Monday, October 5, 2020

Gara-Gara Negeri Van Oranje

October 05, 2020 0 Comments
source.google.com

                Hobby dan ketertarikan pada aktifitas menulis tidak datang dengan sendirinya. Selain karena Allah memberi peluang untuk menyukai dunia itu, ada pula peluang untuk menarik diri ke dalam sebuah pusaran, yang di dalamnya menyimpan banyak sekali kesempatan untuk mengembangkan diri. Jadilah hingga detik ini aku semakin menikmati aktifitas menulis.

                Selalu ada proses yang mengawali kapan seseorang menyukai dan melakukan sesuatu. Termasuk di dalamnya adalah aku, melewati proses yang akhirnya membawa pada tujuan untuk mengembangkan diri dalam salah satu bidang literasi yaitu menulis. Proses itu panjang dan penuh makna, namun ada satu proses yang akan selalu aku ingat tentang asal muasal keinginan menjadi penulis itu terbentuk.

Hari Guru, Ajang Introspeksi Diri

October 05, 2020 0 Comments

 

    

jogja.tribunnews.com
    Sebagai seorang pendidik dan memiliki banyak teman satu profesi sebagai guru, hari ini status whatsapp ku di banjiri ucapan “Selamat hari guru sedunia”. Hari guru menjadi salah satu bentuk apresiasi serta dukungan bagi para guru di seluruh dunia yang jatuh pada tanggal 5 oktober.

                UNESCO menetapkan hari guru internasional pada tanggal 5 oktober sejak 26 tahun lalu yakni pada 1994. Tujuan dari ditetapkannya hari guru selain sebagai bentuk dukungan terhadap para guru juga untuk meyakinkan bahwa guru memiliki peran vital, dimana keberlangsungan para generasi di masa depan berada di tangan guru.

                Hari guru Internasional berbeda dengan hari guru nasional di setiap Negara. Termasuk di Indosesia sendiri, hari guru akan jatuh sekitar satu bulan lagi yaitu pada tanggal 25 Nopember. Dimana pada tahun 1995 di hari dan tanggal yang sama di tetapkan pula hari Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI). Di Negara lain pun demikian, Amerika merayaka hari guru di minggu pertama pad bulan Mei. Hongkong 10 September, Korea selatan pada 15 Mei serta Argentina pada tanggal 11 Septembe setiap tahunnya.

                Biasanya perayaan hari guru di tandai dengan memberikan hadiah atau bingkisan dari siswa kepada guru sebagai ucapan. Atau memberi kejutan sebagai bentuk terima kasih atas dedikasi seorang guru dalam mendidik siswa siswi nya. Demikian mungkin di Negara lain, atau mereka justru memiliki kebiasaan dan ritual berbeda dalam memperingati hari guru nasionalnya.

                Sebagai seorang guru, sejatinya aku merasa ada yang lebih berarti dari sebuah perayaan saat hari guru tiba. Yakni sebuah kesadaran bahwa peran guru terhadapa masa depan generasi kita sangatlah vital. Apa yang kemudian kita ajarkan akan menentukan seperti apa kelak masadepan bangsa. Sudahkah kita menjadi guru yang baik?, apa upaya terbaik kita untuk menjalankan misi mencerdaskan anak bangsa.

                Karena menjadi guru takhanya tentang memberi pendidikan. Namun di balik itu, akhirat pun menanti bagaimana guru bertanggung jawab atas apa yang mereka ajarkan di dunia. maka selain menggenggam masa depan generasi masa depan guru juga bertanggung jawab sebagai hamba di hadapan Tuhannya atas apa yang ia sampaikan pada siswanya.

                Semoga dengan hadirnya peringatan hari guru, kita senantiasa ingat dan memahami makna terdalam dari sebuah perjalan menjadi seorang guru beserta tanggung jawab besar yang di emban. Dan yang terpenting semoga Allah meridhoi setiap yang kita lakukan dalam rangka menyebar kebaikan di dunia pendidikan. Selamat berjuang para teman-teman guru, khususnya di Negara tercinta Indonesia.

