Thursday, September 17, 2020

Isu Sosial di Balik Cream Tilik dan Cream

September 17, 2020 27 Comments
google.com
    Oke baik, ini pertama kalinya saya mereview film dalam blog ini. Perlu sedikit ekstra meningkatkan insting untuk memaknai maksud sebuah film. Berusaha pula melihat berbagai sudut pandang dari setiap adegan, menemukan kesimpulan hingga menontonnya secara berulang-ulang. 

     Film pertama adalah film bergenre comedy dengan daya tarik kehidupan perempuan masa kini.  Filmakhir-akhir ini viral dan banyak menjadi perbincangan, mencoba mengangkat isu sosial yang lekat dengan kehidupan masyarakat pada umumnya, film pendek berdurasi 32 menit ini menceritakan tentang masyarakat Jawa dalam tradisi menjenguk orang sakit yang disebut dengan istilah tilik. 

    Dikisahkan beberapa ibu-ibu di sebuah desa hendak menjenguk ibu Lurahnya yang tengah di rawat di rumah sakit. Perjalanan cukup jauh menuju rumah sakit membuat para wanita paruh baya itu menghabiskan waktu dengan berbincang di atas mobil truk terbuka selama perjalanan. Film ini sangat kental gambaran realitas kehidupan ibu-ibu kebanyakan dengan aktivitas ngerumpinya. 

    Bu Tejo salah satu tokoh dalam film tersebut berperan sebagai sosok yang mengawali cerita tilik. Membuka perbincangan dengan opininya tentang Dian, Bu Tejo berhasil membuka gerbang bagi lebih banyak opini dari ibu-ibu yang lain. Jadilah gambaran suasana yang tak asing banyak kita temukan dalam kehidupan nyata . 

     Sutradara Tilik yakni Wahyu Agung Prasetyo berusaha mengangkat isu sosial di masyarakat terkait maraknya penyebaran hoax menjelang pemilihan presiden 2019 lalu. Potret itu mendorongnya untuk menciptakan sebuah tontonan yang relevan dengan kondisi tersebut. Pun dalam film ini diketahui di akhir cerita, bagaimana dampak dari tidak memilih dan memilah datangnya sebuah informasi. 

google.com
 Kondisi serupa juga hadir dalam film pendek besutan sutradara kelahiran Inggris David Firth. Bertajuk Cream, film berdurasi sekitar 10 ini juga berisi tentang isu sosial di masyarakat. Cenderung lebih kompleks pada dasarennya film ini merupakan upaya mengkritisi kehidupan masyarakat modern dewasa ini.

    Cenderung lebih politis dan berbau konspirasi, Firth memperkenalkan karyanya yang menceritakan tentang seorang ilmuan bernama Dr. Bellifer yang selama bertahun tahun memisahkan, merenggang partikel terdistorsi hingga akhirnya mengungkapkan produknya yang revolusioner  yakni "Cream". Sebuah krim yang memiliki kekuatan untuk mengatasi segala permasalahan di dunia.

    Bagaimana tidak?, krim ini di buat untuk memperbaiki dunia. Melepaskan dunia dari belenggu ketakutan hingga kelaparan bahkan krim tersebut diformulasikan untuk menduplikasi dirinya sendiri. 

        Namun hal tersebut tak bertahan lama, semacam ada konspirasi pihak lain saat Cream berada di  atas awan. Pemberitaan terkait prodak tersebut berbalik dan menyerang pihak Dr. Bellifer untuk menghancurkan Cream di mata masyarakat. 
        
        Dari film Tilik dan Cream tersebut kita dapat melihat satu sisi yang sama dimana keduanya mengangkat isu sosial sebagai inti dari cerita. Terlepas dari konflik yang di hadirkan memang sangat jelas berbeda. Semoga kita dapat mengambil apapun pesan yang di sampaikan ke dua film tersebut.

Wednesday, September 16, 2020

Pesona One Day One Post

September 16, 2020 0 Comments

 

Idutinov.com 

                 Memasuki pekan kedua mengikuti tantangan di komunitas ODOP.  Ada kekaguman luar biasa terhadap komunitas penulis ini. Komunitas yang di dalamnya berisikan mereka dengan dedikasi luar biasa untuk organisasinya. Mereka yang berbagi sepenuh hati, menebar kebaikan tanpa pamrih dan melakukan tugas demi tugas komunitas dengan sepenuh hati.  

