Sunday, September 27, 2020

Derai Air di Tiga Pasang Mata

September 27, 2020 0 Comments

 

id.pinterest.com

Pagi ini ku dapati lagi satu dari sekian banyak  makna hidup yang tampak pada sebuah peristiwa. Seorang gadis tersedu di hadapan wanita paruh baya yang  semakin terlihat tak mampu menahan kekecewaannya. Malaikat kecil dihadapannya telah menjelma menjadi sebuah kepedihan. Wanita paruh baya yang tak lain adalah ibunya mematung dengan tatapan kosong. Sekali pun Sang gadis berusaha memohon dalam derai.

                Teringat beberapa waktu yang lalu, masih tampak kebahagiaan diantara ibu dan gadis bermata coklat berambut ikal itu. Dengan penuh cinta Sang ibu tak pernah meninggalkan rutinitasnya kala pagi menyapa. Menyiapkan sarapan kesukaan putri semata wayang yang selama hampir 20 tahun hadir sebagai satu-satunya orang yang menemani di kala apapun.

                Hidup menjalani dua peran sekaligus sebagai ibu juga ayah, dia berjuang memberikan yang terbaik bagi putri terkasih. Menjadikan masa lalu benar-benar sebagai masa lalu, sekali pun tak pernah menoleh pada masa paling menyakitkan dalam hidup. Tatkala ia dan Sang putri kehilangan arah, satu-satunya tumpuan hidup mereka pergi tanpa sedikit pun kata perpisahan. Hingga kini mereka benar-benar hanya berdua menjalani hari demi hari.

                Dihadapannya memohon seorang putri kecil yang telah beranjak dewasa. Bersimpuh  dengan derai yang semakin sulit tertahan. Tak pernah terfikir oleh nya, bahwa kepedihan 20 tahun silam akan dikembalikan sang putri kebanggaan. Sebelum saat ini, tak pernah sekali pun ia dikecewakan hingga mendapat kepedihan yang teramat dalam.

                Di sudut ruangan, seorang pria dengan wajah tertunduk tak kuasa menahan air mata. Melihat sosok-sosok yang pernah ia tinggalkan tengah berperang perasaan di hadapannya. Perih atas pemandangan yang tampak karena kesalahannya. Mengapa tak ia ambil keputusan lain kala itu?. Setan apa yang membuat ia meninggalkan keduanya?. Kini tinggallah penyesalan terbesar yang tak akan pernah bisa merubah apapun. Tak pernah serapuh itu,ia membiarkan air mata semakin mengaliri pipinya.

                Sementara wanita paruh baya dan gadis yang kini tak lagi kecil itu. Saling memberanikan diri untuk beradu pandang. Tak dapat di pungkiri, isyarat kasih sayang keduanya berbicara hanya dari tatapan mata. Kini takk ada suara selain isak tangis ketiganya, tak ada yang mampu mereka rubah dari masa lalu. Sang putri hanya ingin mengembalikan apa yang sempat hilang darinya. Ia telah amat berusaha, namun wanita paruh baya itu terlalu sakit mengingat masa lalunya. “Putriku sayang mengapa kau lakukan ini?”, dalam peluk disertai isak tangis, mereka tak jua mampu berkata.  

                 

               

Saturday, September 26, 2020

Penantianku Adalah Ilmu

September 26, 2020 0 Comments

 

id.pinterest.com

Tujuan utama dari sebuah pernikahan, selain sebagai ibadah juga untuk memiliki keturunan. Tapi terkait dengan keturunan hal tersebut tidak semata-mata diinginkan, diupayakan kemudian mendapatkan begitu saya. Bagi sebagian orang yang menginginkan lalu mengupayakan belum sepenuhnya kemudian mendapatkan.

Di luar sana banyak pasangan yang dengan mudah mendapatkan setelah mengupayakan, namun ada pula yang mengupayakan dengan segala yang mereka mampu hingga bertahun-tahun lamanya, namun belum kunjung mendapatkan. Tidak sedikit, karena yang demikian itu kadang berjuang tanpa mengumbar seberapa sulit mereka berusaha menadapatkan keturunan.

Aku adalah satu diantara mereka yang harus lebih bersabar menunggu hadirnya malaikat kecil di rumah kami. Setelah beberapa upaya dilakukan untuk memperoleh keturunan, Allah belum mengkaruniakan apa yang menjadi harapan terbesar dalam pernikahan ku dan suami.  Sampai detik dimana aku menulis ini, Qadarullah belum aku terima kabar bahagia perihal kehamilanku.