               

Saturday, October 3, 2020

Yuk….. kenalan sama Cabai Terpedas di Dunia

October 03, 2020 0 Comments

 
bbc.id
           Indonesia sangat tidak asing dengan makanan-makanan pedas, bahkan orang Indonesia begitu menyukai makanan dengan sensasi rasa panas serta menusuk lidah tersebut. Banyak makanan Indonesia dibuat dengan rasa pedas sebagai ciri khasnya. Bahkan makanan-makanan pedas tersebut di jual dalam level kepedasan yang berbeda.

                Seperti kita tau, di Indonesia sendiri sumber pedas yang paling banyak di gunakan adalah dari cabai. Ada banyak jenis cabai di dunia dan memiliki tingkat kepedasan yang berbeda. Nah…… kamu tau belum nih, cabai apa yang paling pedas dari sekian banyak jenis cabai di dunia??.  Kali ini kita akan coba bahas tentang cabai terpedas di dunia yang berasal dari Negeri Paman Sam.

                Namanya Carolina reaper, wahh, sekilas tampak seperti nama perempuan dan mungkin sebelum mengetahui, orang tidak akan sadar bahwa ini nama dari sebuah cabai. Memegang Guinness World Records pada tahun 2013 sebagai cabai terpedas di  dunia, cabai ini memiliki tingkat kepedasan yakni 2.200.000 Scoville Heat Unit (SHU). Merupakan hasil perkawinan dari dua jenis cabai yang salah satu diantaranya adalah pemegang Guinness World Record sebelumnya yaitu Gost Paper dan Red habanero.

Belajartani.com

                Carolina reaper memiliki bentuk  yang tidak lazim seperti cabai pada umumnya.  Memiliki keriput, ekor seperti sabit dan warna merah menyala yang seolah menjelaskan betapa kejamnya kepedasan dari cabai ini. Bahkan pedasnya cabai Carolina reaper ini diduga dapat membunuh siapa pun yang memakannya. 

                Seperti di kutip dari Liputan6.com, sebuah artikel pada tahun 2018 menyebutkan bahwa seorang pria Amerika serikat mengikuti kontes memakan cabai. Di santapnya cabai terpedas itu hingga ia terkapar dan harus di larikan ke rumah sakit setelahnya. Sebelum dilarikan ke rumah sakit pria tersebut merasakan nyeri  leher yang luar disertai sakit kepala yang ternyata disebabkan dari mengkonsumsi Carolina reaper.

                Di youtube kita akan banyak menemukan video dimana beberapa dari youtuber sengaja memakan cabai tersebut untuk mengetahui sensasi pedasnya. Beragam reaksi yang di tunjukkan oleh mereka,mulai dari berteriak untuk meminimalisir rasa pedas, mengumpat hingga melompat-lompat serta menangis saking tak kuatnya menahan rasa panas yang ditimbulkan dari memakan cabai tersebut.

                Wahhh, ngeri juga ya, kalian sendiri gimana?, kira-kira berani nggak nih makan cabai terpedas di dunia ini ???.

Friday, October 2, 2020

BEKERJA SECARA BERKELOMPOK PADA ANAK USIA DINI

October 02, 2020 0 Comments

       

www.google.com

                Bekerja secara berkelompok tentu sering kita temui dalam setiap proses pembelajaran di  semua jenjang pendidikan. Entah itu TK/RA, SD, SMP, SMA, hinga Perguruan Tinggi dan ini menjadi penting dilakukan sebagai upaya membangun kemampuan bekerja sama antar peserta didik. Mungkin tidak terlalu menjadi rumit jika itu dilakukan di jenjang pedidikan SD hingga Perguruan Tinggi. Tapi bagaimana dengan anak usia dini??.

