan bicara sebagai bentuk saling menghargai sesama
manusia.
Terlepas
dari semua itu, kondisi kita saat ini, kita para millenials berhadapan langsung
dengan fakta bahwa gadget, ponsel dan apapun sebangsanya, layaknya berperan
sebagai makhluk baru yang hampir 100% sangat dibutuhkan dan menjadi lekat
dengan kita sebagai individu sosial. Bahkan dengan benda ini kita membangun
dunia baru sebagai bentuk sosialisasi di luar dunia nyata.
Dimanapun
kita dapat menemukan pemandangan orang-orang dalam sebuah komunitas, berkumpul
sembari masing-masing tertunduk pada ponselnya. Biasa dan menjadi lumrah hingga
hilang topik terkait apakah hal tersebut
sopan atau tidak. Belum selesai diskusi kami tentang ini, tapi rasanya sudah
ingin selaki menuliskannya. Sebelum saya lanjut pembahasan ini di postingan
berikutnya, Nah…. menurut kalian sendiri bagaimana?, pentingkah menyimpan
gadget dan fokus hanya pada lawan
bicara, sementara kita sedang berada pada era dimana benda-benda digital
sejenis gadget seakan berusaha menguasai segalanya?.