                Sebelum masa tantangan OPREC BACHT #8 untuk menjadi bagian dari komunita One Day One Post, saya ikut tantangan Ramadhan Writing Challenge dan berakhir dengan pengalaman dapat menulis satu bulan penuh setiap hari. Bagiku itu adalah sebuah pencapaian selama memutuskan mendalami dunia literasi, mengingat biasanya hanya menulis jika ingin. Selebihnya aktifitas menulis tidak dilakukan secara konsisten.

                Sejak awal mengenal ODOP dan masuk di dalamnya, entah kenapa rasanya menikmati sekali rutinitas menulis di bawah tekanan harus menyelesaikan tantangan  menulis satu tulisan setiap harinya. Padahal saya terbilang tidak memiliki banyak sisa waktu luang selepas bekerja dan menyelesaikan satu tulisan setiap hari adalah tantangan luar biasa dengan segala drama di dalamnya.

                Saya bisa saja memutuskan untuk mundur jika sedang dalam kondisi sulit mengelola waktu bekerja dengan menulis. Seperti saat ini, saya hanya punya waktu di malam hari untuk menyelesaikan setiap tantangan menulis. Dengan begitu alhasil semenjak ikut tantangan di OPREC ODOP ini saya harus selalu tidur lebih larut.

                Bisa saja kan  mundur detik ini juga, selain tidak mudah mengelola waktu, saya mengalami apa yang di sebut writing block dan sering merasa tak tenang sebelum bisa menyelesaikan satu tulisan. Seperti sebuah tulisan teman di squadron blog beberapa waktu lalu berjudul “Dikejar ODOP”, benar jika saya selalu merasa dikejar deathline. Dan ini masih akan terus berlangsung hingga 2 bulan kedepan.

                Dengan segala drama yang ada, enggan rasanya jika harus mundur. Mengakhiri perjuangan untuk sampai pada titik akhir tantangan ini.  sepertinya akan sangat menyesal jika satu ketika harus dihadapkan pada kondisi terdepak dari event yang sudah cukup lama saya tunggu.

                Entah apa yang membuat ODOP begitu memesona?. Sampai saya benar-benar bertekad untuk menyelesaikan tantangannya, semoga Allah senantiasa memudahkan dan memberi kesehatan untuk tetap menulis. Dan terimakasih yang teramat karena komunitas ODOP  hadir di tengah kegalauan saya tentang perasaan akan di bawa kemana hoby menulis ini. terimakasih juga pada para PIJE yang selalu membimbing kami dengan sepenuh hati. Semoga Allah membalas segala kebaikan dengan balasan yang sebaik-baiknya.

Tuesday, September 15, 2020

Bukan Keluarga Cemara Part II

September 15, 2020 0 Comments

                Bismillah….. 

Hallo man teman, sudah baca part I dari tulisan ini kan? Kalau belum langsung aja cussss baca dulu.

Ngomong ngomong soal keluarga, apa sih arti keluarga buat kalian dan sedalam apa kalian memaknai pentingnya kehadiran keluarga?.  Plus upaya apa yang dilakukan untuk menjaga keharmonisan keluarga?. Yuk bagikan cerita kalian di kolom  komentar.

Aku udah jelasin di part 1 ya, kalau keluargaku sudah kehilangan pilot dan co-pilotnya. Artinya di keluarga kita udah nggak ada orang tua, kita benar-benar kehilangan keduanya kurang lebih empat tahun terakhir. Tapi hidup berkeluarga tetap harus berjalan, karena bagaimana pun kita punya keterikatan  dari hubungan darah yang di bentuk kedua orang tua. Jadi nggak ada alasan untuk saling menjauhkan diri ketika kedua orang tua sudah tiada.

Kenapa aku bilang begitu, faktanya di luar sana banyak keluarga yang saling terpecah ketika orang tua udah nggak ada. Saling bertentangan bahkan lupa atas hubungan darah yang mereka miliki. Sebelum meninggal mama sudah lebih dulu melihat fenomena itu terjadi di lingkungannya sendiri. dengan begitu salah satu dari sekian banyak pesan cinta mama untuk kami adalah  tentang bagaimana saling menjaga antara kami 5 bersaudara.

Kalau ditanya seberapa penting peran keluarga untuk perjalananku sampai detik ini, rasanya nggak bisa dibandingkan dengan apapun karena mereka teramat penting. Dari semua sisi faktanya keluarga teramat sangat berperan. Proses untuk menyadari itu nggak singkat, ada banyak hal yang terjadi, bahkan dalam perjalanan aku  melakukan beberapa kesalahan. Tapi nggak masalah karena itu proses belajar. Belajar untuk akhirnya sampai pada titik dimana aku merasa begitu menyayangi mereka.