                Pada dasarnya anak usia dini cukup mudah dikendalikan untuk dapat melakukan kegiatan bekerja secara berkelompok. Hanya saja terkadang sebagian guru beranggapan bahwa memberika tugas secara berkelompok adalah sesuatu yang cukup rumit hingga merasa lebih baik itu tidak dilakukan, begitu pun saya pada mulanya.

                Akhirnya sempat beberapa kali melakukan pembelajaran berkelompok di Raudhatul Athfal tempat saya mengajar sebelum pandemi datang. Pada mulanya memang terasa rumit, harus membagi anak-anak menjadi beberapa kelompok, menegaskan kepada anak bahwa mereka akan bekerja sama, tidak mengerjakan tugasnya sendiri dan akan saling berbagi peran.

                Tentu itu bukan hal yang mudah, mengingat anak-anak perlu diingatkan secara berulang. Belum lagi berhadapan dengan usia mereka yang masih dominan  egosentrisnya, ada yang belum mau mengalah hingga terjadi pertengkaran khas anak selama proses melakukan pekerjaan secara berkelompok.

                Satu ketika saya memberi tugas secara berkelompok untuk menanam biiji kecambah. Saya  membagi anak-anak dalam kelompok kecil yaitu dua anak per kelompok. Tugas mereka adalah menulis nama anggota kelompok dan menempelnya pada gelas plastik untuk menanan kecambah yang sebelumnya telah di sediakan. Berikutnya adalah bersama sama menanam kecambah dengan memasukan kapas, air dan biji kacang hijau ke dalam gelas yang telah mereka beri nama sebelumnya.

                Banyak hal yang saya temukan ketika mendampingi mereka melakukan tugasnya. Mulai dari anak-anak yang terlihat kaku berkomunikasi dengan teman satu kelompoknya, karena merasa tidak begitu dekat. Atmosfir belajar sambil bermain yang tersaji dalam bentuk kerjasama antara teman. Serta tingkah polah mereka yang beragam dan penuh kejutan. Bahkan beberapa hal yang tak pernah saya temukan sebelumnya, ada pada proses belajar kelompok anak usia dini.

                Jangan tanya tentang kerumitan, saya menghadapi itu, tapi lebih dari kerumitan yang di alami ada kepuasan menyaksikan anak-anak menunjukkan potensi yang belum pernah saya lihat ketika mereka belajar secara individual. Maka dari itu kita sebagai pendidik  jangan merasa takut atau malas untuk mulai menghadapkan anak didik kita pada proses belajar kelompok. Karena tersimpan banyak kejutan di dalamnya yang mungkin tidak kita temukan sebelumnya.

Thursday, October 1, 2020

Tips Menjaga Harmonisasi Dalam Keluarga

October 01, 2020 0 Comments

 

             Saya lahir dalam keluarga dengan lima bersaudara yang kesemuanya adalah perempuan. Kami kehilangan satu-satunya saudara laki-laki yang lebih dulu berpulang ketika ia masih balita. Beranjak dewasa kami kembali kehilangan Abah sebagai tumpuan hidup, di susul sepuluh tahun kemudian mamah yang berpulang menghadap Allah.

                Jadilah semenjak 2016 silam kami menjalani kehidupan tanpa peran orang tua di dalamnya. Sejak mama berpulang pada oktober di tahun tersebut, saya betul-betul mengkhawatirkan keberlangsungan hidup keluarga ini.  Hingga banyak ketakutan bermunculan mulai dari takut keluarga terpecah, hubungan persaiudaraan merenggang karena ketiadaan orang tua sebagai pondasi yang mengkokohkan keluarga kami, serta banyak ketakutan-ketakutan lain bermunculan.

                Sampai tiba pada satu ketika saya menyadari bahwa ketakutan-ketakutan itu sama sekali tidak terbukti. Bahkanbeberapa orang terdekat menilai   bahwa kami adalah salah satu keluarga yang sangat kompak bahkan ketika mamah dan abah telah tiada.