Apa yang aku dan para pasangan di luar sana rasakan bukanlah sesuatu yang mudah. Menjadi biasa jika harus mendengar pertanyaan “Udah hamil belum?”, “kok belum hamil?” dan “kapan nyusul?”, yang terkadang membuat hati hilang rasa bahagia serta telinga ingin memiliki filter untuk tak mendengar ketika sipapun bertanya demikian.

Banyak cerita selama penantian menunggu malaikat kecil kami. Tentu mereka di luar sana pun demikian, dengan cerita-cerita yang berbeda. Tapi, ada satu nilai penting yang aku dan suami pelajari selama dua tahun masa penantian. Dari sekian drama yang tak mudah di lewati aku menyadari bahwa disampig diri ini masih perlu banyak belajar sabar, kami sesungguhnya belum siap menjadi orang tua bagi titipan Allah yang kelak akan hadir.

Kenapa begitu?, aku dengan basic Pendidikan Anak Usia Dini, sedikit tau mengenai bagaimana cara mendidik dan membesarkan seorang anak. Apa yang harus dan tidah boleh kita lakukan sebagai orang tua, menjadi materi yang tidak asing ku dengar ketika menempuh pendidikan. Saat menikah aku merasa siap menjadi seorang ibu dengan apa yang sebelumnya aku pelajari.

Tapi bagi Allah tidak demikian, banyak yang aku belum ketahui tentang bagaimana sesungguhnya mendidik hamba Allah yang kelak memanggilku juga suami dengan sebutan Ayah dan Ibu. Apa yang secara teoritis aku pelajari, dari sisi realitas belum banyak aku lihat.   Tanpa aku sadari sebelumnya, selama masa penantian ini Allah benar-benar tunjukkan seberapa penting  yang aku pelajari untuk kemudian  di realisasikan pada anak sendiri nanti.

Melalui beberapa keluarga yang akhirnya menjadi panutanku dalam mendidik anak. Aku tau apa yang mungkin bisa di lakukan  lakukan agar memiliki anak yang berkualitas dari berbagai sisi, baik sosial, emosional, spiritual dan berkepribadian baik  serta berakhlakul karimah.

                Dari mereka aku menyadari bahwa Allah teramat baik dengan segala bentuk kesempatan untuk menjadi pribadi yang lebih baik, siap secara fisik, mental dan spiritual untuk tumbuh menjadi orang tua terbaik bagi anak-anakku kelak.

                Teman-teman di luar sana, jika Allah belum hadirkan malaikat kecil dalam rumah tangga kita, mari lihat betapa banyak sisi baik yang Allah tunjukkan selama masa penantian, dan kita akan semakin banyak mensyukuri setiap karunia-Nya. 

 

 

Friday, September 25, 2020

RSS, Gerbang Komunitas Guru Penulis Madrasah

September 25, 2020 0 Comments

 


Berawal dari mengikuti lomba Real Short Story yang di selenggarakan Kementrian Agama Kabupaten Sukabumi , dalam rangka memperingati  Hari Amal Bhakti ke-73. Akhirnya hari ini di Kantor Kementrian Agama, kami di pertemukan untuk membahas perihal penyusunan buku antologi ke-2 guru Madrasah.

Berbicara tentang buku, Alhamdulillah satu tahun setelah kegiatan lomba, kami menerbitkan semua naskah  dalam sebuah antologi dengan judul “Guru Madrasah, Bagja dan Berkah”. Buku tersebut berisikan praktik baik mengajar para guru di lingkungan Kementrian Agama mulai dari RA, MI, MTs dan MA. 

Buku pertama kami para guru Madrasah di Kementrian Agama Kabupaten Sukabumi kemudian launching di HAB Kementrian Agama ke-74, januari  2020 lalu. Saat itulah hampir 90% persen kontributor hadir dalam acara peluncuran buku Guru Madrasah Bagja dan Berkah. Acara tersebut juga dihadiri Bupati Sukabumi bapak Marwan Hamami. 

Setelah buku pertama terbit saya fikir grup RSS (Real Short Story) akan berakhir  mengingat goals dari event RSS itu telah terealisasi . Namun ternyata tidak, karena akhirnya kami memutuskan untuk menerbitkan antologi ke-2 di tahun ini. Kali ini pesertanya tidak hanya teman-teman di grup RSS saja, karena kami memboyong teman-teman guru Madrasah yang lain untuk membuka sebesar- besarnya kesempatan mengembangkan potensi menulis para guru Madrasah.