Jika merasa keluarga benar-benar sangat penting, itu artinya aku memaknai kehadiran mereka dengan cukup dalam. Bagiku keluarga adalah tempat kembali”, yang jelas seberapa buruk kita, seberapa besar kesalahan yag kita perbuat keluarga akan selalu menerima dan itu yang keluargaku lakukan sejauh aku merasakan  hingga saat ini.

Nah…. yang paling menyenangkan adalah bicara soal bagaimana menjaga keharmonisan keluarga, terlebih ketika orang tua sudah nggak ada?. Jujur dari keluargaku aku belajar sangat jauh tentang ini. mengamati apa yang mereka lakukan terhadapku serta antara mereka satu dengan yang lainnya.

Saat melihat bagaimana ke empat saudaraku saling menghargai, saling menghormati dan saling menjaga perasaan satu sama lain. Aku mengerti bahwa hal tersebut adalah upaya mereka untuk tetap menjaga harmoni di dalam keluarga. Kami hanya manusia biasa tatkala di luar sana banyak orang mengatakan bahhwa We are the best family. Ada perbedaan faham,pendapat bahkan saling berargumen. Faktanya itu yang terjadi layaknya  keluarga-keluarga lain dimana pun.

Tapi kembali bagaimana kami mampu saling melakukan yang terbaik, saling menjadi pengingat dan saling berusaha menjaga harmonisasi yang indah dalam keluarga, rasanya benar-benar indah.

                Kami bukan keluarga cemara dengan formasi yang lengkap, walau terasa pincang tanpa Mama dan Abah namun layaknya serial televise “Keluarga Cemara” kami pun punya cinta yang luar biasa.

 

 

Monday, September 14, 2020

Bukan Keluarga Cemara

September 14, 2020 0 Comments

 


                Harta yang  paling berharga adalah keluarga”

                “Istana yang paling indah adalah keluarga”

                Nggak asing kan dengan kutipan lirik lagu di atas?. Lagu yang legendaris karena menyimpan kenangan masa kecil kita, para generasi  90an. Soundtrack serial televisi bertajuk “Keluarga Cemara” ini pun hingga kini masih didengarkan dan di cover oleh beberapa influencer di kanal youtube.

                Bait demi baitnya adalah pesan tentang betapa berharga kehadiran keluarga.  Pun dengan kisah yang disajikan dalam serialnya adalah kisah yang related dengan kehidupan sehari-hari masyarakat pada umumnya. Sehingga wajar saja jika kala itu serial Keluarga Cemara menjadi salah satu serial televisi yang paling digemari.

                Saat menjadi penikmat serial televisi legendaris itu,  saya nggak pernah berusaha memahami maksud dari apa yang dikisahkan di dalamnya. Tapi kini, saat pribadi semakin terdewasakan oleh banyak peristiwa yang sampai dalam hidup, saya semakin sadar betapa keluarga terawatt sangat berharga.

                Dulu,saya dan kakak nomor 3 selalu dihadapkan pada sebuah pertengkaran khas anak-anak. Karena itu kami pernah ada pada satu kondisi layaknya musuh yang saling penuh kebencian. Rasanya berfikir bahwa dia adalah bagian dari apa yang di sebut keluarga pun tidak. setiap adalah kepusingan bagi mama menghadapi pertengkaran kami berdua.

                2006 keluarga kami kehilangan pilot pesawatnya, jika sang pilot memiliki  co- pilot sepuluh tahun berselang kami benar-benar kehilangan keduanya. Dunia seakan runtuh kala itu, kita terjatuh dan terhempas jauh. Tidak lagi hidup ini dibersamai orang tua yang sejatinya selalu memberi doa terbaik untuk keberlangsungan hidup kami. semua menjadi  gelap, aku sendiri takut harus hidup tanpa mereka dan doa yang senantiasa mereka panjatkan.

                Namun hidup harus tetap berjalan, tidak ada pilihan selain melanjutkan. Satu pesan mama yang selalu diingat adalah “Kalau Mama meninggal, kalian harus akur”, dan saya yakin itu adalah salah satu doa yang sering Mama panjatkan semasa hidup hingga sampai detik ini Allah senantiasa menjaga kami tetap saling menghormati dan menghargai satu sama lain.