                Apa sih tips keharmonisan dan kekompakan keluarga kami?. Yukk kita simak  apa saja yang dapat di lakukan agar keluarga tetap dalam kondisi harmonis.. Cekidoootttt…

 1.  Membangun komunikasi yang baik

Komunikasi merupakan hal fundamental dalam keberlangsungan hidup manusia. Komunikasi dapat menjembatani fikiran, kebutuhan dan perasaan seseorang terhadap orang lain. Dengan komunikasi yang baik tentu apa yang seseorang fikirkan, butuhkan dan rasakan  akan sampai dengan baik pula pada lawan bicaranya termasuk keluarga.

 2.    Saling memahami

Tidak ada manusia yang sempurna di muka bumi ini. Seberapa baik pun seseorang, akan dan pernah berada pada satu kondisi dimana dia melakukan kesalahan. Ketika salah satu dari kita melakukan kesalahan, alangkah lebih baik untuk tidak saling menyalahka. Namun berusaha saling memahami kekurangan masing-masing.

   3.  Saling menghargai

Hal sekecil apapun yang dilakukan satu diantara kami, sebisa mungkin berusahalah menghargai da mengapresiasi hal-hal baik tersebut.

   4Hindari kemungkinan yang mengarah pada pertengkaran 

          di dalam kelurga

Simple saja, saat kita harus berusaha menghindari pertengkaran dalam keluarga. Maka dari itu kita harus melakukan tindakan antisipasi dengan upaya saling menghargai dan saling memahami. 

  5. Sering mengadakan pertemuan keluarga

Saling bertemu antar keluarga  adalah momentum yang sangat penting untuk menumbuhkan kepekaan sesama anggota keluarga. Membangun perasaan saling mengasihi satu samalain juga berawal dari pertemuan demi pertemuan yang dilakukan. so.... luangkan waktu saling bertemu untuk sesuatu yang positif 

Itulah beberapa tips untuk  menjaga keharmonisan antar kehidupan bersaudara bahkan ketika taklagi ada kehadiran orang tua. Mungkin teman-teman punya lebih banyak tips lain, silahkan  tinggalkan komentar di bawahnya. Semoga ini bermanfaat untuk kita semua dan Allah senantiasa menjaga keluarga kita. Aamiin….

 

 

 

Bersenandika di September Ceria

October 01, 2020 8 Comments
Ruangnulis.com

        Tadi malam berasa pecah telor, karena akhirnya meyelesaikan tantangan 30 hari menulis senandika. Selama 30 hari itu pula saya belajar tentang sebuah konsistensi bagaimana harus menulis setiap hari tanpa putus. Walaupun ini bukan kali pertama karena sebelumnya sempat mengikuti Ramadhan Writing Challenge yang di selenggarakan Komunitas ODOP, tetap saja pengalaman 30 hari menulis senandika ini sangat berkesan buat  saya.

            Menulis menjadi aktifitas yang saya sukai sejak duduk di bangku kuliah.  Namun saya tidak pernah mengikuti challenge atau kompetisi apapun selain mempublis tulisan-tulisan pribadi di status sosial media. Dan kini semakin menggemari menulis karena ternyata selain menyenangkan dalam prosesnya, memiliki  komunitas juga tantangan-tantangan  menulis  amat menyenangkan.

Satu bulan lalu ketika memutuskan mengikuti tantangan ini, sejujurnya saya belum pernah mendengar apa itu yang di sebut dengan “Senandika”,  dan tulisan seperti apa yang di maksudkan pihak penyelenggara . Hingga kemudian memutuskan mendaftar dan mulai cari tau apa itu senandika danjenis tulisan seperti apa dia.