Dalam perjalanannya, ketika harus  ada tim penyusun untuk buku ke-2 dan kesempatan diberikan kepada siapa pun yang ingin bergabung. Saya memutuskan untuk menjadi bagian dari tim tersebut  bersama teman-teman perwakilan dari semua jenjang pendidikan. Dipertemukan dengan orang-orang yang luar biasa dan memberi kesempatan untuk semakin banyak belajar, tentu ini menjadi bagian dari momentum besar dalam perjalanan saya di dunia literasi. 

Setelah beberapa lama bersua di dunia maya, sesekali bertemu singkat. Hari ini kami benar-benar dipertemukan dalam sebuah forum diskusi. Selain untuk membahas perihal penerbitan buku ke-2 guru madrasah kami juga memiliki harapan besar untuk membentuk sebuah komunitas penulis yang di dalamnya adalalah para guru Madrasah di lingkungan Kementrian Agama Kabupaten Sukabumi. Kami menyebutnya Komunitas Penulis Guru penulis, semoga setelah terbit buku ke – 2 ini kami bisa lebih fokus merealisasikan pembentukan komunitas tersebut.

Thursday, September 24, 2020

Apa Kamu Percaya Peri Itu Ada?

September 24, 2020 0 Comments

 

id.pinterest.com

                Kamu Percaya bahwa Elf atau sejenis Peri ada di dunia ini?. Mungkin bagi kita sebagain besar penduduk Indonesia tidak terlalu mempercayai adanya peri. Walaupun sebagian orang mungkin ada saja yang percaya, bahkan mengaku pernah melihat secara langsung wujud dari makhluk kecil ini.

                Dalam dongeng-dongeng atau film seperti The Lord Of The Ring atau Tinkerbell, Peri digambarkan sebagai makhluk kecil yang identik dengan alam. Mereka sering kali di ceritakan hidup dan tinggal di dalam hutan. Berwujur seperti manusia hanya saja mereka memiliki sayap dan bisa terbang. Bagaimana?, apa mungkin kamu salah satu yang percaya behwa mereka ada dan hidup berdampingan bersama manusia?.

 Berbeda dengan kebanyakan orang di dunia yang mungkin menganggap bahwa Elf betul-betul hanya tokoh dalam sebuah dongeng. Lebih dari 50% penduduk Islandia meyakini keberadaan Elf dan mempelajari tentang makhluk tersebut. Tak tanggung-tanggung, Disana berdiri sebuah sekolah yang mempelajari 13 jenis Elf, ban bagaimana cara mereka hidup. Sekolah tersebut bernama Alfaskolin atau Elf School yang terletak di Reykjavik, Islandia.

                Layaknya dalam dongeng, masyaraka Islandia juga percaya bahwa Elf adalah makhluk yang memiliki kekuatas magis. Para Elf diyakini hidup berdampingan dengan mereka, hingga banyak penduduk Islandia sengaja membangun afhol atau rumah Elf  di pekarangan mereka. 

                Setiap Negara memiliki mitos terkait Elf yang berbeda-beda. Dalam mitologi Jerman misal, Elf merupakan Dewa Ras Kesuburan, tinggal di daerah  yang asri dan alami. Digambarkan sebagai makhluk yang selalu tampak segar dan muda. Penggambaran Elf juga tidak terbatas pada makhluk kecil, berperawakan seperti manusia dan bersayap serta selalu tampak muda dan cerah. Di Inggris justru Elf digambarkan sebagai sosok kakek-kakek tua bertubuh kecil.

                Bahkan dalam beberpa sumber, Elf dikatakan sebagai Peri, sementara dalam sumber lain Elf adalah Elf dan Peri adalah Peri.

                Nah…..gimana nih kira-kira?, kamu termasuk yang percaya Elf atau tidak?. Semua kembali pada bagaimana seseorang memiliki sudut pandang. Jika benar ada, tentu tiada yang tidak mungkin bagi Allah.

Wednesday, September 23, 2020

Aku dan Nikmat Sebuah Proses

September 23, 2020 23 Comments

                Ayahku terbaring dengan segala keluh akan sakit yang beliau rasa. Lebih tiga bulan hingga tubuhnya seperti tak berdarah, pucat dan lemah. Setiap hari kami harus bergantian mengurusinya yang tak lagi mampu melakukan banyak hal, bahkan untuk sekedar bangun dari tempat tidur. Abah, kami memanggilnya kian hari kian tampak berbeda dari ia yang dulu masih tampak sehat dan bugar.