                Tidak mudah untuk sampai pada titik ini, tapi  Qadarullah kami mampu melewatinya dengan baik. dalam segala bentuk perbedaan, kami terus berjalan, tidak sedikitpun berfikir untuk saling menyakiti. Sejatinya Allah maha baik, senantiasa menjaga raga juga seluruh jiwa kami di tengah ketiaadaan Mama dan Abah yang kini tinggal kenangan. Terimakasih wahai Allah, karenamu juga keridhoanmu aku merasa paling beruntung memiliki dan tumbuh di tengah-tengan mereka.  

                Kami bukan Keluarga Cemara, tapi layaknya mereka. Bagi kami keluarga adalah segalanya.

 

Saturday, September 12, 2020

Seberapa Penting Melihat Ke Bawah?

September 12, 2020 36 Comments
Pinterst.id 

                “Kok hidupku gini-gini aja ya?”,

                “Kok hidupku nggak  assik ya, padahal kalau liat orang di sosial media, mereka seru banget hidupnya, banyak temen, sering nongkrong, ngafe, jalan-jalan. Lahhhh ……. Aku masih gini-gini aja”.

                “Ih… dia bajunya keren-keren ya, di feed instagram fotonya juga bagus-bagus”.

                Seru memang, kalau kita sudah berselancar di dunia maya. Bersosial dengan cara yang berbeda. Menyaksikan kehidupan banyak orang yang  entah sesungguhnya benar atau tidak. Berkesempatan melihat lebih luas hal-hal yang tidak semua dapat dilihat di dunia nyata. Yang baik hingga sebaliknya ada disana, dan indikasi untuk melihat keduanya kapan pun sangat mungkin terjadi.

Apakah lewat sosial media kita juga terindikasi menjadi pribadi yang senang melihat ke atas?. Dalam konteks ini adalah hal-hal layaknya strata sosial, materi dan life style. Tentu sangat mungkin bukan?, bahkan hingga peluang untuk mengikuti dan meniru pun sangat mungkin terjadi. Ingin terlihat keren, ingin dipuji, ingin menarik followers, dan yang miris adalah tindakan melakukan segala macam cara untuk sampai pada apa yang menjadi tujuannya hingga memaksakan diri.

Ini menjadikan seseorang terlalu fokus pada apa yang diinginkanya, lupa bersyukur, lupa menyadari bahwa di luar sana banyak keprihatinan melebihi kesulitan yang mungkin tengah kita hadapi saat ini. Pernahkah teman-teman ada pada posisi itu?, jika pernah atau bahkan masih mari bersama-sama menyadari satu hal penting yang akan selalu menjadi alarm tatkala kita lupa apa yang sebenarnya ada di bawah kita. Ya…. “Mari seringlah melihat ke bawah!”

Sore ini saya menyaksikan satu contoh kecil terkait seberapa penting meliha ke bawah?. Seperti biasa ketika mampir ke pom bensin bersama suami, tentu saya harus melipir dulu dan menunggu sampai suami selesai isi bensin. Di sela-sela menunggu sebuah pemandangan tak asing berada tepat di depan mata, seorang gadis pemulung duduk di bahu jalan.

Berjalan dengan buntalan karung beras di pundaknya. Mereka tampak lusuh dan tak terawat, pakaian kumal yang hanya memiliki satu fungsi sebagai pelindung tubuh tanpa berfikir yang mereka kenakan stylish ataukah tidak. Sebetulnya tidak asing bagi saya melihat pemandangan itu. Namun kali ini berusaha memaknai lebih dalam dari sebuah proses hidup setiap manusia yang tidak sama. 
    
            Tentu tidaklah mudah, bertahan hidup di masa-masa bermain yang semestinya di lalui anak seusia mereka. sementara yang sedang mereka lakukan justru sebaliknya. tidak lagi berfikir kapan waktu bermain, dimana dan bermain apa. bagi mereka yang paling penting adalah menemukan apa yang dicari untuk tetap menjalani apa yang disebut sebagai kehidupan. 

                Sementara saya terkadang sibuk membandingkan diri dengan mereka para pengguna sosial media. Melihat banyak yang saya inginkan ada di sana, kehidupan yang seperrtinya akan membuat bahagia jika saya bisa selayaknya mereka. Banyak hal yang saya lupakan, termasuk di dalamnya adalah tentang menyadari sudahkah mensyukuri apa yang telah Allah beri. Kehidupan yang layak, tempat tinggal yang aman dan nyaman, makanan enak, ketenangan hidup serta kenikmatan beribadah, juga banyak hal yang ternyata nyaris tak pernah terlihat sebagai karunia yang Allah telah berikan. 