Indonesia,Senandika atau solilokui adalah wacana seorang tokoh dalam karya susastra dengan dirinya sendiri di dalam drama yang dipakai untuk mengungkapkan perasaan, firasat, konflik batin, yang paling dalam dari tokoh tersebut, atau untuk menyajikan informasi yang diperlukan pembaca atau pendengar. Senandika juga adalah sebuah monolog yang biasanya ada dalam pementasan drama.

Setelah mengetahui apa sebenarnya yang disebut dengan senandika, saya menyadari bahwa selama ini, tanpa sadar sosial mediaku di penuhi dengan senandika yang menggambarkan kondisi perasaanku di masa lalu. Terkadang kita memang asing dengan sebuah istilah namun ternyata tanpa tau kita sudah melakukannya bahkan sering.

Jadilah tantangan 30 hari menulis senandika itu amat dinikmati karena pada dasarnya sedikit banyak sudah terbiasa melakukannya. Hanya saja jika dulu menulis semaunya kini harus berturut-turut dilakukan tanpa putus selama satu bulan penuh. Dan ketika berhasil menyelesaikannya ada satu kepuasan yang sulit untuk dijelaskan. Jadilah karena ini septemberku menjadi semakin ceria.

           

  

Tuesday, September 29, 2020

Mencari Halal

September 29, 2020 0 Comments

  

www.google.com

                Menjadi salah satu pendidik bagi Anak Usia Dini sejak 7 tahun lalu membuatku memiliki banyak kisah menarik berkenaan dengan mereka. Selain salah satunya adalah tentang bagaimana aku belajar dari dunia mereka para jiwa yang tulus jujur. Aku juga disuguhi kelucuan-kelucuan tingkah mereka hampir setiap hari.          

           Bagaimana tidak?, kejujuran mereka terkadang menjadi tawa yang mungkin tidak aku dapati di luar sana. Kepolosan mereka dalam bertingkah dan bertutur kata terkadang menjadi ketulusan yang meninggalkan kesan mendalam. Bagiku mereka adalah makhluk yang indah. Dari sisi terdalam hatiku mereka salah satu dari sekian banyak hal yang membelajarku akan sebenar-benarnya kehidupan.

                Salah satu kisah menarik bersama kereka, saat ini membuatku teramat merindu di tengah pandemi yang membatasi pertemuan kami. Aku tertawa sendiri mengingat hal itu, rindu akan kejenakaan  dan bagaimana kejujuran bertutur kata serta berperilaku mereka yang dulu hampir setiap hari aku saksikan. Hari ini aku benar-benar merindu.

                Suatu hari di kelas tempat ku mengajar anak kelompok A sebuah Raudhatul Athfal, aku menyampaikan tema “kebutuhanku” dengan sub tema “Makanan dan Minuman Kesukaan”. Dalam satu pekan terdapat satu hari untuk membahas terkait makanan halal dan haram. Seperti biasa kami bercakap-cakap dan anak-anak saling berinteraksi menyebutkan apa saja yang tergolong ke dalam makanan halal dan juga haram.

                Satu ketika aku membahas tentang cara mengetahui jajanan yang anak-anak beli, halal dan boleh di konsumsi adalah  dengan mencari label halal dalam kemasannya. Serta ku sampaikan jika tidak ada label halal lebih baik dihindari. Hingga waktu snack time, sebagaimana anak-anak kebanyakan mereka langsung mempraktekan apa yang aku sampaikan. Pada hari itu semua anak menjadi sangat teliti saat membeli jajanan. Saling memperlihatkan jajanan masing-masih apakah memiliki label hala atau tidak.

                Keesokan harinya di hadapkan pada kondisi serupa ketika snack time. Yang membuatku menggelitik adalah tingkah Cahya salah satu siswa yang tidak menemukan label halal pada kemasan permen miliknya. Seperti merasa bersalah, ketika di tanya teman apakah makanannya memiliki label halal dia langsung berdalih permen itu bukan miliknya, tapi kakaknya yang membeli dan meberikan pada cahya. Tiba-tiba cahya keluar kelas dan menghampiri sang bunda yang menunggunya di area tunggu orangtua. Seketika dia berteriak pada sang bunda “Bun…. Ini kok nggak ada halalnya?”.