                Pada hari dimana ku dapati rapot kenaikan kelas. Bahagia bukan main naik tingkat ke kelas VIII Sekolah Menengah Pertama dengan hasil memuaskan. Bayangan masa depan rasanya semakin tampak, akan melanjutkan pendidikan ke sekolah yang sejak lama ku impikan. Hari itu pembahasan seputar kenaikan kelasdannilai memuaskan menjadi topik paling dibicarakan di rumah kami.  Hingga sebuah panggilan khas Abah kepada anak-anaknya terdengar dari ruangan dimana ia terbaring. Ku penuhi panggilannya, duduk di sampingnya dan seperti biasa tertunduk  tanpa keberanian menatap matanya.

                “Kamu tau kan bagaimana kondisi kita sekarang?, Abah tidak bisa berbuat apapa”, beliau mengawali pembicaraan dengan pertanyaan yang membuatku mulai gusar. Aku seperti tau apa yang akan beliau sampaikan, namun berusaha menutupi dan berharap yang ku fikir tak akan ku dengar.

                Tak sepatah pun kata terucap,  hanya mampu merasakan detak jantung semakin tak beraturan. Hingga saat itu tiba, dan benar saja rasanya duniaku seketika runtuh. Abah benar-benar memintaku untuk tak melanjutkan sekolah.
                “Kalau sekolahmu disimpan satu tahun saja nggak masalah kan?, kondisi Abah begini, Ibumu hanya dagang dan penghasilannya nggak seberapa, jangan dulu lanjutkan sekolahmu”. Ungkapan yang tanpa basa-basi itu membuatku mematung, sudah tak mampu tertahan linangan air di kelopak mata. Sebagai penghormatan, ku ucap “iya” dan berlalu meninggalkanya.

                Di balik lemari kayu jati masih di ruang  tempat Abah berbaring, tanpa terlihat olehnya aku sandarkan tubuh dengan perasaan hancur. Membayangkan teman sebaya pergi bersekolah sementara aku akan menjadi penonton dari balik kaca jendela. berusaha menahan isak meski air mata semakin menganak sungai. Mama di luar sana menungguku, walau enggan tapi aku tak punya pilihan untuk membiarkan mama melihat begitu rapuhnya aku kala itu.

                “Nggak usah khawatir, Allah pasti tolong kita apalagi untuk urusan mencari ilmu. Kamu tetap akan sekolah”. Mama tau apa yang Abah sampaikan padaku, mungkin karena ini bukan kali pertama. Sebelumnya Abah juga sempat memintaku tak melanjutkan sekolah saat aku lulus Sekolah dasar. Tapi aku punya ibu yang luar biasa, tatkala Abah terlalu pesimis dibalik kemelankolisannya, Mama justru selalu mengejutkannku  dengan optimisme yang kuat akan kesuksesan kami anak-anaknya.
               

***

                Dari pengalaman itu aku memahami betul bagaimana Mama dan Abah sangat bertolak belakang. Dan aku mewarisi kemelankolisan Abah, serta bagaimana ia mudah putus asa. Tidak menyalahkan Abah dengan segala yang pernah dia putuskan. Kini aku merasakan betul bagaimana berjuan menjadi diri dengan kepribadian melankolis. Jika Allah takdirkan Abah dengan kondisi serba berlebihan dari sisi materi, dia adalah sosok ayah yang baik dan  senang berbagi.

                Tak lama berselang sejak Abah memintaku berhenti sekolah, Allah lebih menyayanginya dan mengambil sosok Ayah di rumah kami. Setelahnya Aku tetap bersekolah dengan keteguhan hati Mama juga bantuan dari kakak-kakakku.

                Lulus Madrasah Aliyah (MA) aku mendaftarkan diri ke salah satu Universitas Negeri di Bandung. Mengambil jalur beasiswa adalah pilihan terbaik karena Mama tidak memungkinkan membiayai kuliahku. Apa yang terjadi pada seorang Widya Bahri kala itu adalah berhadapan dengan perasaan ketika diminta Abah berhenti sekolah. Benar….. aku tidak lulus masuk perguruan tinggi bahkan setelah mengikuti tes-tes dengan jalur yang lain.

                Si melankolis kembali menunjukkan jati dirinya, aku galau berkepanjangan. Kuliah adalah mimpi terbesarku, dan rasanya sulit menerima kenyataan untuk menunda melanjutkan pendidikan. Tapi apa yang bisa aku perbuat selain mengalah pada takdir. Tidak mungkin memaksa Mama membiayai kuliah sementara aku tau betul bagaimana beliau berjuang dengan sangat luar biasa hanya untuk membiarkannku tetap bisa pergi ke sekolah.