Itulah teman-teman, betapa pentingnya bagi kita untuk lebih sering melihat ke bawah. Melihat mereka dengan kehidupan tak seberntung kita. Semoga Allah senantiasa menjaga agar kita tetap mampu menyadari dan mensyukuri apa yang telah Allah karuniakan. 

Friday, September 11, 2020

Komunitas ODOP Isinya Daging Semua

September 11, 2020 0 Comments

Arsip ODOP


                Man teman, mari kembali membahas tentang ODOP. Buat saya istimewa sekali bisa bergabung dengan komunitas yang benar-benar memberi perubahan positif bagi saya. Menulis sejak kelas tiga sekolah menengah membuat saya mulai menyukai aktifitas tersebut sebagai sarana mengungkapkan perasaan.  Menulis diari adalah aktifitas yang paling sering di lakukan kala itu.

                Menyenangkan memang, apalagi jika satu tulisan sudah utuh dan di katakan selesai, kadang ngerasa terharu aja ketika baca ulang. “Lah, ternyata aku bisa nulis loh”, “Kok enak ya baca tulisan sendiri”, dan siratan-siratan lain yang muncul sebagai bentuk apresiasi atas produktifitas diri. Berulang kali dihadapkan pada momentum semacam itu membuat saya mulai beraniuntuk menulis tidak hanya di diari.

                Selama proses meningkatkan kemampuan menulis saya hanya mempublish tulisan-tulisan di sosial media. Nggak pernah masuk komunitas menulis, nggak pernah ada yang secara spesifik membedah  dan saya mulai terbiasa dengan banyak kesalahan penulisan. Bahkan kadang nggak peduli  yang saya tulis secara PUEBI udah bener apa belum.

                Saat ini bergabung bersama teman-teman dengan minat yang sama terhadap dunia literasi. Di komunitas One Day One Post banyak hal baru, pengalaman baru juga kesadaran bahwa banyak hal yang saya belum tau. Termasuk malam ini ketika di grup besar ODOP ada sesi bedah tulisan. Menemukan fakta bahwa ketika nulis saya jarang banget mikirin kaidah-kaidah penulisan, nggak tau deh kalau di bedah gimana nasib tulisan-tulisan di blog saya.

                Tapi, udah siap banget kalau seandainya giliran tulisan saya yang di bedah. Malah jadi penasaran sama gaya dan kesalahan-kesalahan penulisan yang saya lakukan. Rasanya nggak sabar untuk tau semua kesalahan itu sampai kemudian akan berusaha untuk memperbaikinya. Semoga secepatnya tulisan saya bisa dibedah, diberi kritik juga saran oleh teman-teman di komunitas One Day One Post.

                Intinya bersyukur sekali bergabung dalam komunitas ini. Selain melatih konsistensi menulis, kita juga belajar banyak hal baru yang isinya daging semua, hihi. Banyak doa dan harapan baik atas bergabungnya saya dengan komunitas ODOP. Semoga ini menjadi awal yang baik dalam meningkatkan kemampuan menulis dan berbagi kebaikan lewat tulisan. Aamiin…..

               

 


Thursday, September 10, 2020

ODOP, Strategi dan Harapan

September 10, 2020 0 Comments

 

Menulis tanpa komunitas jelas bagai sayur tanpa garam, rasanya hambar. Bagai menjalani hari tanpa kamu, eakkkk.

       Saya merasakan sekali perbedaan menyalurkan hobi menulis dengan dan tanpa di dampingi komunitas. Jika sebelumnya menulis dengan kaidah-kaidah yang ditentukan semau gue, dan dengan segala keterbatasan pengetahuan terkait dunia literasi. Membuat saya benar-benar egois dan merasa memiliki bakat menulis di lingkungan pribadi.

                Sementar setelah mengikuti komunitas, walaupun belum sah sebagai anggota… wkwkwk, akhirnya  mulai menyadari  bahwa di luar dari lingkungan sendiri,  saya menemukan banyak penulis-penulis berbakat yang sangat potensial. Dengan begitu sadar bahwa mimpi menjadi penulis yang produktif, sangat penting untuk mencari dan masuk lingkungan dimana berkumpul penulis-penulis hebat di dalamnya.