                Satu kisah lain datang dari Afifa yang juga membuat aku tak bisa menahan tawa. Ketika bundanya bercerita bahwa sepulang sekolah di hari sebelumnya Afifa membeli jajanan pinggir jalan, dia sibuk mencari label halal pada sterofoam sebagai  kemasan jajanan yang dibelinya. Hingga tidak ia dapati label halal, menurut Sang Bunda dia tampak kecewa.

                Lucu sekali memang anak-anak ini, selalu memiliki cara tak disengaja untuk menghibur orang-orang di sekitar mereka dengan kepolosannya. Dari sana pula aku memahami bahwa sebesar itu pengaruh memberikan sebuah informasi kepada anak-anak jika mereka mampu dengan baik menerima. Dari itulah semakin hari semakin aku mencintai anak-anak serta dunianya.


Monday, September 28, 2020

Nenek Tangguh

September 28, 2020 0 Comments

 

id.pinterest.com

             Untuk tetap melanjutkan hidup, seseorang perlu berupaya melakukan sesuatu agar tetap bertahan . Setidaknya mempu untuk memenuhi kebutuhan pangan harian dari penghasilan yang di dapat. Tidak semua orang memiliki akses untuk mendapat penghasilan yang tergolong cukup atau bahkan lebih. Diluar sana ada yang hanya mampu memperoleh penghasilan untuk satu hari saja memenuhi kebutuhan pangannya. Esok dan seterusnya dia haru kembali berfikir keras.

               Berarti seseorang perlu bekerja setiap hari agar kebutuhannya terpenuhi. Bagi kita yang masih berada pada usia produktif untuk bekerja, tentu bukan hal yang  sulit jika memang kesempatan serta kemampuan bekerja  masih Allah karuniakan. Tapi apa kabar bagi para orang tua di luar sana yang masih harus tetap bekerja di usia yang seharusnya ia habiskan untuk menikmati sisa hidupnya.

                Siang ini berhadapan langsung dengan seorang nenek tua yang tiba-tiba mendatangi rumahku menggunakan sebuah alat bantu untuk berjalan. Langkahnya gontai karena beban yang ia bawa dan diagnosa kesehatannya. Alat bantu untuk  berjalan itu mengisyaratkan bahwa sakit yang ia miliki bukanlah sakit ringan. Ia harus berjuanng melawan sakit, berjalan tertatih dengan alat bantu dan kantung kain berisi barang dagangannya.

                Sang Nenek berusia sekitar 65 tahun itu, berkeliling menjajakan wajik jualannya dari satu rumah ke rumah yang lain. Tak Nampak sedikit pun keluhan saat berjualan walau kondisinya sedemikian menyulitkan. Sang nenek tetap berjuang untuk dapat melanjutkan hidupnya. Walau harus berjalan di bawah terik, ia berusaha sekuat tenaga.

Aku tak pernah tau dia siapa, bukan nenek yang tinggal di sekitar tempat tinggalku. Kadang  aku melihatnya di tempat yang jauh dari tempatnya kini berjualan. Membayangkan seberapa jauh si Nenek berjalan saja , aku merasakan kengerian juga kepedihan. Banyak pertanyaan muncul di kepala, bagaimana kehidupan Si Nenek sebenarnya. Dimana anak-anak mereka, tidakkah sang putra atau putri melarangnya demikin?.

Tak ingin menyalahkan siapa pun, aku tidak pernah tau apa yang terjadi pada orang lain, tak juga tau apa alasan sang nenek di usia senjanya serta dalam kondisi sakit, harus melakukan hal demikian. Aku tidak pernah tau dan tak ingin menghakimi siapapun. Yang terpenting adalah, aku mempelajari beberapa hal dari bagaiman Sang Nenek menjalani hidupnya.