                Aku mengalah, bekerja adalah sebuah pilihan yang bijaksana. Hingga tibalah pada perjuangan yang sesungguhnya. Mulai bekerja di sebuah pusat perbelanjaan sebagai pramuniaga, aku benar-benar menabung untuk biaya kuliah. Menahan ego untuk konsumtif terhadap apa yang aku lihat dan inginkan. Hingga satu tahun setelahnya aku mendaftar ke salah satu universitas negeri dan mimpi demi mimpi  satu per satu mulai ku wujudkan.

                Selama proses menjalani aktifitas sebagai mahasiswa, aku tetap bekerja. Hanya saja kali ini tidak lagi menjadi pramuniaga, tapi guru taman kanak-kanak dan guru privat yang setiap hari harus berkeliling dari satu rumah kerumah yang lain. Sangat menikmati itu sebagai sebuah profesi, dan biaya kuliahku benar-benar tercover dari pekerjaanku tersebut. Bahkan satu ketika aku pernah bekerja hingga larut malam untuk bisa membiayai kuliah. Pagi hari adalah guru TK, selepas dzuhur hingga sebelum margib berkeliling sebagai guru privat dan selepas magrib melakukan kerja part time di salah satu café di Sukabumi. Selama kurang lebih satu bulan aku pulang ke rumah pukul 12 malam hanya untuk tidur dan beristirahat.

                Akhirnya lulus pada akhir tahun 2018, Tahun Ini aku genap berusia 27, selama itu pula banyak kisah yang dilalui untuk sampai pada titik ini. banyak luka dan kepedihan menghiasi setiap perjalanan, termasuk ketika Allah kembali mengambil satu sosok paling berharga dalam hidup. 2016 Mama berpulang tanpa sempat terlebih dahulu bertemu menantu idamannya, yang menikahiku dua tahun setelah Mama tak lagi menyertaiku dengan raganya. 

                Satu hal yang senantiasa menjadi sebuah  keyakinan, hari ini aku masih bersama Mama dan doa-doa terbaik yang ia panjatkan untuku semasa hidupnya. Aku merasakan optimisme yang sering Mama ungkapkan dulu setiap hendak pergi dari rumah. "Sok sing sholehah, sing hasil pamaksudan, sing suksesdunia akherat,", (Semakin sholehah, semoga tercapai segala tujuan, semoga sukses dunia dan akhirat). 

                Secuil cerita yang tertuang dalam untaian kata ini, adalah sebuah proses panjang dari  kehidupan yang aku jalani penuh makna. Dari semua yang terlewati aku benar-benar belajar banyak hal. nilai-nilai kehidupan yang tidak ku pelajari dimana pun bahkan selama 16 tahun mengenyam pendidikan. Nikmat sekali proses ini, dan aku selalu berharap serta berusaha agar setiap yang menimpaku, baik dan buruk akan selalu memberiku kemampuan untuk senantiasa mengambil ibrah. 


Keterangan jenis Tulisan  : Cerita pendek

               

                 

 

               

Tuesday, September 22, 2020

Tips Menghadapi indikasi Penipuan Lewat Sosial Media

September 22, 2020 0 Comments



Berdialog dengan diri sendiri. Bertanya-tanya ada apa akhir-akhir ini. Walaupun saya  tau bahwa ada banyak pelajaran penting yang diambil dari apa yang sampai hingga detik ini. Namun tetap saja didalam benak beterbangan perasaan dan fikiran di balik kalimat tanya "Ada apa ini?". 

Jadi begini, beberapa pekan kebelakang saya berkali - kali dihubungi nomor tak di kenal. Ketika telpon coba saya jawab, sambungan justru terputus. Kedua kali suara seorang pria terdengar dari balik telpon berkata "Lagi dimana??". Saya lantas menjawab bahwa sedang berada di rumah. 

"Masih inget nggak?" Lanjutnya, sementara saya kebingungan tentang suara di balik telpon. Nyatanya memang tidak mengenal suara siapa itu. "Siapa ya. Ini", masih mencoba mengingat, tiba-tiba saja dia berkata seolah-seolah kami sudah lama saling mengenal, "Masa lupa sih", terdengar suara tawa kecil setelahnya. Kemudian entah kenapa tiba-tiba saya menyebutkan satu nama saudara,  anggaplah dia  Sani. 

"Oh.... Ini Sani bukan?, 

"Nah..itu inget, iya aku Sani. Kamu apa kabar? 

"Alhamdulillah baik" jawabku

"Aku kena musibah nih, bisa tolongin nggak?"

                                          ***

 yang aneh dengan dialog tersebut. Namun pada kalimat terakhir saya benar-benar merasa terganggu ketika mendengarnya. Dari sana mulailah otak bekerja untuk menganalisa segala kemungkinan yang terjadi. Tidak lantas panik dan berusaha selalu positif. Alhasil saya mulai menemukan banyak fakta bahwa ini adalah upaya penipuan.