      Sampai saya menemukan komunitas ODOP (One Day One Post) dan mengikuti salah satu eventnya bertajuk Ramadhan Writing Challenge. Kesan pertama bergabung adalah perasaan takjub tentang betapa saya merasa sangat diuntungkan oleh kehadiran komunitas ODOP. Bagaimana tidak?, karena ODOP saya mulai sedikit banyak menemukan potensi diri dalam aktifitas menulis. Menemukan teman-teman baru sesama aktifis literasi. ODOP menghadirkanbanyak pengalaman baru dalam meyalurka hobi menulis.

          Selepas berakhirnya event RWC, saat ini saya tengah kembali bergabung bersama sahabat-sahaba ODOP untuk menyelesaikan tantangan menulis selama 3 bulan ke depan. Tentu perlu melakukan beberapa strategi untuk tetap bertahan dan berjuang sampai akhir. Mengatur segala sesuatunya agar aktifitas one day one post tidak kemudian  malah menjadi beban mental karena harus menulis setiap hari.

           Dengan begitu, menjadi sangat penting mengatur strategi agar Lulus sebagai anggota Komunitas ODOP serta aktifitas menulis dan aktifitas lain dapat dilakukan secara efektif. Dalam hal ini strategi yang saya secara pribadi lakukan diantaranya :

1.      1.   Mengatur Waktu Menulis

    Memasuki hari ke-5 tantangan ODOP, bagi saya sendiri waktu terbaik menulis adalah pada malam hari. Dan pada akhirnya itu akan selalu saya lakukan mengingat kenyamanan menulis dan menghasilkan tulisan pada malam hari.

2.     2.   Konsistensi

    Konsistensi benar-benar di perlukan dalam menulis, apalagi menulis untuk sebuah tantangan seperti di komunitas ODOP. Karena tanpa konsistensi kian hari kita kian di pusingkan dengan tugas menulis yang semakin menumpuk

3.       3. Do With Heart

    Bagi saya penting melakukan sesuatu dengan hati dan penuh  keikhlasan. Selain agar tetap berada dalam koridor bahwa menulis adalah memberi kebermanfaatan bagi banyak orang, juga agar aktifitas menulis benar-benar menjadi salah satu kebahagiaan serta kepuasan hati.

    Sementara hanya itu strategi yang saya gunakan untuk tetap mengikuti setiap tantangan di komunitas ODOP. Harapan selama berada dalam komunitas ini adalah semoga saya secara pribadi dapat semakin mengasah kemampuan, bakat dan minat dalam bidang literasi. Dan semoga saja Komunitas ODOP kelak dapat memfasilitasi kami para member untuk saling bertegur sapa tidak hanya di dunia maya.

Wednesday, September 9, 2020

Mr.Crack dan Mentalitas Sepeda

September 09, 2020 0 Comments
Pinterest.id
    Masih ingat sekuel film Habibie dan Ainun?. Yaps film Rudy Habibie yang ditonton oleh lebih dari 2 juta penonton. Di produksi pada tahun 2016 dan berhasil menempati urutan ketiga sebagai film terlaris sepanjang tahun tersebut. Terlepas dari keromantisan Habibie dan Ainun di film pertamanya, dalam film kedua ini justru tidak menampakkan peran Ainun sebagai sosok cinta sejati dari sang Mister Crack. 

     Jujur saya mengenal sosok Habibie sejak kisah cintanya di angkat ke layar lebar. Sebelumnya sama sekali mggak tau siapa beliau selain hanya tentang beliau adalah presiden ketiga Republik Indonesia. Nggak tau juga kalau ternyata andilnya terhadap industri Dirgantara Indonesia begitu luar biasa besar. 

     Balik lagi ke sekuel Habibi dan Ainun, sosok Habibie dalam film tersebut digambarkan sebagai visioner yang memiliki semangat pantang menyerah. Ahh….. meleleh jiwa saya melihat sosok muda B.J Habibie, di tambah dengan kecintaannya yang teramat sangat pada Ainun hingga yang benar-benar memisahkan mereka di dunia ini adalah maut. 

Pinterest.id

     Belum lama ini bahkan saya masih nonton video-video lama beliau di Youtube. Beberapa interview yang menghadirkannya selalu membahas kisah perjalan hidup beliau dan luar biasanya saya nggak pernah bosan. Dalam sebuah video kompilasi motivasi semangat belajar Ala B.J Habibie, ada banyak hal yang yang bagi saya memiliki kebermaknaan mendalam. Hidupnya amat filosofis dan penuh semangat membara selaras dengan apa yang di hadirkan dalam film. 