Mungkin dia bisa saja menjadikan kondisinya, sebagai upaya memperoleh penghasilan tanpa harus berjualan atau meminta-minta contohnya. Namun hal itu tidak ia lakukan. D engan gigih ia terus berjalan menjajakan wajik yang mungkin itu pun ia buat sendiri. Semoga kita parakaum muda dapat mengambil pelajaran dari kisah ini. merasa malu jika bertindak malas danengganuntuk berusaha di usia yang jauh lebih produktif dari sang Nenek Tangguh. 

Sunday, September 27, 2020

Derai Air di Tiga Pasang Mata

September 27, 2020 0 Comments

 

id.pinterest.com

Pagi ini ku dapati lagi satu dari sekian banyak  makna hidup yang tampak pada sebuah peristiwa. Seorang gadis tersedu di hadapan wanita paruh baya yang  semakin terlihat tak mampu menahan kekecewaannya. Malaikat kecil dihadapannya telah menjelma menjadi sebuah kepedihan. Wanita paruh baya yang tak lain adalah ibunya mematung dengan tatapan kosong. Sekali pun Sang gadis berusaha memohon dalam derai.

                Teringat beberapa waktu yang lalu, masih tampak kebahagiaan diantara ibu dan gadis bermata coklat berambut ikal itu. Dengan penuh cinta Sang ibu tak pernah meninggalkan rutinitasnya kala pagi menyapa. Menyiapkan sarapan kesukaan putri semata wayang yang selama hampir 20 tahun hadir sebagai satu-satunya orang yang menemani di kala apapun.

                Hidup menjalani dua peran sekaligus sebagai ibu juga ayah, dia berjuang memberikan yang terbaik bagi putri terkasih. Menjadikan masa lalu benar-benar sebagai masa lalu, sekali pun tak pernah menoleh pada masa paling menyakitkan dalam hidup. Tatkala ia dan Sang putri kehilangan arah, satu-satunya tumpuan hidup mereka pergi tanpa sedikit pun kata perpisahan. Hingga kini mereka benar-benar hanya berdua menjalani hari demi hari.

                Dihadapannya memohon seorang putri kecil yang telah beranjak dewasa. Bersimpuh  dengan derai yang semakin sulit tertahan. Tak pernah terfikir oleh nya, bahwa kepedihan 20 tahun silam akan dikembalikan sang putri kebanggaan. Sebelum saat ini, tak pernah sekali pun ia dikecewakan hingga mendapat kepedihan yang teramat dalam.

                Di sudut ruangan, seorang pria dengan wajah tertunduk tak kuasa menahan air mata. Melihat sosok-sosok yang pernah ia tinggalkan tengah berperang perasaan di hadapannya. Perih atas pemandangan yang tampak karena kesalahannya. Mengapa tak ia ambil keputusan lain kala itu?. Setan apa yang membuat ia meninggalkan keduanya?. Kini tinggallah penyesalan terbesar yang tak akan pernah bisa merubah apapun. Tak pernah serapuh itu,ia membiarkan air mata semakin mengaliri pipinya.

                Sementara wanita paruh baya dan gadis yang kini tak lagi kecil itu. Saling memberanikan diri untuk beradu pandang. Tak dapat di pungkiri, isyarat kasih sayang keduanya berbicara hanya dari tatapan mata. Kini takk ada suara selain isak tangis ketiganya, tak ada yang mampu mereka rubah dari masa lalu. Sang putri hanya ingin mengembalikan apa yang sempat hilang darinya. Ia telah amat berusaha, namun wanita paruh baya itu terlalu sakit mengingat masa lalunya. “Putriku sayang mengapa kau lakukan ini?”, dalam peluk disertai isak tangis, mereka tak jua mampu berkata.  