Terkadang dalam kondisi tertentu kita perlu berfikir logis dan kritis tatkala mendengar seseorang meminta pertolongan.  Bukan suudzhon, tapi ini merupakan salah satu bentuk antisipasi seandainya terjadi sesuatu yang tidak kita inginkan. Apalagi saat ini kita berada di era digital yang kadang teramat menakutkan. Fakta apa saja yang saya temukan dan bagaimana a tips untuk dapat berfikir logis dalam kondisi tersebut menurut  versi saya. 

Monday, September 21, 2020

"Penulis Jujur", Mungkin Saya Belum

September 21, 2020 0 Comments

 

id.pinterest.com

                Bismillah….

                Kembali pada aktivitas yang belakangan menjadi rutinitas sejak memutuskan mengikuti event One Day One Post.  Memposting satu hari satu tulisan yang hanya bisa saya lakukan dimalam hari, memberikan atmosfir berbeda dari rutinitas saya sebelumnya. Ada kebanggaan tersendiri tatkala melihat blog terisi cukup banyak tulisa-tulisan sendiri. Padahal sebelumnya blog hanya sempat diisi paling tidak satu kali selama 3 bulan, itu pun jika ingin.

                Ngomong-ngomong soal menulis yang menjadi aktivitas utama di ODOP. Kami pun melakukan apa yang disebut Blog Walking  atau mengunjungi blog teman-teman lain di Squadron Blog. Nah.. tadi siang saya mengunjungi beberapa blog dan menemukan satu blog milik kak Indah Lidya yang artikelnya related banget sama kegalauang saya akhir-akhir ini.

                Jadi artikel kak Indah itu membahas tentang bagaimana menjadi penulis yang jujur. Menurut kak Indah menulis itu adalah aktivitas yang membutuhkan keterlibatan emosi di dalamnya. Dimana ketika seseorang menulis tentu dia harus mampu menyampaikan rasa dari apa yang di tulisnya kepada pembaca. Jadi bagaimana bisa penulis memberi rasa pada setiap kata, jika dia tidak melibatkan emosi dan jujur terhadap apa yang ditulisnya.

                Terkait menulis yang melibatkan emosi dan jujur terhadap apa yang saya rasakan ketika menulis. Beberapa waktu lalu sempat berbincang dengan teman sesama penulis tentang apa yang saya alami berkaitan dengan ini. dimana saat ini saya tengan  merasa  kehilangan rasa ketika menulis. Menulis hanya untuk menyelesaikan tantangan tanpa merasa memiliki tanggung jawab untuk  menyampaikan pesan dari apa yang sedang saya tulis

                Rasanya benar-benar hambar, saat menulis hanya mendapat kepuasan karena menyelesaikan satu tulisan.  Bukan puas Karena mampu menyampaikan sesuatu kepada pembaca yang didalamnya memiliki pesan-pesan positif. Dan yang paling miris adalah ketika membaca ulang tulisan, saya tidak merasakan hadirnya ruh dalam tulisan tersebut, kosong dan hampa. Bagaimana pembaca merasakan ruh dari apa yang saya tulis jika penulisnya sendiri tidak merasakan itu. Mungkin ini yang disebut dengan ketidak jujuran seorang penulis terhadap karyanya.

                Setelah membaca artikel kak Indah, saya menyadari beberapa hal penting yang perlu di fikirkan ketika hendak menulis. Agar saya tidak hanya sekedar menulis, tapi juga mampu berbagi hal-hal positif dari apa yang saya tuangkan dalam kata. Serta terimakasih untuk kak Indah yang juga memberi tips menjadi penulis yang jujur dalam artikelnya.  

Sunday, September 20, 2020

Keluarga, Harta Paling Berharga

September 20, 2020 0 Comments

Mengurai cerita dari satu sisi kehidupan  yakni  keluarga. Dua tahun lalu jika tak salah, saya sempat menulis tentang mereka  di sosial media, di sematkan beberapa foto family camp pertama kami sebelum saya menikah satu tahun setelahnya.  Selepas  itu masih banyak tulisan-tulisan saya yang di dalamnya menceritakan keluarga.

                Kenapa sih seneng banget nulis topik itu?. seandainya ada pertanyaan semacam itu, satu hal saja yang ingin saya katakan “Keluarga adalah tempat kembali”, selalu ada kalimat itu di beberapa tulisan saya tentang kelurga. Ini  hanya dalam konteks berkehidupan di dunia, karena hakikatnya satu-satunya tempat kembali adalah Allah SWT.