     Kamu yang nonton filmnya mungkin nggak asing dengan ungkapan “Jadilah mata air jernih yang memberi kehidupan pada sekitarmu”. Menurutnya itu adalah filsafah yang diberikan Sang ayah dan menjadi daya tarik tersendiri dalam sekuel Habibie Ainun. Itu kenapa saya bilang hidup beliau begitu filosofis. 
Pinterest.id

     Sulit mengungkapkan betapa luar biasannya Allah menciptakan makhluk yang atas kehendak-Nya begitu mampu mempengaruhi banyak orang. Begitu pun saya di dalamnya. Bagaimana tidak?, dari semua yang di ungkapkan adalah sebuah kebermanfaatan serta suntikan semangat buat saya secara pribadi. Malu rasanya tatkala beliau katakan bahwa usianya 80 tahun namun jiwanya 17 tahun.benar-benar semangat masa muda dan tua yang sama sekali taka ada bedanya. 

     Apa kabar dengan saya yang ketika harus menulis pun masih banyak mengulur-ngulur waktu?. Sedang ia Sang legenda yang di masa tuanya tetap tak pernah berfikir untuk berhenti. Baginya ia manusia dengan mentalitas sepeda,” yang jika dia berhenti dia akan terjatuh, maka dari itu ia akan terus mengayuh”. Sama halnya dalam bekerja “Jika saya berhenti, saya mati”, begitu katanya. Semoga Allah tempatkan beliau di tenpat terbaik di sisi-Nya, kini di dunia dia telah benar-benar berhenti bekerja.

Tuesday, September 8, 2020

Menikah, Antara Ekspektasi dan Realita

September 08, 2020 5 Comments

 

Pinterest.id

Jika saat ini banyak yang berkeinginan untuk menikah, sudahkah difikirkan kehidupan seperti apa yang akan dijalani selepas menikah?. Sudahkah kamu mempersiapkan diri , untuk banyak kemungkinan yang terjadi diluar  apa yang pernah kamu fikirkan tentang pernikahan?. Sudahkah kamu memikirkan itu?. Merenungkan bahwa pernikahan tidak hanya tentang teman tidur, teman bicara, teman tertawa bersama, teman menumpahkan kekesalan serta kebahagiaan.

Sudah???

Atau mungkin kamu hanya berfikir bahwa menikah melepaskanmu dari sebuah kegalauan karena apa yang di sebut patah hati. Atau kamu hanya merasa perlu menikah setelah menyaksikan tema-teman seusiamu telah sampai lebih dulu pada titik itu?. Berekspektasi bahwa pernikahan memberi hanya gambaran kebahagian. Dan  yang terparah mungkin ada sebagian kecil di luar sana melaksanakan pernikahan hanya karena prestise dihadapan sebayanya bahwa “Inilah aku, sudah menikah”.

Jika benar demikian terjadi pada kamu, sungguh gambaran dari pemikiran yang dangkal dari seseorang terkait pernikahan. Karena faktanya menikah benar-benar tidak sesederhana itu. Lebih mendalam, banyak hal yang akan kita temukan dalam proses menjalani pernikahan setelah proses ijab. Bahkan sesuatu  yangtidak pernah kita fifkirkan sebelumnya pun akan di temukan kemudian di dalam pernikahan.

Saya memutuskan menikah di usia yang cukup matang. Dari keinginan menikah di usia sangat muda tentu saya merasa sudah lebih mempersiapkan diri  untuk segala kemungkinan yang terjadi dalam pernikahan yang akan  dihadapi. Menyengaja belajar pada mereka yang telah berpengalaman menjalani proses membangun rumah tangga, saya merasa lebih siap menghadapi pernikahan.

Membayangkan apa yang akan saya hadapi, menerka seperti apa harus mengerti pasangan yang sedikit banyak sudah saya ketahui kepribadiannya. Mempersiapkan tindakan seperti apa yang akan saya lakukan jika dihadapkan pada persoalan rumah tangga yang mungkin muncul kelak.