                 

               

Saturday, September 26, 2020

Penantianku Adalah Ilmu

September 26, 2020 0 Comments

 

id.pinterest.com

Tujuan utama dari sebuah pernikahan, selain sebagai ibadah juga untuk memiliki keturunan. Tapi terkait dengan keturunan hal tersebut tidak semata-mata diinginkan, diupayakan kemudian mendapatkan begitu saya. Bagi sebagian orang yang menginginkan lalu mengupayakan belum sepenuhnya kemudian mendapatkan.

Di luar sana banyak pasangan yang dengan mudah mendapatkan setelah mengupayakan, namun ada pula yang mengupayakan dengan segala yang mereka mampu hingga bertahun-tahun lamanya, namun belum kunjung mendapatkan. Tidak sedikit, karena yang demikian itu kadang berjuang tanpa mengumbar seberapa sulit mereka berusaha menadapatkan keturunan.

Aku adalah satu diantara mereka yang harus lebih bersabar menunggu hadirnya malaikat kecil di rumah kami. Setelah beberapa upaya dilakukan untuk memperoleh keturunan, Allah belum mengkaruniakan apa yang menjadi harapan terbesar dalam pernikahan ku dan suami.  Sampai detik dimana aku menulis ini, Qadarullah belum aku terima kabar bahagia perihal kehamilanku.

Apa yang aku dan para pasangan di luar sana rasakan bukanlah sesuatu yang mudah. Menjadi biasa jika harus mendengar pertanyaan “Udah hamil belum?”, “kok belum hamil?” dan “kapan nyusul?”, yang terkadang membuat hati hilang rasa bahagia serta telinga ingin memiliki filter untuk tak mendengar ketika sipapun bertanya demikian.

Banyak cerita selama penantian menunggu malaikat kecil kami. Tentu mereka di luar sana pun demikian, dengan cerita-cerita yang berbeda. Tapi, ada satu nilai penting yang aku dan suami pelajari selama dua tahun masa penantian. Dari sekian drama yang tak mudah di lewati aku menyadari bahwa disampig diri ini masih perlu banyak belajar sabar, kami sesungguhnya belum siap menjadi orang tua bagi titipan Allah yang kelak akan hadir.

Kenapa begitu?, aku dengan basic Pendidikan Anak Usia Dini, sedikit tau mengenai bagaimana cara mendidik dan membesarkan seorang anak. Apa yang harus dan tidah boleh kita lakukan sebagai orang tua, menjadi materi yang tidak asing ku dengar ketika menempuh pendidikan. Saat menikah aku merasa siap menjadi seorang ibu dengan apa yang sebelumnya aku pelajari.

Tapi bagi Allah tidak demikian, banyak yang aku belum ketahui tentang bagaimana sesungguhnya mendidik hamba Allah yang kelak memanggilku juga suami dengan sebutan Ayah dan Ibu. Apa yang secara teoritis aku pelajari, dari sisi realitas belum banyak aku lihat.   Tanpa aku sadari sebelumnya, selama masa penantian ini Allah benar-benar tunjukkan seberapa penting  yang aku pelajari untuk kemudian  di realisasikan pada anak sendiri nanti.

Melalui beberapa keluarga yang akhirnya menjadi panutanku dalam mendidik anak. Aku tau apa yang mungkin bisa di lakukan  lakukan agar memiliki anak yang berkualitas dari berbagai sisi, baik sosial, emosional, spiritual dan berkepribadian baik  serta berakhlakul karimah.

                Dari mereka aku menyadari bahwa Allah teramat baik dengan segala bentuk kesempatan untuk menjadi pribadi yang lebih baik, siap secara fisik, mental dan spiritual untuk tumbuh menjadi orang tua terbaik bagi anak-anakku kelak.

                Teman-teman di luar sana, jika Allah belum hadirkan malaikat kecil dalam rumah tangga kita, mari lihat betapa banyak sisi baik yang Allah tunjukkan selama masa penantian, dan kita akan semakin banyak mensyukuri setiap karunia-Nya.