Seberapa buruk dan seberapa sulit tekanan yang kita hadapi keluarga selalu memiliki kelapangan membuka hati untuk senantiasa menerima kita kembali. Saya tau betul bagaimana mereka  memiliki kelapangan hati untuk senantiasa menadampingi dikala sedih, memberi support terbaik kala terjatuh, mengingatkan ketika kita melakukan kekeliruan. Dan aku melewati fase itu hingga menyadari betapa berharga nya kehadiran mereka

     Masa lalu memberi saya  peluang untuk menyadari  itu. banyak hal di  masa lalu yang membuatku belajar memaknai  lebih dalam akan kehadiran keluarga. Pada satu kondisi  di masa lalu tersebut,  saya  mengalami apa itu sebuah labilitas dari sisi berperilaku, berkata dan berfikir.

     Ketidak mampuan mengelola ketiganya dengan baik, serta labilitas dan ego yang masih mendominasi  diri. Kala itu saya benar-benar pernah berada pada problematika kehidupan yang membuat saya mengisolasi diri dari keluarga. Keegoisan tak mendasar membuat saya menjadi pribadi yang merasa diri ini paling benar. Nah loh…… serius dalam kondisi ini aku kerepotan banget.

                Kisah cinta yang hanya memikirkan perasaan saya saat itu, adalah salah satu yang mengawali semua problem di masa lalu. Sedang dalam kondisi begitu mengagumi seseorang , saya memilih menutup telinga atas apa yang keluarga sampaikan. Saran, petuah, dan  komunikasi baik yang berusaha mereka lakukan dengan baik, seakan menjadi bola api yang akan dengan cepat saya lempar karena rasa panasnya.

                Saya lupa akan posisi mereka sebagai orang terdekat dan paling mengerti ketimbang siapa yang saya berusaha perjuangkan. Saya lupa mereka menyadari kerasnya hati ini, tapi tetap berusaha melindungi. Saya lupa pada akhirnya benar-benar pada mereka diri ini kembali untuk sebuah penerimaan.

                Telah tiba saat saya terjatuh, saat itu aku mengerti mereka tetaplah paling mengerti dan kapan pun senantiasa menerima kita kembali. 

Saturday, September 19, 2020

Benarkah Nefertiti Lebih Cantik dari Cleopatra?

September 19, 2020 0 Comments
www.google.com


                Siapa Nefertiti, ketika yang saya tau Cleopatra adalah wanita paling berpengaruh pada masa peradaban Mesir Kuno. Mungkin kalian pun demikian lebih sering mendengar nama Cleopatra ketimbang Nefertiti. Padahal menurut cerita, Nefertiti adalah perempuan paling berpengaruh pada masanya.

     Merupakan istri seorang Firaun bernama Akhenaten, Nefertiti dikenal sebagai ratu paling agamis kala itu. Pada masa kepemimpinannya mereka dianggap sebagai pasangan yang membawa kejayaan terbesar peradaban Mesir Kuno. Melakukan perubahan-perubahan besar salah satunya memindahkan ibu kota dari Thebes ke Amarna. Setelah Akhenaten meninggal Nefertiti lah yang kemudian memegang tahta sebelum Tutankhamun menggatikannya.

Nama “Nefertiti merupakan nama pemberian Akhenaten sebagai bukti cintanya pada Nefertiti. Memiliki arti “Wanita cantik dari Athen”, dimana Athen merupakan semacan nama Tuhan di kalangan masyarakat Mesir kala itu. Ini membuktikan bahwa  nama “Nefertiti” bahkan menjadi lambang kecantikan Sang Ratu Mesir itu sendiri.

                Selain dikenal religius dan memiliki pengaruh besar terhadap kejayaan peradaban Mesir Kuno, Nefertiti juga dikenal karena kecantikannya yang konon tidak kalah dari Clepoatra. Bahkan beberapa sumber menyebutkan  bahwa kecantikan Nefertiti melebihi Cleopatra, benarkah?.

                Dari penemuan-penemuan berupa patung dan pahatan diketahui bahwa Nefertiti merupakan wanita cantik pada  masa itu. Dikisahkan selain memiliki bibir merah dan mata coklat almond, Nefertiti juga memiliki tubuh ramping hingga kecantikannya nyaris sempurna. Mungkin itu salah satu alasan banyak rumor beredar bahwa Nefertiti tidak kalah cantik atau bahkan lebih cantik dari Cleopatra. Wallahu a’lam bisshawab

Dari  sumber-sumber yang saya dapat menegenai sosok Nefertiti. Diceritakan bahwa ia sempat dikhianati oleh suaminya Akhenatin. Walaupun Nefertiti cantik namun ia tidak bisa memberikan keturuna untuk Akhenaten, sementara Akhenaten merasa ia harus memiliki anak sebagaipenerus tahtanya. Hingga Akhenaten menikahi adik kandungnya sendiri dan memiliki anak laki-laki yang kemudian meneruskan tahtanya yakni Tutankhamun.