Lalu apa yang kemudian terjadi setelah benar-benar masuk dalam dunia pernikahan itu?. Semua yang saya pelajari sebelum menikah nyaris tak  ditemukan dalam pernikahan saya. Tindakan antisipasi yang sudah di persiapkan tidak sedikitpun saya lakukan. Semua benar-benar berbeda dari apa yang sempat terbayang dalam benak, faktanya pernikahan siapapun akan memiliki problematika yang berbeda. Yang benar sama hanya tentang fakta “Setiap pernikahan akan memiliki masalah”, terlepas dari berat,ringan, sukar, mudah dan apapun itu. yang jelas percayalah kita benar-benar akan banyak belajar di sana

Hakikatnya kita harus lebih dulu masuk pada lingkaran kehidupan bernama pernikahan, untuk tahu apa dan bagaimana proses belajar yang sesungguhnya berlangsung disana. Bukan membayangkan apalagi menerka-nerka. Semoga kalian yang tengah menunggu pasangan untuk memasuki dunia pernikahan itu semakin Allah mudahkan langkahnya untuk sampai kesana.

Monday, September 7, 2020

Era Millenial, “Etika Berbicara dan Mendengar”

September 07, 2020 5 Comments

 

id.pinterest.com/
id.pinterest.com/


Pagi ini diawali dengan segelas kopi dan diskusi. Saat suami menemukan sebuah postingan di salah satu akun sosial medianya terkait etika berbicara dengan orang lain. Pada postingan tersebut disebutkan bahwa ketika seseorang berbicara lalu ia  asik dengan  gadgetnya maka hal tersebut secara etika dikatakan tidak sopan. Saya mengiyakan  berdasarkan perasaan, tatkala secara pribadi merasa tidak di dengarkan jika berbicara pada lawan yang asik dengan  gadgetnya. 

Di sisi lain suami bertaya, “Dalam konteks apa hal  itu di katakan tidak sopan?”, sementara kondisi saat ini menunjukkan banyak orang mengobrol dengan gadget di tangannya, jika bisa tetap fokus dengan lawan bicara kenapa tidak?. Oke baik, ini lemahnya argumen yang hanya didasari perasaaan, membuat saya berakhir pada ketidak puasan atas apa yang diutarakan. Tapi terkait hal ini, sejak dulu saya mendapat pengajaran etika dari orang tua termasuk di dalamnya tentang bagaimana cara berbicara dan memperlakukan lawan berbicara.

                Ibu adalah pendengar yang baik, dengan begitu saya berkaca dari bagaimana dia memperlakukan lawan bicaranya ketika berperan sebagai pendengar. Terbiasa dengan pemandangan itu membuat saya akan selalu merasa diliputi perasaan bersalah ketika harus fokus dengan ponsel sementara seseorang tengah berbicara. Dan sebaliknya jika lawan bicara saya fokus pada ponselnya ketika kami bicara, rasanya saya sedang tidak di dengar sekalipun lawan bicara tersebut dapat memfokuskan diri pada keduanya di saat bersamaan.

                Jika bagi suami dalam diskusi kami, ini hanya tentang konteks apa yang dibicarakan, mungkin jika konteksnya obrolan santai dan dengan teman-teman nongkrong di tempat yang juga santai, boleh lah nyambi main gadget. Sementara bagi saya pribadi apapun jenis obrolannya, apa salahnya jika kita bisa sejenak menyimpan gadget ketika berbicara dengan orang lain. Fokus dan tanggapi lawan bicara  sebagai bentuk saling menghargai sesama manusia.

                Terlepas dari semua itu, kondisi kita saat ini, kita para millenials berhadapan langsung dengan fakta bahwa gadget, ponsel dan apapun sebangsanya, layaknya berperan sebagai makhluk baru yang hampir 100% sangat dibutuhkan dan menjadi lekat dengan kita sebagai individu sosial. Bahkan dengan benda ini kita membangun dunia baru sebagai bentuk sosialisasi di luar dunia nyata.

                Dimanapun kita dapat menemukan pemandangan orang-orang dalam sebuah komunitas, berkumpul sembari masing-masing tertunduk pada ponselnya. Biasa dan menjadi lumrah hingga hilang topik  terkait apakah hal tersebut sopan atau tidak. Belum selesai diskusi kami tentang ini, tapi rasanya sudah ingin selaki menuliskannya. Sebelum saya lanjut pembahasan ini di postingan berikutnya, Nah…. menurut kalian sendiri bagaimana?, pentingkah menyimpan gadget dan fokus  hanya pada lawan bicara, sementara kita sedang berada pada era dimana benda-benda digital sejenis gadget seakan berusaha menguasai segalanya?.