Konon Tutankhamun semasa kecil tidak pernah lepas dari berhatian Nefertiti sebagai ibu tirinya. Bahkan yang lebih hebat Nefertiti tidak memiliki dendam sama sekali atas penghianatan Akhenaten. Dari kisah ini mungkin Nefertiti tidak hanya dikenal memiliki kecantikan paras. Namun dia juga memiliki kebaikan hati.

Dari semua kisah tentang Nefertiti, sayangnya hingga kini  layaknya penguasa Mesir lain, belum ditemukan mumi dari sang Ratu cantik tersebut. Padahal jika saja ditemukan maka itu akan menjadi bukti kebenaran rumor yang beredar tentang Nefertiti selama ini. Bahkan kematian Nefertiti pun seperti menjadi sebuah misteri. Belum adayang mengetahu pasti apa penyebab meninggalnya istri dari Akhenaten tersebut.

               

Dari ODOP, Tentang Aku dan Waktu

September 19, 2020 0 Comments
id.Pinterest.com

Bismillah,

                Bisa nulis setelah kerja musiman akhirnya kelar. Beberapa  minggu belakangan dihadapkan pada kondisi banyak hal mendesak yang harus dikerjakan, curi-curi waktu supaya tetep bisa menghasilkan tulisan dan tidur lebih malam dari biasanya. Harus juga ikhlas bikin hutang tulisan di event one day one post untuk pekan pertama dan kedua.

Eh, ini bukan keluhan ya tapi curcol wkwkw. Aku  memutuskan untuk ikut OPREC ODOP padahal tau dua atau tiga bulan kedepan akan dihadapkan pada pekerjaan yang sekarang tengah dikerjakan. Maklum saja nunggu event ini tuh udah jauh-jauh hari semenjak ikut Ramadhan Writing Challenge.

                Tau “
Kalau nggak ikut sekarang mungkin harus nunggu lebih lama lagi”, dan itu yang aku nggak ingin hadapi, penyesalan seandainya memutuskan nggak ikut OPREC ODOP. Tapi sekali lagi ini bukan keluhan, hanya saja dari sini dan dalam postingan kali ini aku ingin berbagi dengan kalian tentang apa yang akhirnya aku pelajari dari momentum ini.

                Dengan segala kerumitan yang dihadapi, aku menjalani walaupun beberapa hal harus di korbankan. Tapi dari semua yang terjadi, Pertama aku menyadari bahwa faktanya terkadang kita memang tidak selalu bisa melakukan banyak hal. Seandainya nggak terlalu urgen, saranku ya… pilih yang memang paling mungkin dilakukan sesuai kapasitas kita. Jangan terlalu memaksakan.

                Kedua dan yang paling penting buatku, akhirnya menyadari bahwa waktu sesingkat apapun tetaplah waktu. Selalu memiliki nilai dan selalu akan berlalu. Dari sini aku ngerasain banget kalau waktu satu menit pun tetap bernilai. Satu menit itu kita tetap bisa melakukan sesuatu dan menghasilkan sesuatu, terlepas apa  kemudian yang dihasilkan kembali pada kita sebagai pengguna waktu.

                Dulu sering banget nunda waktu seandainya ada niatan buat nulis, “Tanggung ah…. 30 menit  lagi Adzan Dzuhur, nanti deh habis dzuhur”. Sementara itu 30 menit sebelum dzuhur tadi malah aku gunakan untuk man handphone, cek sosial media, scroll-scroll nggak jelas tujuannya apa. Padahal 25 menit aku bisa tetap menulis dan menghasilkan tulisan walau hanya dapat satu paragraph, dan 5 menit berikutnya aku gunakan untuk prepare shalat dzuhur.

                Ahhh….. baru deh aku sadar betapa selama ini masih lalai menghargai waktu yang aku miliki. Belum dengan maksimal menggunakannya untuk kebaikan dan lupa betapa berharganya ia. mari teman-teman kita belajar memaknai betapa waktu begitu berharga dan sesingkat apapun, dia tetap memiliki nilai dan menentukan apa yang setelahnya terjadi pada kita.